
Keenan menidurkan Bie di tepi. Dan memukul pipi Bie pelan untuk menyadarkan gadis itu.
Keenan mendekatkan wajahnya ingin memberikan nafas buatan, belum sempat ia melakukannya, Bie membuka matanya.
(Ha... ha... pasti berharap Keenan memberikan nafas buatan, seperti di drama-drama.)
Beverly tampak pucat. Nafasnya memburu karena kaget, hampir saja ia tenggelam jika saja Keenan tak menolongnya.
"Kalau nggak bisa renang, jangan mandi," ucap Keenan ketus.
Bie hanya memandangi wajah Keen, tanpa berkedip.
"Udah sana, ganti bajumu. Segera istirahat. Wajahmu pucat banget," gumam Keenan.
"Terima kasih, Keen." Bie berucap lirih.
Dimas berjalan tergesa setelah mendengar dari salah satu temannya jika Bie hampir tenggelam.
Beberapa teman yang tadinya mengelilingi Bie satu persatu kembali berenang. Cath berdiri di samping Keenan.
"Kenapa Lo bisa hampir tenggelam. Apa Lo ingin bisa berenang seperti gue.Mau saingi gue. Belajar dulu, jangan main renang aja. Untung ada Keenan. Kalau nggak ...." ucap Cath.
"Kamu ngomong apa.Bukan Bie sengaja berenang ke tengah. Jelas tadi Bie ada yang dorong," ucap Keenan.
"Gue kedorong teman," ucap Bie pelan.
Dimas berlari menghampiri Bie. "Lo nggak apa-apa, Bie" ucap Dimas cemas.
"Nggak apa. Keenan menolong gue tadi."
"Lo tau Bie nggak bisa renang, tapi Lo tinggalin sendiri. Kalau ada apa-apa Lo mau tanggung jawab. Cari masalah aja," omel Cath dan berjalan meninggalkan Bie dan Dimas.
"Maaf, Bie. Gue tadi dipanggil guru. Ayo,ke kamar aja. Istirahat," gumam Dimas.
"Keen, terima kasih," ucap Dimas.
Dimas membantu Bie berdiri dan memeluk bahunya berjalan menuju kamar villa tak jauh dari tempat pemandian.
Keenan memandangi hingga Dimas dan Bie hilang dari pandangannya.
Sampai di depan kamar, Dimas melepaskan pelukannya. Ia meminta untuk Bie istirahat saja.
Sementara itu di sudut pemandian Keen dan Cath sedang marahan.
"Kamu yang minta aku jauhin Bie. Tapi kamu sendiri selalu saja ingin dekat dengannya. Sebenarnya mau kamu apa, Keen?" ucap Cath dengan air mata yang hampir tumpah.
"Kenapa kamu jadi marah? Seharusnya kamu senang karena aku telah membantu sahabat kamu."
"Tapi kamu membuat semua teman jadi menggosipkan kita. Semua mengatakan jika kamu itu mencintai Bie. Mereka menganggap aku merebut kamu dari Bie. Aku malu,Keen." Tangis Cath pecah akhirnya.
"Aku mohon, Keen. Jauhi Bie seperti aku menjauhi dirinya. Bie sudah ada Dimas yang selalu melindunginya. Dari awal kami bersahabat, Bie selalu saja jadi prioritas utama Dimas. Ia akan melakukan apa saja buat Bie. Padahal aku sahabat pertamanya. Tapi semenjak mengenal Bie, ia menjadikan aku nomor dua. Jangan buat aku makin iri dengan Bie karena pacarku juga lebih perhatian padanya dari aku kekasihnya."
"Kenapa kamu bisa iri dengan sahabat sendiri."
"Aku ini manusia biasa yang punya rasa iri dan marah."
"Sudahlah, kamu lihat semua orang jadi memperhatikan kita. Tapi kamu nggak mau jadi bahan gosip." Setelah mengatakan itu Keenan berjalan meninggalkan Cath seorang diri.
Kamu keterlaluan Keen, kamu yang meminta aku menjauhi Bie, tapi kamu sendiri makin mendekati dirinya. Apakah gosip selama ini benar, jika kamu dan Bie saling mencintai. Bie mengalah untukku.
