Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 25. Kepergian Dimas



Keen berjalan meninggalkan Cath seorang diri. Ia berlari menyusul Bie.


"Bie, aku mau bicara." Mendengar suara Keen, Bie berdiri.


"Tak ada yang perlu diomongkan lagi, Keen. Masuklah, jangan membuat aku makin bermasalah dengan Cath."


"Dim, aku minta waktu sebentar. Aku perlu bicara dengan Bie."


"Tak perlu, Dim. Gue rasa tak ada yang perlu diomongkan. Kita pergi saja." Bie menarik tangan Dimas untuk berjalan meninggalkan Keen.


"Bie, aku tau kamu sangat membenciku. Maafkan aku. Tapi semua itu bukan mauku. Aku melakukan ini juga demi kamu. Bukankah ini yang kamu inginkan. Hanya satu yang perlu kamu ingat, Bie. Sampai kapanpun kamu tetap menempati hati ini."


Bie berjalan tanpa menoleh ke belakang. Tanpa mereka bertiga tau, Cath mendengar dan melihat semua yang terjadi.


Jadi benar dugaanku selama ini. Keen dan Bie memiliki hubungan. Apakah mereka berhubungan setelah Keen dan aku pacaran atau sebelumnya mereka udah pacaran. Kenapa Bie tak jujur jika memang Keenan pacarnya? Kapanpun mereka jadian, semua tak akan bisa diubah. Keen dan aku telah bertunangan, Keen itu milikku.


Bie memandangi hotel itu dengan seksama sebelum mobil Dimas berjalan.


Bie memegang perutnya. Air matanya kembali mengalir.


Di hotel ini kamu mulai tumbuh dalam rahimku dan di sini juga kisahku harus berakhir. Maafkan aku yang harus menyembunyikan darah dagingmu. Ini semua demi kebahagiaan sahabatku. Aku tak ingin mengatakan kebenaran ini, aku takut semuanya tak berjalan sesuai rencanaku.


Sampai di depan panti sebelum keluar dari mobil Dimas, Bie memegang tangannya.


"Terima kasih untuk semua yang pernah Lo lakukan untuk gue selama ini. Jika gue tak bisa membalas semua kebaikan Lo, semoga Tuhan membalasnya dengan selalu melindungi Lo. Semoga Lo selalu bahagia dan tercapai semua keinginan Lo."


Bie memeluk Dimas dan air matanya kembali tumpah.


"Bie, Lo membuat gue tambah parno."


"Gue menyayangi Lo. Gue udah menganggap Lo seperti saudara sendiri."


"Bie, ada apa ini?" ucap Dimas melepaskan pelukan Bie. Dimas memegang kedua bahu Bie dan menatap gadis itu.


"Katakan Bie. Apa yang Lo sembunyikan."


"Dim ...." Bie kembali memeluk Dimas dan menangis terisak.


"Ternyata gue tak setegar yang Lo kira. Dada ini sesak. Rasanya gue tak bisa bernafas saat melihat Keen dan Cath bertunangan." Dimas memeluk Bie erat.


"Menangislah, Bie." Bie makin terisak dalam pelukan Dimas.


"Tak salah menangis dan mengeluarkan air mata, jika itu bisa menenangkan hati.Menangislah jika Lo ingin menangis, karena air mata adalah doa di saat tak mampu berbicara.Ketika air mata Lo jatuh, yakinlah Tuhan sedang merangkai senyum Lo, lihat saja nanti. Kebahagiaan sedang menanti Lo setelah ini. Ini mungkin tangisan terakhir Lo."


Baju Dimas telah basah karena air mata Bie yang tumpah dari matanya sejak setengah jam yang lalu.


Saat ini Bie udah mulai tampak tenang. Ia melepaskan pelukan Dimas.


"Terima kasih, Dim. Maaf baju Lo jadi basah."


"Nggak apa. Setelah ini Lo harus melupakan semuanya. Mulai lembaran baru. Buat apa Lo tangisin Keen atau Cath. Belum tentu juga mereka memikirkan Lo."


"Dim, hati-hati. Jangan lupa jaga kesehatan. Sarapan dulu, karena gue udah tak bisa buatkan sarapan buat Lo."


"Gue pasti akan selalu merindukan sarapan dari Lo."


"Jam berapa besok Lo berangkat?"


"Jam sepuluh pagi. Lo antar gue,kan?"


"Tentu saja."


"Gue jemput Lo."


