
Dimas mengajak Bie dan Keenan ke sebuah kafe. Karena tadi mereka sempat menjadi tontonan.
Bie memilih duduk di seberang Keen. Barra ada dalam dekapannya. Bie masih tampak ketakutan jika Keen merebut anaknya.
"Kamu dan Bie tak akan bisa menyelesaikan masalah jika menganggap apa yang telah kalian lakukan itu telah benar."
"Aku bukan ingin membela diri. Semua yang terjadi karena keegoisan Bie. Seandainya ia tak hanya memikirkan dirinya saja, semua tak akan terjadi."
"Aku bukan membela, Bie. Kamu juga egois. Apa kamu tak pernah memposisikan diri kamu sebagai Bie. Coba kamu turunkan egomu sedikit dan dengar penjelasan kenapa Bie melakukan semua itu dengan hati yang tenang."
Bie mengambil susu formula dari dalam tas dan meminta segelas air hangat pada pelayan kafe. Ia membuatkan susu buat Barra dan memberikan pada Barra. Semua yang Bie lakukan diperhatikan Keenan dengan takjub. Tak pernah ia berpikir dengan usia yang sangat muda Bie mampu melakukan semua itu dengan sangat teliti.
Setelah susu habis tampak Barra mulai terlelap. Dimas mengambil alih menggendong Barra dan menidurkan dipelukannya.
Keenan tampak sedikit cemburu melihat keakraban Bie dan Dimas. Tampak Bie menarik nafasnya sebelum bicara.
"Maaf, Keen. Aku harus menyembunyikan kehadiran Barra selama ini. Aku tak mau orang tua Cath jadi membenciku jika mengetahui kebenaran ini."
"Itu alasanmu aja, Bie. Tak seharusnya kamu menyembunyikan ini dariku. Ini bukan masalah kecil. Ini mengenai hubungan darah."
"Kamu tak akan mengerti jika tak berada dalam posisi aku saat itu. Semua adik-adikku di panti bergantung pada keluarga Cath sampai detik ini. Mereka satu-satunya donatur tetap di panti. Apa aku tega membuat adik-adik di panti kelaparan setelah orang tua Cath mencabut sumbangannya jika tau semua ini," ucap Bie menahan air matanya.
"Kamu terakhir dari keluarga kaya. Tak pernah kamu merasakan kelaparan. Dulu sebelum ada donatur tetap, kami bekerja keras untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Kami harus berjualan dulu baru bisa makan setelah mendapat uang. Bagaimana aku bisa membuat adik-adik yang lain merasakan apa yang pernah aku alami. Anak-anak di panti selalu bertambah jumlahnya, sedangkan pendapatan Bunda hanya cukup memenuhi kebutuhan hidup seminggu. Setelah itu apakah aku harus melihat adik-adik menangis kelaparan karena udah tidak ada donatur!"
"Aku bisa membantu," gumam Keenan.
"Dengan apa? Menggunakan uang orang tuamu. Jika orang tuamu tau dan tak terima bagaimana? Jika itu uang pribadimu mungkin masih bisa aku terima. Sudahlah Keen, lupakan semua. Anggap saja tidak terjadi apa-apa antara kita. Kamu tetap menjalani kehidupanmu sebagai tunangan Cath. Aku dengan Barra."
"Aku tak bisa. Barra itu juga anakku. Kamu tak bisa memisahkan aku dan Barra."
"Lalu aku harus bagaimana? Apa yang kamu inginkan?" tanya Bie.
"Aku ingin bisa lebih dekat dengan Barra. Aku ingin ia mengenalku. Perlahan kedua orang tuaku akan aku beri tau tentang keberadaan Barra."
"Bagaimana jika orang tuamu tak bisa menerima Barra?
"Bie, aku janji akan belajar dengan baik agar cepat lulus. Setelah lulus, aku bisa bekerja. Jika orang tuaku tak bisa menerima kamu dan Barra, aku masih bisa biaya kebutuhan Barra jika telah memiliki pekerjaan. Saat ini aku juga akan bekerja sambil kuliah. Aku akan mengirim uang buat kebutuhan Barra."
"Maaf, aku pamit. Kalian bisa bicara berdua. Mungkin akan lebih terbuka jika tidak ada orang lain. Kamu bisa mengantar Bie pulang, kan? Jika kamu tak bisa, hubungi aja aku. Biar aku yang antar nanti," ucap Dimas.
"Dim ... maaf." Bie berkata lirih.
"Kenapa Lo harus minta maaf."
"Lo di sini aja. Gue nggak keberatan. Kenapa harus pulang."
"Bie, kalian berdua harus bicara agar tak ada lagi kesalahpahaman."
"Kamu jadi besok kembali ke Jakarta?"
"Nanti malam ke rumah?"
"Ya, aku masih mau main dengan Barra."
"Terima kasih."
"Ini saatnya Lo harus jujur, Bie. Pikirkan tentang kebahagiaan Lo dan Barra."
"Hati-hati," gumam Bie.
"Tentu." Dimas meletakkan tubuh mungil Barra kepangkuan Bie dan mengecupnya.
"Daddy pamit dulu. Jangan rewel, kasihan mami," gumam Dimas. Setelah itu Dimas berjalan perlahan meninggalkan Bie dan Keen.
Keenan melihat semua interaksi antara Bie dan Dimas tanpa kedip. Ia juga mendengar saat Dimas memanggil dirinya Daddy dengan Barra.
Setelah Dimas pergi, Keen pindah duduk ke samping Bie.
"Boleh aku menggendong Barra," ucap Keen.
"Tentu aja boleh."
"Kamu nggak takut aku bawa kabur Barra."
"Lakukanlah jika kamu ingin melihat mayatku," gumam Bie.
"Kamu bicara apa,Bie."
"Jika kamu merebut Barra dariku itu sama aja kamu membunuhku."
"Kamu dan Dimas makin akrab."
"Jangan memulai lagi Keen. Aku dan Dimas memang begitu sejak awal persahabatan kami."
"Sini aku gendong Barra." Keen mengambil Barra dari pangkuan Bie. Ia menatap wajah anaknya tanpa kedip.
Hari ini aku aku menjadi orang yang paling bahagia di dunia. Ternyata aku memiliki seorang putra. Putraku telah lahir dan terima kasih atas karunia Tuhan yang indah ini. Putra aku yang paling ganteng, semoga hari-harimu senantiasa membuatmu bahagia. Maafkan aku karena tidak bisa seperti papi teman-temanmu, tapi aku berjanji untuk memberimu segala yang terbaik yang bisa aku berikan.
Bersambung
*********************
Apakah yang akan Keenan lakukan setelah melihat putranya? Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.
Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.