
Aku dulu berpikir bahwa hal terburuk dalam hidup adalah berakhir sendirian. Tapi ternyata bukan, hal terburuk dalam hidup adalah berakhir dengan orang-orang yang membuatmu merasa sendirian.Jika seseorang ingin menjadi bagian dari hidupmu, mereka akan berusaha untuk berada di dalamnya. Jangan repot-repot menyediakan ruang di hatimu untuk seseorang yang tidak berusaha untuk tetap tinggal di dalamnya. (BEVERLY)
..............................
Tiga bulan telah berlalu, saat ini kandungan Bie telah memasuki empat bulan. Perutnya sudah mulai membuncit. Di tempat Bie tinggal saat ini, ia juga menjadi guru pembantu.
Bie juga membuka les bagi anak-anak kelas satu hingga kelas tiga sekolah dasar. Ia tidak meminta bayaran. Tapi orang tua murid tetap memberikan semampu mereka.
Tampaknya saat ini Bie sudah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya. Bie sudah mulai tampak tersenyum kembali.
Keenan yang kuliah di luar negeri bersama Cath, tinggal berdekatan. Mereka satu apartemen hanya beda unit.
Setiap hari Keen dan Cath pergi kuliah bareng. Tapi sikap Keen pada Cath masih sama, ia masih juga dingin.
Cath membuka apartemen Keen. Cath heran karena seharusnya Keen udah menjemputnya ke kampus. Tapi sejak tadi menunggu cowok itu belum juga muncul.
Ia berjalan mengitari apartemen Keen. Cath bisa masuk karena ia juga tahu kode password masuknya.
Cath tidak bisa juga menemui cowok itu. Ia melihat pintu kamar Keen yang terbuka sedikit. Cath membukanya perlahan dan masuk ke kamar.
Walau ia sering keluar masuk apartemen Keen tapi baru kali ini ia melihat isi kamar cowok itu. Cath melihat buku yang berserakan di meja belajar. Ia mendekat dan tampak ada foto Bie, Keenan serta Dimas. Foto mereka bertiga yang terbingkai.
"Bie ... aku tak tahu apa keputusanku untuk tetap menjalin hubungan dengan Keen ini benar atau salah? Yang aku tau saat ini kami telah terikat. Dan aku yang lebih berhak. Bukan salahku merebut Keen, karena kamu yang tidak pernah jujur dengan hubungan kalian," gumam Cath sambil memegang foto itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan dikamarku," teriak Keen melihat Cath yang berada di kamar.
Cath yang kaget spontan menjatuhkan foto itu hingga bingkainya pecah. Keen yang melihat itu tampak marah.
Ia mencengkeram tangan Cath kuat hingga gadis itu meringis.
"Keen, lepaskan! Sakit ...." ucap Cath sambil meringis.
"Siapa yang mengizinkan kamu masuk."
"Aku ini tunanganmu."
"Tunangan ... bukan istri. Jangan melonjak, Cath. Walau aku mengizinkan kamu keluar masuk apartemen ini, bukan berarti kamu bebas juga masuk kamarku," teriak Keen. Ia melepaskan cengkeraman tangannya dan memungut foto yang jatuh itu.
"Hanya karena aku tak sengaja pecahkan bingkai foto itu kamu membentak dan menyakitiku. Aku bisa ganti berapapun kamu mau," teriak Cath tak kalah kerasnya.
"Ini bukan soal bingkai, Cath. Tapi tata krama. Apa orang tuamu tak pernah mengajari sopan santun?. Seharusnya walau kita telah bertunangan bukan berarti kita bebas melakukan apapun. Kita ini berasal dari Timur. Baru tiga bulan tinggal di sini kamu sudah lupa jika seorang gadis tak baik berduaan di kamar seorang pria."
"Jangan bawa-bawa orang tuaku. Kamu marah karena foto Bie aku jatuhkan. Apa kamu masih mencintai Bie?"
"Apa maksud pertanyaanmu? Apa kamu tau aku mencintai, Bie?" tanya Keen.