"Jangan ngebut," ucap Bie sebelum membuka pintu mobil dan keluar. Bie melambaikan tangannya hingga mobil Dimas menghilang.


..........


Keesokan harinya Dimas menjemput Bie jam delapan pagi.


"Cepat banget jepitnya, gue belum mandi," ujar Bie dengan Dimas yang muncul saat ia masih menyapu panti.


"Sembarangan Lo, gue tetap wangi walau belum mandi. Lo datang cepat mau numpang sarapan,kan?"


"Tau aja."


"Untung masih ada. Gue tau Lo pasti mau sarapan di sini. Gue ambilin dulu." Bie masuk ke dapur panti. Padahal sarapan di panti hanya nasi goreng kampung yang sangat sederhana, tapi Dimas selalu saja ingin sarapan di panti.


Bie memberikan sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat. Bie lalu pamit mandi sementara Dimas menyantap makanannya.


Setelah sarapan dan Bie telah siap, Dimas pamit dengan Bunda. Mereka menuju bandara.


"Lo agak kurusan sekarang Bie," gumam Dimas.


"Masa sih, padahal makan gue tambah banyak," ucap Bie berbohong. Sudah satu minggu selera makan Bie berkurang dan ia juga kurang tidur. Tiap malam ia selalu memikirkan masa depan anak yang ada dalam kandungannya.


Sampai di bandara, pesawat yang ditumpangi Dimas akan berangkat. Mereka telat karena tadi tetjadi kemacetan.


"Kedua orang tua Lo udah di Jakarta,"ucap Bie.


"Ya, kebetulan ada yang harus mereka kerjakan di sana. Gue harus berangkat lagi. Jika ada sesuatu hubungi Gue secepatnya. Jangan pernah menangis lagi. Air mata Lo terlalu mahal untuk di buang percuma."


"Hati-hati, Dim! Ingat kata Dillan, jangan rindu. Rindu itu berat. Biar gue aja," ucap Bie tersenyum. Tapi air matanya tetap tumpah walau bibirnya tersenyum.


"Aku pasti akan merindukan Lo walaupun itu berat." Dimas menghapus air mata di pipi Bie dengan jarinya.


"Udah gue bilang, jangan menangis." Dimas mengacak rambut Bie dan membawa kepala Bie ke dalam dadanya.


"Hidup ini terlalu indah untuk Lo tangisi. Tersenyumlah." Kembali Bie tak bisa menahan air matanya, tangisannya tumpah kembali.


Setelah tangis Bie berhenti, Dimas melepaskan pelukannya. Ia menyelipkan amplop ketangan Bie.


"Apa ini, Dim? Aku tak bisa menerimanya. Lo udah banyak membantu gue selama ini."


"Gue hanya bisa memberi ini. Gue harap Lo mau menerimanya. Simpan untuk kebutuhan kuliah. Pasti nanti banyak yang harus Lo beli. Gue akan marah jika Lo menolak."


"Dimas ...." ucap Bie, air matanya kembali tumpah.


"Gue pamit. Setiap hari gue akan menghubungi Lo. Jangan bosan," ujar Dimas.


"Gue tak akan bosan."


Dimas kembali mengacak rambut Bie sebelum melangkah pergi. Bie melepas kepergian Dimas hingga sahabatnya itu hilang dari pandangan.


Bie pulang di antar supir Dimas. Sampai di panti ia kembali menyusun semua barangnya. Besok ia dan Bunda akan berangkat ke kampung kelahiran Bunda. Tempat ia akan menjalankan hari, memulai hidup baru bersama buah hati yang ada dalam kandungannya.


Bersambung.


***********************


Apakah Keenan akan menemui Bie sebelum ia pergi untuk melanjutkan kuliah keluar negeri?. Nantikan terus kelanjutan novel ini.


Sesuai janji mama pada bab 22, mama akan memberikan Pulsa senilai 20k bagi 5 orang yang komentarnya terbaik.


Dan menurut mama inilah 5 orang dengan komentar terbaiknya.


1. Naf


2. Imas Perwati


3. Siti Zuriah


4. Nena Anwar


5. Erlangga Dwi.


Bagi namanya yang ada diatas, follow maaf ya. Nanti mama akan Follback. Biar bisa saling menyapa. Terima Kasih ❤❤❤❤


Bagi yang belum beruntung, nanti akan ada lagi hadiahnya. Lope Lope sekebon buat semuanya. ❤😍💜❤😍💜