
Cath dan Mami berjalan tergesa di lorong rumah sakit menuju ruang IGD. Mereka dapat kabar jika Papi mengalami kecelakaan.
Sampai di depan ruangan IGD mami menemui dokter dan bertanya kabar Papi. Salah satu Dokter yang ada mengatakan jika Papi sedang ditangani dokter.
Mami dan Cath menunggu di luar ruangan dengan gelisah. Tak sabar menanti kabar mengenai Papi.
Di rumah kontrakan Bie sedang bercanda dengan Keen dan Barra. Putranya itu makin aktif. Ia udah mulai merangkak dan naik ke tubuh Keen.
"Anak Papi makin pintar, dan makin ganteng aja." Keen mengecup seluruh bagian di wajah putranya.
"Sayang, aku mandi dulu. Kamu bisa bermain dengan Barra,kan?"
"Pergilah. Barra biar bermain denganku."
Bie pergi mandi. Sekitar setengah jam Bie udah selesai mandi dan berpakaian. Ia naik ke atas tempat tidur dan bergabung dengan Keen dan Barra.
"Bie, saat kamu mandi tadi mami menghubungi aku."
"Kenapa ...."
"Mami mengatakan jika ...."
"Apa ...."
"Papinya Cath mengalami kecelakaan dan saat ini sedang kritis."
"Kamu nggak salah dengar, Sayang."
"Nggak, Bie. Mami dan Papi saat ini menuju rumah sakit."
"Di rumah sakit mana?" tanya Bie kuatir. Ia tak jadi membaringkan tubuh.
"Apa kita bisa melihatnya ke sana."
"Tentu aja. Apa kamu siap bertemu Cath."
"Keen, aku tak pernah marah dan benci dengan Cath. Jika aku menjaga jarak selama ini hanya untuk memberi waktu bagi kami untuk saling introspeksi diri. Semua kesalah pahamam yang terjadi juga karena aku. Seandainya aku berterus terang dari awal, tak mungkin semua ini akan terjadi."
"Aku salut denganmu, Bie. Nggak pernah dendam dengan siapapun. Tapi jika kamu datang itu berarti kamu juga bertemu Maminya Cath. Apa kamu juga telah siap bertemu."
"Nggak apa,Keen. Aku siap menerima apapun itu. Walau nanti mami Cath akan marah atau benci denganku."
"Mami akan mengirimkan supir untuk menjemput jika kita akan pergi. Aku hubungi mami dulu ya."
Keen menghubungi orang tuanya, meminta dikirimkan supir dan mobil. Supir yang biasa mengantar kemana mami pergi.
Satu setengah jam supir yang mami kirim telah sampai. Keen dan Bie berangkat menuju rumah sakit tempat Papi Cath dirawat.
Sore harinya barulah, Keen dan Bie sampai di rumah sakit. Mereka makan terlebih dahulu sebelum menuju rumah sakit.
Bie mengambil kursi roda untuk membantu Keen. Setelah Keen duduk, Bie meletakkan Barra di atas pelukannya.
Bie mendorong kursi roda menuju ruang tempat Papi Cath di rawat. Tampak mami dan Cath yang menangis sambil berpelukan.
Di bangku lain tampak Mami dan Papi duduk bersama. Papi tersenyum melihat Bie yang mendorong kursi roda yang diduduki Keen.
Bie membawa Keen menuju tempat Papi dan Mami. Ia menyalami dan mencium tangan kedua orang tua Keen.
Setelah itu Bie pamit ingin ke tempat Mami dan Cath berada.
"Selamat sore, Tante," ucap Bie. Mami dan Cath memandangi Bie kaget.
Bie mengulurkan tangannya, Mami menyambut. Bie lalu menciumnya. Setelah itu Bie mengulurkan tangan pada Cath, tapi sahabatnya itu tak menyambut. Bie tetap tersenyum walau Cath tek menerima uluran tangannya.
"Bagaimana keadaan Om, Tante."
"Kenapa Om, Tante," ucap Bie. Ia berlutut di depan Mami sambil menggenggam tangannya.
"Dokter kesulitan mencari donor darah buat Om. Golongan darahnya langka. Om masih membutuhkan dua kantong darah lagi." Mami Cath menangis.
"Tante yang sabar, aku yakin Om akan selamat dan baik-baik saja. Apa aku boleh tau golongan darah Om?"
"A-," ucap Mami dengan lirih.
"Golongan darah aku A-, Tante," ujar Bie
"Bie, kamu nggak salah?"
"Nggak, Tante. Saat aku akan lahiran, aku diminta periksa golongan darah. Agar nanti saat aku membutuhkan donor darah akan lebih gampang mencarinya."
"Bie, Alhamdulillah. Apa kamu bersedia mendonorkan darahmu untuk Om," ucap Mami antusias.
"Tentu saja. Berapapun yang dibutuhkan, akan aku donorkan."
"Terima kasih, Bie." Mami Cath memeluk tubuhnya.
Golongan darah A- dapat melakukan transfusi ke golongan darah A-, A+, AB-, dan AB+. Namun, golongan darah yang tersebar sekitar 1,99 persen dari populasi dunia ini hanya bisa menerima transfusi dari golongan darah A- dan O-. Memang, seseorang dengan jenis darah ini tidak dapat mendonorkan darah dan plasmanya ke sembarang orang, tetapi darah A sangat berharga sebagai donor trombosit universal dan A- platelet dapat diberikan pada semua golongan darah. (sumber: google).
Mami berdiri dari duduknya, begitu juga Bie. "Bie, Tante temui Dokter dulu. Tante akan mengabari jika kamu akan mendonorkan darah buat Om."
"Iya, Tante. Aku juga mau menemui Keen. Aku akan mengatakan pada Keen jika aku akan mendonorkan darah buat Om."
"Baiklah," ujar Mami Cath. Wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu bergegas mencari dokter.
Bie menghampiri Keen, Mami dan Papinya. Barra berada dalam pelukan Mami.
"Keen, aku akan mendonorkan darah buat Papi Cath. Kebetulan golongan darah aku sama."
"Golongan darah kamu A-, Bie?" tanya Mami.
"Iya, Mi."
"Itu golongan darah yang cukup langka. Kenapa kalian bisa sama golongan darahnya?" ucap Papi Keen bersuara.
"Iya, Bie. Kenapa golongan darah kamu dan Papi Cath bisa sama. Bukankah golongan darah A- itu sangat langka."
"Itu hanya kebetulan saja. Makanya aku ingin mendonorkan darahku. Papi Cath sangat membutuhkan."
"Apa itu tidak berbahaya nantinya, Bie. Golongan darah A- itu sangat langka," ujar Mami kuatir.
"Aku yakin nggak apa-apa,Mi. Bukankah saat ini aku sehat."
"Aku takut!" ucap Keen.
"Yakinkan Sayang, nggak akan terjadi apa-ap. Doakan aja aku selalu sehat."
"Setelah ini kamu harus jaga kesehatan. Aku baru tau jika golongan darahmu adalah A-, golongan darah yang langka di indonesia."
"Aku pasti akan jaga kesehatan untuk kamu dan Barra. Jangan kuatir. Aku ikhlas menolong, semoga bisa membantu Papi Cath."
Mami datang bersama seorang Dokter menemui Bie. Dokter itu meminta Bie masuk ke satu ruangan buat pemeriksaan, apakah bisa Bie mendonorkan darahnya.
Bersambung.
****************
Apakah Bie bisa mendonorkan darahnya? Apa hubungan Bie dan Papi Cath? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih. ❤❤❤❤❤❤❤