"Aku tak perlu menjawabnya." Cath berjalan ingin keluar dari kamar itu. Tapi Keen menahan dengan memegang pergelangan tangannya.
"Apa kamu tau jika aku dan Bie saling mencintai?" tanya Keen lagi.
"Jika emang aku tau, kenapa?"
"Berarti dugaan aku selama ini tak salah. Kamu itu bukanlah sahabat yang baik."
"Kenapa? Karena aku masih berhubungan denganmu setelah tau kamu dan Bie saling mencintai. Apa ini salahku? Kamu dan Bie yang tak pernah jujur. Kenapa jadi aku yang kalian salahkan. Mungkin jika kamu atau Bie berkata jujur, aku bisa berpikir untuk menerimamu. Tapi sekarang semua sudah terlanjur. Semua orang tau kamu itu tunanganku. Dan aku tak mungkin mundur lagi."
"Walau kamu tau jika aku masih mencintai Bie."
"Ya ...."
"Aku tak pernah mencintaimu."
"Apapun yang kamu katakan. Aku sudah tak peduli. Aku sudah terlanjur melangkah, tak mungkin mundur lagi."
Keen melepaskan pegangan tangan Cath dan memintanya keluar. Keen juga mengatakan hari ini tak ingin ke kampus.
Cath keluar dari apartemen Keen dengan hati kesel dan marah. Sampai di apartemen miliknya, ia langsung melempar tasnya.
Cath mengambil vas bunga dan melemparnya ke dinding, hingga vas bunga itu hancur lebur.
"Kamu akan membayarnya Keen. Aku tak akan pernah melepaskan kamu. Jika aku tak pernah mendapatkan cintamu, maka Bie juga tak akan pernah mendapatkan dirimu. Aku akan membalasmu." Cath berteriak keras di apartemennya.
.................
Dimas yang heran teleponnya tak pernah Bie angkat, meliburkan diri dari kuliahnya. Ia datang ke panti ingin menemui Bie.
"Selamat pagi bunda," ucap Dimas. Bunda yang sedang membersihkan taman kaget melihat Dimas yang telah berada dihadapannya.
"Dimas ...."
"Bie ada Bunda."
"Bie ...."
"Aku pengin ketemu. Kenapa ponselnya tidak aktif sejak aku pergi? Pasti ponsel Bie rusak. Aku telah membelinya." Dimas memperlihatkan ponsel yang dibelinya kemarin.
"Nak Dimas duduklah dulu. Bunda buatkan minum."
"Nggak perlu ,Bunda. Aku bisa mengambilnya ssndiri jika haus. Bie masih di dapur Bunda."
"Bie tidak ada,Dim."
"Kemana, Bunda? Bukankah ini hari minggu. Tak mungkin kuliah."
"Bie udah tidak tinggal di panti."
"Apa maksud Bunda?"
"Bie pergi dari panti sehari setelah kamu meninggalkan kota ini."
Maafkan bunda, Dim. Ini harus bunda lakukan atas permintaan Bie.
"Kemana, Bunda," ucap Dimas mulai tampak cemas.
"Bunda nggak tau. Ia pergi meninggalkan panti tanpa kabar."
Dimas tampak lemas, ia terduduk di kursi dekat taman. Tempat dimana dulu ia sering menghabiskan sarapan.
"Aku udah curiga mendengar kata-kata Bie yang tidak biasa saat kami bertemu terakhir kalinya. Apakah ini ada hubungan dengan Keen?" gumam Dimas.
"Bunda nggak tau, Dim. Entah apa alasan dan penyebab Bie pergi."
"Baiklah, Bunda. Aku akan mencoba mencari Bie. Kenapa Bunda tak pernah mengatakan semua ini?"
"Bunda tak ingin kamu kepikiran."
"Jika aku ada kabar, akan aku beri tau Bunda. Sekarang aku harus pamit. Bunda tenang saja. Aku yakin Bie baik-baik saja. Ia baik dan kuat. Pasti Tuhan akan selalu melindunginya."
Dimas pamit dengan menyalami bunda. Ia menuju rumah seseorang.
Bersambung.
**********************
Apakah Dimas dapat menemui Bie? Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.