
Keenan mendekatkan wajahnya ke bibir Bie dan mengecupnya. Ia memegang tengkuk Bie agar ciuman mereka lebih intens. Keenan lalu menggigit bibir Bie berharap gadis itu membuka mulutnya.
Bie mendorong tubuh Keen sekuat tenaga. Tapi tenaganya kalah kuat dengan tenaga Keenan. Saat Keenan ingin mencium bibir Bie lebih dalam ia merasakan air mata yang jatuh dari wajah Bie.
Keenan melepaskan pegangan tangannya di tekuk Bie dan melepaskan kukungannya. Bie menampar pipi Keenan.
"Aku benci kamu, Keen. Kamu jahat." Bie berlari keluar dari Villa menuju taman belakang. Ia menangis terisak.
Keen memegang pipinya yang bekas tamparan Bie. Sakitnya tak seberapa. Tapi Keen merasakan dadanya yang sesak mendengar ucapan Bie tadi.
Astaga, apa yang aku lakukan. Pasti Bie saat ini sangat membenciku.
Keenan duduk di sofa sambil menarik rambutnya frustrasi.
Saat Bie keluar dan berlari dari Villa, Dimas melihatnya dan mengikuti. Ia melihat Bie yang menangis.
"Bie, Lo kenapa." Bie memeluk Dimas dan tangisnya makin pecah.
"Apa ada yang menyakiti Lo?"
"Dim, gue benci Keen. Gue benci ...." ucap Bie makin terisak.
"Sekarang Lo tenang. Setelah tenang baru Lo ceritakan apa yang terjadi."
Bie duduk kembali di bangku taman diikuti Dimas. Setelah tenang Dimas kembali bertanya.
"Apa yang Keen lakukan? Kenapa Lo menangis?"
Bie menarik nafasnya. Ia ingat jika Dimas dan Keen pernah bertengkar. Bie tak ingin itu terulang.
"Nggak ada,Dim. Gue hanya tiba-tiba ingat Keen."
"Lo nggak pandai berbohong, Bie. Tak mungkin jika hanya karena Lo ingat Keen, Lo jadi menangis."
"Gue ingat saat jalan berdua Keen."
"Baiklah, jika emang itu benar. Sekarang Lo makan dulu. Nanti Lo sakit."
"Gue tak lapar, Dim."
"Lo tetap harus makan. Gue bawa makannya kesini ya. Lo tunggu sebentar, gue ambilkan."
Dimas membawakan makanan ke tempat Bie duduk. Ia memaksa Bie menghabiskan makanannya. Setelah makan Bie minta di antar hingga kamar. Ia ingin istirahat.
..................
Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan menuju pantai. Semua berlarian di pantai dan ada juga yang mandi.
Bie duduk sendirian di bawah pohon yang rindang sambil minum air kelapa muda.
Keenan yang melihat Bie sendirian menghampirinya.
"Maafkan aku, Bie," ucap Keenan.
"Kamu keterlaluan, Kamu bukan saja menyakiti badanku tapi juga hatiku."
"Aku khilaf. Aku terbawa suasana. Semua karena aku belum bisa melupakan kamu."
"Aku mengaku salah. Aku akan menerima semuanya."
"Pergilah ... teman-teman memandangi kita. Aku nggak mau Cath salah paham. Hubunganku dengannya sedang nggak baik, nanti bisa membuat Cath makin membenciku."
"Aku akan pergi, tapi sekali lagi aku minta maaf."
Keenan berjalan meninggalkannya Bie. Baru saja Keenan pergi, Cath telah berdiri dihadapan Bie.
"Ada hubungan apa antara Lo dan Keenan?" ucap Cath Ketus.
Bie memandang Cath sambil tersenyum. Ia tak mau ikutan terbawa emosi. Bagaimanapun Cath banyak berjasa dengannya.
"Keenan dan aku berteman, Lo tau itu Cath."
