
Beverly bangun ketika jam telah menunjukan pukul sembilan pagi. Ia masih merasakan kepalanya pusing.
Udah satu minggu ini kepalaku pusing, ada apa ya? Apa sebaiknya aku periksa aja ke dokter sebelum berangkat kerja.
Bie mandi dan bersiap-siap akan ke kampus. Saat melewati meja belajar ,matanya memandang ke kalender.
Bie mengambil kalender meja itu dan melihat tanggal yang melingkar.
Seharusnya aku sudah datang bulan satu minggu lalu. Tapi hingga hari ini aku belum menstruasi. Apakah aku ...? Oh, tak mungkin. Tuhan ... jangan berikan aku cobaan yangblebih berat lagi.
Bie terduduk di kursi. Badannya terasa lemas. Ia menarik rambutnya frustrasi. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.
Tuhan ... bukannya aku tak mensyukuri anugerahmu jika memang ada nyawa lain ditubuhku, tapi waktunya belum tepat. Aku tau apa yang kulakukan dengan Keenan suatu dosa besar. Tapi jangan hukum aku dengan cobaan yang berat ini.
Bie memegang perutnya yang masih rata. Ia menghapus air matanya. Menemui Bunda dan pamit berangkat ke kampus.
Beverly naik bus menuju sebuah apotek. Dengan menggunakan topi untuk menutupi wajahnya, Bie membeli tespek.
Setelah tespek Bie beli, ia masukan ke dalam tas. Bie kembali naik bis menuju perguruan tinggi.
Bie menuju ke ruang admin dan mengurus beasiswa untuk masuk perguruan tinggi itu.
Setelah semua selesai Bie urus, ia menuju kamar mandi. Dari tadi Bie udah menahan rasa mual yang menyerangnya.
Bie menumpahkan semua isi perutnya di kamar mandi kampus. Badannya terasa lemas. Bie bersandar di dinding kamar mandi menahan tubuhnya yang terasa lemas.
Bie mengambil tespek yang ia beli dan melakukan tes. Dengan Bie melihat hasil dari tespek. Saat ia melihat dua garis merah Bie langsung terduduk dilantai, tangisnya pecah. Bie tak peduli bajunya basah karena duduk di lantai.
Aku berharap semuanya menghilang saat aku sendiri. Aku berharap diriku sendiri juga ikut menghilang. Rasanya sangat menyakitkan diabaikan di dunia ini. Bukan hanya keluarga yang meninggalkanku, tapi kini masa depanpun seakan ingin pergi dariku. Seberapa banyak lagi luka yang harus kudapatkan, berapa banyak lagi rintangan yang harus kulewati, berapa banyak air mata lagi yang harus kukeluarkan hingga aku dapat tersenyum lagi? Kapan semua ini akan berlalu. Mungkin, aku memang ditakdirkan untuk tidak memiliki hidup yang bahagia. Rasa sakit mungkin adalah hal yang akan selalu kukenal. Tuhan, rasanya aku ingin menyerah.
Setelah puas menangis Bie keluar dari kamar mandi. Banyak pasang mata menatap ia dengan keheranan karena bajunya yang basah. Tapi Bie tak peduli ia terus melangkah meninggalkan kampus.
Ketika Bie sedang menunggu bus, ada satu mobil yang berhenti dihadapannya. Orang yang berada di dalam mobil membuka kaca mobil dan memanggil nama Bie.
"Bie ...." panggil wanita yang ada dalam mobil sambil melambaikan tangannya.
"Tante ...." ujar Bie. Ternyata itu mobil ibunya Catherine.
"Masuk sini, tante udah kangen." Mami nya Catherine mengajak Bie masuk ke dalam mobil.
"Aku pulang dengan bus aja,Tante."
"Tante kangen dengan kamu. Apa kamu nggak kangen Tante. Ayolah masuk. Ada yang ingin Tante katakan."
Dengan terpaksa Bie masuk ke mobil maminya Catherine. Mami membawa Bie mampir ke salah satu kafe.
Setelah pesanan mereka datang, mami Catherine mulai bicara.
