Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 33. Bie lahiran ....



Dokter langsung memeriksa Keen. Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter menjadi heran. Karena tidak ada tanda-tanda penyakit dari dalam tubuh Keen. Mereka hanya memberikan vitamin. Keen diperbolehkan pulang.


Saat sampai di apartemen, Cath membantu Keen duduk di sofa.


"Masih sakit?" tanya Cath.


"Sakitnya hilang timbul. Terkadang perut dan pinggangku terasa nyeri. Terkadang perlahan sakitnya hilang."


"Aku pesan makanan dulu."


"Kamu pergilah ke kampus. Aku bisa sendiri."


"Mana mungkin aku membiarkan kamu seorang diri dalam keadaan sakit begini."


"Kamu dengar, kan? Dokter mengatakan jika aku nggak apa-apa. Kamu bisa tinggalkan aku sendiri."


"Kenapa kamu mengusirku? Seharusnya kamu senang jika ada yang menemani. Bukankah orang yang sedang sakit membutuhkan. dorongan semangat."


"Aku ingin istirahat di kamar. Buat apa kamu menunggu sendiri di sini?"


"Istirahatlah! Aku tetap menunggu di sini. Jika kamu membutuhkan sesuatu, bisa panggil aku."


Cath membantu Keenan masuk ke kamar. Sebelum menutup pintu Keenan berpesan "Jika kamu bosan, bisa kembali ke apartemenmu."


Keenan menutup pintu kamarnya dan naik ke ranjang. Tangannya yang sebelah kanan diletakkan di dahi. Sambil memandangi langit kamar ia bergumam seorang diri.


Kenapa tiba-tiba aku sangat merindukan Bie. Apakah ia masih mengingatku. Rasanya ingin sekali mendengar suara manjanya. Tapi telah beberapa aku mencoba menghubungi Bie, masih sama ... nomor ponselku telah di blokir.


...........


Sementara itu ditempat lain, Bie meringis merasakan sakit di pinggang dan perutnya yang keram.


Bunda sudah datang sejak dua hari yang lalu dan saat ini sedang berada di dapur. Bie berjalan perlahan mendekati Bunda.


"Selamat malam, Bunda."


"Selamat malam, Nak. Kamu udah lapar ya? Sini duduk! Bunda telah memasak lauk kesukaan kamu,"


"Bunda, perutku terasa kram dan pinggang serta pinggul sakit," gumam Bie.


"Sejak kapan kamu merasakan itu."


"Dari setengah jam tadi."


"Kalau gitu kamu makan dulu. Biar Bunda siapkan barang-barang yang akan kamu bawa."


"Maksud Bunda?"


"Sepertinya kamu akan melahirkan. Coba kamu makan dulu, biar ada tenaga."


"Bunda makan jugalah."


"Bunda nanti juga bisa."


Bunda masuk ke kamar dan mengambil tas yang telah disiapkan dari kemarin. Baju buat bayi dan Bie sehabis lahiran. Bunda masih ingat saat dia dulu akan lahiran.


Bunda pernah melahirkan dua kali, tapi kedua anaknya telah meninggal saat kecelakaan bersama suaminya. Sejak saat itu Bunda membuka yayasan panti asuhan.


Bunda ingin memiliki anak banyak. Anak pertama yang dulu di asuh Bunda telah menikah.


Bunda membawa tas itu keluar, tampak Bie makan dengan terpaksa. Mungkin karena menahan rasa sakit.


"Bunda, makan dulu."


"Udah, Bunda."


"Bunda carikan taksi dulu. Kamu tunggu di ruang tamu."


"Baik,Bunda," ucap Bie pelan. Pinggangnya makin terasa sakit. Bie menahan air matanya agar tak tumpah. Ia tak mau Bunda cemas.


Bie teringat Dimas. Ia lalu mengirimkan pesan buat Dimas.


Dimas, saat ini aku dan Bunda akan ke klinik Bidan. Aku mungkin akan lahiran.


Hanya itu yang Bie tulis sebagai pesan. Ia udah tak sanggup mengetik pesan panjang.


Dimas yang membaca pesan Bie langsung mencari tiket untuk keberangkatan pagi. Ia mencoba menghubungi Bie tapi ponselnya tidak aktif karena Bie telah matikan tadi.


Taksi yang dicarikan Bunda telah menunggu, Bie dibantu Bunda berjalan masuk ke dalam taksi itu.


Sampai di klinik salah satu Bidan di daerah itu, Bie langsung diperiksa. Bidan itu mengatakan jika saat ini Bie telah pembukaan tujuh.


Bie akan segera melahirkan. Bunda mengelus punggungnya Bie hingga ke pinggang. Ia meminta Bie tidur miring untuk membantu percepatan bayi menuju jalan rahim.


Bie akhirnya menangis karena sakit yang dirasakannya. Bunda mencoba menguatkan.


"Tahan sedikit lagi, Nak. Saat kamu mendengar suara tangisan bayimu semua rasa sakit itu akan hilang. Berganti dengan rasa bahagia."


"Bunda, tapi sakitnya makin terasa. Aku nggak kuat, Bunda."


"Jangan berkata begitu, Nak. Kamu harus kuat."


"Bunda, apa begini rasanya setiap ibu melahirkan anaknya."


"Tentu saja. Kamu pikirkan saja keselamatan kamu dan bayimu."


Bidan masuk dan memeriksa sekali lagi. Ternyata pembukaan telah lengkap. Bidan mengajarkan Bie cara mengejan yang benar. Jangan mengangkat pinggul karena akan mengakibatkan robek pada jalan rahim. Cukup tubuh bagian atas yang diangkat saat mengejan.


Gunakan seluruh tenagamu saat mengejan. Namun pada waktu tertentu, kamu mungkin akan diminta untuk mengejan dengan lembut, untuk menghindari robeknya perineum dan dinding v*gin* .Jangan menegangkan wajah saat mengejan.Jangan lupa untuk beristirahat di antara waktu kontraksi untuk menambah energimu.


Saat mengejan, kamu juga bisa memakai otot-otot yang kamu gunakan ketika buang air besar. Otot-otot tersebut sangat kuat dan efektif untuk mendorong bayi keluar. Kamu tidak perlu takut akan mengeluarkan tinja saat memakai otot-otot ini, karena hal tersebut biasa terjadi dalam persalinan.


Bie akhirnya mulai mengejan pada hitungan ke tiga. Ia memegang tangan Bunda kuat sebagai penguat.


"Ayo Bie sedikit lagi," ucap Bidan.


Bie berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaganya kembali. Setelah beberapa detik bidan meminta Bie kembali mengejan.


Kali ini Bie menarik nafas panjang sebelum mengulang mengejan. Dan akhirnya terdengar suara tangisan bayi. Keringat bercucuran di dahi Bie. Ia menangis mendengar suara tangisan bayinya.


"Selamat ibu Bie. Bayinya sehat dan sangat tampan." Bidan membawa bayi itu kata dada Bie. Tangisannya makin pecah melihat bayi mungil yang ada didadanya. Bie mengusap kepala bayinya.


Sayang, akhirnya kamu lahir ke dunia ini. Wajahmu sangat mirip dengan Keenan ayahmu.


Bersambung


*******************


Akhirnya Bie melahirkan dengan selamat. Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.


Sambil menunggu novel ini update, mampir ya ke novel teman mama ini.