Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 34. Barra Malik Hawwas



Saat ini Bie telah dibersihkan dan diganti pakaiannya. Ia juga telah di pindah ke ruang rawat inap. Bunda mengambilkan nasi serta lauk yang diberikan perawat. Bunda menyuapi Bie makan.


"Banyak makannya, bair ASI mu melimpah."


"Bunda ...."


"Ya, kenapa?"


"Maaf ... karena aku merepotkan Bunda."


"Jangan bicara begitu. Kamu anak Bunda, tak ada yang merasa direpotkan. Kamu udah menghubungi Dimas?"


"Sebelum ke klinik, udah aku kirim pesan. Tapi sebentar lagi aku hubungi kembali, Bunda."


"Dimas itu sangat baik. Kenapa kamu tak berusaha membuka hatimu buat anak itu," gumam Bunda sambil tetap menyuapi Bie.


"Karena terlalu baik itulah makanya aku tak bisa menerimanya, Bunda. Terlalu jahat aku jika melibatkan Dimas ke dalam masalah ini. Pasti orang tuanya akan sedih karena berpikir Dimas yang telah menghamili aku. Dan juga pasti orang tuanya juga tidak akan bisa menerima aku sepenuhnya. Aku dianggap telah merusak masa depan anaknya. Dimas bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku tak pantas mendampingi pria sebaik Dimas."


"Tapi cinta yang tulus itu menerima semua kelebihan dan kekurangan pasangan. Jika Dimas bisa menerima kamu apa adanya, kenapa tak mencoba menjalani hidup dengan dirinya."


"Pernikahan itu bukan coba-coba,Bunda. Aku tak mau nanti setelah aku menikah dengan Dimas ternyata orang tua dan keluarga yang lain tak ada yang bisa menerima aku karena status aku dan juga anakku. Walaupun awalnya Dimas mengakui ini anaknya pada seluruh keluarga tapi sesuatu yang disembunyikan pasti pada akhirnya akan tercium juga. Pasti seluruh keluarga Dimas akan tambah membenciku dan bayiku jika tau itu bukan darah dagingnya."


"Kenapa pemikiran Bunda tak sampai ke sana? Kamu udah makin dewasa saja,Nak. Emang akan menjadi boomerang nantinya jika keluarga Dimas tau siapa ayah kandung anak kamu."


"Bunda, aku hubungi Dimas dulu."


"Baiklah, Bunda mau gendong bayimu dulu."


Bie mengaktifkan kembali ponselnya. Tampak banyak sekali panggilan tak terjawab dari Dimas. Bie mencoba beberapa kali menghubunginya. Saat ini jam telah menunjukkan pukul sebelas malam.


Saat Bie ingin meletakkan ponselnya, Dimas menghubungi kembali.


"Halo, Dim."


"Lo Gimana? Udah lahiran?"


"Alhamdulillah udah, Dim. Bayiku sehat."


"Alhamdulillah. Maaf gue tak bisa dampingi. Gue rencananya baru lusa akan berangkat. Perkiraan Lo lahiran seminggu lagi, kan?"


"Iya, Dim."


"Gue besok berangkat. Lo mau dibelikan apa?


"Nggak ada. Gue hanya berharap Lo selamat sampai di sini."


"Gue pasti akan selamat. Gue nggak sabar ingin bertemu dengan jagoan Lo."


"Hati-hati, Dim. Gue tutup dulu ya. Udah malam. Selamat tidur, moga mimpi indah."


Bie mematikan sambungan ponselnya.


.................


Siang harinya Bie yang sedang menyusukan bayinya dikagetkan dengan kedatangan Dimas. Bie cepat-cepat menutup dadanya.


"Maaf ...." ucap Dimas dan membalikkan badannya.


Baby boy telah selesai menyusu dan Bie mengancingkan kembali bajunya.


"Udah selesai. Lo bisa balikkan badan lagi," ujar Bie. Dimas membalikkan badan dan berjalan mendekati Bie.


"Kok Lo nggak ngabari sih kalau udah sampai? Tau dari mana gue di sini?"


"Boleh gue gendong baby nya Lo."


"Bisa Lo gendong baby."


"Jangan salah, gue udah sering gendong baby. Anak-anaknya sepupu gue."


Dimas mendekati Bie dan langsung takjub melihat ketampanan anaknya Bie.



"Anak Lo ganteng banget. Keenan junior nih," ucap Dimas spontan. Setelah itu ia baru sadar dan menatap Bie.


"Maaf, bukannya aku bermaksud mengingatkan kamu dengan Keen."


"Nggak apa, Dim. Emang bapaknya Keen. Aku tak bisa membantah itu. Jika wajahnya mirip Keen wajar saja."


"Sekali lagi aku minta maaf. Memang tak bisa dipungkiri jika ini darah dagingnya. Tapi mungkin aku tak tepat mengatakan yang tadi. Siapa namanya, Bie?" Dimas mengalihkan pembicaraan.


"Barra Malik Hawwas, panggilan Barra. Yang artinya api semangat yang berkobar, dan raja yang berkuasa."


"Hai, Barra. Selamat datang di dunia. Apa panggilan buatku yang bagus, Bie? Daddy, papi atau papa."


"Lo bukan papanya. Nanti cewek-cewek menjauh, di kira Lo udah nikah karena Barra memanggil Daddy."


"Nggak apa, Bie. Aku senang di panggil itu."


"Ada-ada aja deh Lo."


"Gue serius Bie. Barra panggil Daddy aja?"


"Lo serius? Tak malu di panggil Daddy?"


"Tak,lah Bie."


"Terserah Lo aja. Kalau Lo mau dipanggil Daddy, ya silakan aja."


"Sini gue gendong Barra, Bie." Dimas mengambil Barra dari pangkuan Bie dsn menggendongnya, Dimas mengecup pipinya Barra dengan gemes.


.........


Di apartemen Keen, pria itu tampak telah sedikit lebih baik dari kemarin. Ia menuju dapur ingin makan malam.


Keen melihat ada makanan di meja. Semua itu Cath yang menyediakan.


Keen mengambil makanan itu dan memakannya perlahan.


"Kenapa aku dari kemarin selalu teringat, Bie. Apa kabar Bie saat ini. Apa aku coba hubungi Dimas aja. Tapi Dimas tak pernah mau menerima telepon dariku," gumam Keen pada diri sendiri.


Ibarat bulan yang tak pernah meninggalkan bumi, bintang pun tak pernah meninggalkan langit, begitu juga diriku yang tidak akan perhah meninggalkan kenanganmu. Lantas harus bagaimana diriku melupakanmu? Setiap nada adalah suaramu dan setiap hempasan angin adalah detak jantungmu. Aku menyadari tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menyadari bahwa dia sangat berarti bagiku, tetapi aku tak berarti apa-apa baginya.


Bersambung.


*********************


Apakah Keenan akan mengetahui jika ia memiliki anak dari Bie?. Nantikan terus kelanjutan novel ini.


Sementara menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama ini.