"Gue ingin Lo jujur. Telinga Gue udah panas setiap hari mendengar gosip tentang Lo, Gue dan Keenan."
"Lo hanya mendengar gosip. Emang gosip apa yang telah Lo dengar?"
"Jangan pura-pura lugu, Bie. Gue minta kejujuran Lo. Ada hubungan apa antara Lo dan Keenan?"
"Tidak ada hubungan apa-apa selain persahabatan."
"Oke lah. Kalau Lo tak mau jujur. Tapi jika gue tau ada hubungan apa Lo dan Keenan dibelakang gue, nggak akan pernah gue memaafkan Lo. Karena telah mengambil Keenan dari Gue. Jika ternyata Lo bermain api dengan Keenan, Gue tak akan pernah mau mengenal Lo lagi seumur hidup." Cath pergi meninggalkan Bie setelah mengatakan kata-kata yang menyakiti hati Bie.
Setelah Cath berlalu, Bie berdiri dan berjalan menuju bis. Di dalam bis tangisnya pecah. Bie memegang dadanya yang terasa sesak. Tanpa ia tau Keenan mengikuti dan melihat semua itu.
Maafkan aku, Bie. Aku akan menjauhi kamu mulai hari ini, bukan karena aku tak mencintai kamu lagi. Tapi karena aku tak mau melihat kamu menangis lagi. Maafkan aku, Bie. Akan aku buat Cath membayar semuanya karena telah membuat air matamu jatuh.
Saat Keenan akan berbalik, ia melihat Dimas yang menuju bis.
"Kenapa Lo ada di sini? Sekarang Lo puas? Lo bukan saja telah membuat hati Bie sakit karena cinta Lo tapi juga telah membuat Bie sakit karena telah dibenci oleh sahabatnya sendiri. Apa Lo tak pernah mengerti, Keen. Bie itu juga sangat terluka karena harus mengambil keputusan melepaskan cinta Lo demi sahabatnya. Di sini bukan hanya Lo yang terluka, tapi Bie juga. Cobalah mengerti sedikit aja dengan keputusan yang Bie ambil. Jika Lo tak mencintai Cath, jangan Lo terima cintanya. Jangan Lo permainkan Cath, karena apa yang Lo lakukan pada Cath, yang akan terluka bukan Cath tapi Bie. Lo lihat sendiri, Bie tak bisa berteman lagi. Ia harus menyendiri dan menangis. Lo nggak tau seberapa beban hidup yang dihadapi Bie. Di panti ia juga harus memikirkan adik-adiknya. Cath yang biasanya memberikan bantuan, saat ini tak lagi memberikan santunan buat adik-adiknya. Bie harus bekerja untuk menyambung hidup adik-adiknya."
"Aku bisa membantu."
"Jangan selalu berpikir semua akan selesai dengan uang. Oke, Lo bisa memberi santunan seperti biasa Cath beri. Saat Cath tau semua itu, Apa yang akan Cath pikirkan. Ia pasti kan bertambah marah dengan Bie. Untuk saat ini aku rasa jalan terbaik, jauhi Bie. Dan jika Lo emang berniat membantunya, masukan aja ke rekening Bie atau Bunda tanpa Bie tau."
"Seperti yang Lo lakukan selama ini."
"Apa maksud Lo?"
"Lo membantu Bie dalam diam selama ini."
"Itu tak perlu Lo tau."
"Baiklah, gue akan menjauhi Bie. Semua itu bukan karena gue udah tak mencintainya lagi tapi karena gue rasa ini yang terbaik buat kami. Tolong jaga, Bie."
Keenan pergi meninggalkan Dimas yang masih berdiri terpaku di sana. Setelah Keenan menghilang barulah Dimas masuk ke bis.
Bersambung
***********************
Terima kasih buat semua pembaca setia novel Love is Rain. Lope-lope sekebon buat semuanya 😍😍😍😍❤❤❤❤💜💜💜💜