"Kenapa baju kamu basah, Bie."
"Jatuh kamar mandi tadi, Tante."
"Udah lama kamu nggak main ke rumah. Sekitar dua bulan lebih. Cath bilang kamu sibuk belajar. Tante salut deh sama kamu."
"Tapi saat Cath tunangan nanti kamu harus hadir, awas aja kalau tak datang."
"Cath mau tunangan, Tante." Bie kaget mendengar sahabatnya akan bertunangan.
"Iya, tiga hari lagi. Apa Bie tak pernah ngomong ini denganmu. Apa kalian ada masalah?"
"Nggak ada, Tante. Mungkin Cath hanya ingin memberikan aku kejutan. Tunangan dengan siapa, Tante?"
"Dengan Keenan, kamu kenal? Satu sekolahan juga sama kalian," ucap mami Bie.
Mendengar nama Keenan disebut mami Catherine , Bie makin kaget. Tubuhnya terasa makin lemas. Hampir saja ia menjatuhkan gelas yang sedang ia pegang.
"Keenan ...." ujar Bie.
"Iya, Keenan. Apa kamu juga tak tau jika selama ini mereka pacaran?"
"Tau, Tante. Cuma aku tak mengira Cath tunangan secepat ini."
"Papi Keenan dan Papi Cath itu bersahabat dan rekan kerja. Setelah tau anak-anak berpacaran mereka sepakat menjodohkan. Tunangan dipercepat karena Keen dan Cath akan sama-sama kuliah di luar negeri. Biar Tante lebih tenang melepaskan mereka berdua setelah ada ikatan."
"Oh, Keen dan Cath mau kuliah di luar negeri?"
"Kamu dan Cath benar tidak ada masalah. Biasanya semua yang Cath lakukan pasti kamu orang pertama yang tau."
"Aku dua bulan ini sibuk belajar, Tante. Mungkin Cath tidak ingin mengganggunya. Cath juga pasti ingin memberikan kejutan. Seperti saat merayakan ulang tahun dulu. Aku diminta datang aja. Nggak taunya ada pesta."
"Tante senang banget Cath tunangan dengan Keenan. Anak itu baik. Kalau saja umur mereka udah cukup dewasa, pasti langsung Tante nikahlah."
"Aku hanya dapat mendoakan semoga semua berjalan lancar dan keinginan Tante terkabul."
"Aamiin. Kalau di sekolah Keenan itu anak yang baik juga, kan. Tidak ada buat masalah."
"Baik, Tante."
"Awal Cath mengenalkan Keen sebagai pacarku Tante langsung suka. Anaknya sopan. Tante pasti akan senang banget saat mereka nanti telah menikah."
Bie tersenyum mendengar ucapan maminya Cath. Setelah makan, mami mau mengantar Bie pulang tapi ia menolak. Mami memberikan dua amplop. Satu buat Bie dan satu untuk panti.
Saat mobil mami Cath udah menghilang, Bie yang duduk di tepi jalan bawah pohon menangis terisak.
Ya Tuhan, aku tak mungkin memberi tahu kehamilanku ini. Mami sangat bahagia Keen dan Cath akan tunangan. Apa aku harus pergi jauh dengan bayi dalam kandunganku ini.
Bie memanggil taksi dan meminta mengantar ke panti. Sampai di panti, Bie langsung masuk kamar. Tangisnya kembali pecah. Bunda menjadi heran melihat Bie yang masuk kamar tergesa tanpa menegurnya. Saat Bunda akan mengetuk pintu, ia mendengar suara tangisan Bie.
Kenapa Bie menangis? Apa yang terjadi? Tidak pernah anak itu pulang tanpa menegur dan menyalamiku sebelum masuk kamar.
Bersambung
Apa yang akan Bie lakukan? Apakah Bie akan mengatakan dengan jujur tentang kehamilannya dengan Bunda? Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.
Berikan komentar terbaikmu. Mama akan memberikan Pulsa senilai 20 k bagi 5 orang, yang memberikan komentar terbaik.