Cath tak meneruskan mandinya, ia berjalan menuju Villa. Sampai di depan pintu kamar Bie, Cath berhenti. Ia akan mengetuk pintu ,tapi diurungkan mendengar suara teman-teman yang lain mendekat.
.................
Malam harinya semua siswa berkumpul di halaman villa. Ada organ tunggal disediakan buat yang mau bernyanyi. Banyak yang menyumbangkan suaranya untuk menghibur teman lainnya.
Bie duduk menyendiri di sudut sambil menikmati lagu yang dibawakan teman-temannya. Dimas masih sibuk mengatur konsumsi buat makan malam mereka.
Bie kaget saat melihat Keenan maju ke panggung kecil yang disediakan. Ia meminta gitar dan mulai memetiknya.
Keenan menyanyikan lagu Judika yang berjudul Aku yang tersakiti.
Pernahkah kau merasa
Jarak antara kita?
Kini s'makin terasa
Setelah kau kenal dia
Aku tiada percaya
Teganya kau putuskan
Indahnya cinta kita
Yang tak ingin kuakhiri
Kau pergi
Tinggalkanku
Tak pernahkah kau sadari?
Akulah yang kau sakiti
Oh, Tuhan, tolonglah aku
Hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia
Oh
Wo-uh-yeah
Memang takkan mudah
Bagiku 'tuk lupakan s'galanya
Aku pergi untuk dia
Tak pernahkah kau sadari?
Akulah yang kau sakiti
Kau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari
Oh, Tuhan, tolonglah aku
Hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia (walau tak) walau tak bersama dia
Oh-oh, dia
Oh, Tuhan, tolonglah aku
Hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia, oh-uh
Keenan tampak sangat menghayati lagu yang ia nyanyikan. Matanya berkaca menahan air mata agar tak tumpah.
Teman-teman yang lain langsung memandangi Bie. Mata mereka seperti ingin mengatakan jika lagu yang dinyanyikan Keenan itu buat dirinya.
Merasa risi diperhatikan temannya Bie berdiri dari duduknya dan menuju taman belakang Villa.
Keenan melihat Bie pergi memandangi langkah kaki gadis itu.
Setelah menyanyikan satu lagu, Keenan kembali duduk di dekat Cath. Gadis itu tampaknya masih marah.
"Aku mau ke kamar. Kepala ku sakit," gumam Keen.
"Kamu belum makan. Sebentar lagi kita akan makan malam." Cath bicara tanpa memandangi Keenan.
"Nanti aja makannya. Aku tidur sebentar hanya untuk menghilangkan sakit kepala."
"Pergilah, nanti aku bangunkan satu jam lagi."
"Terima kasih."
Keenan berjalan menuju Villa. Ia bukannya menuju kamar, tapi mengelilingi Villa seperti mencari seseorang.
kemana Bie pergi? Tadi aku melihat ia ke arah Villa. Tapi mengapa tak ada.
Baru saja Keenan akan melangkah keluar, ia mendengar suara langkah kaki. Keenan bersembunyi di balik pintu. Ia mengintip siapa yang masuk.
Keenan melihat Bie yang berjalan perlahan masuk dan duduk di sofa yang tersedia. Bie mengeluarkan ponselnya. Tampak ia memandangi layar ponsel dengan serius.
Keenan keluar dari persembunyiannya di balik pintu. Ia mendatangi Bie dan berdiri tepat dihadapan gadis itu.
"Bie ...." panggil Keenan pelan. Bie kaget mendengar suara Keenan dan menengadahkan kepalanya.
"Kamu ... kenapa di sini?
"Apa ada yang melarang aku di sini."
"Emang nggak ada. Tapi jika dilihat orang akan jadi salah paham."
"Semua teman juga sudah salah paham."
"Aku tak mau mereka makin salah paham, lebih baik aku pergi." Bie berdiri dan berjalan meninggalkan Keenan.
Belum sampai ke pintu, pergelangan tangan Bie di tarik Keen. Ia membawa Bie ke dalam pelukannya. Keenan mendorong tubuh Bie hingga membentur dinding.
"Keen, jangan macam-macam," ucap Bie gugup saat Keenan mengukung dirinya.
"Aku hanya ingin satu macam saja," bisik Keen.
Bie menjadi tambah gugup. Jantungnya berdetak cepat saat Keen mendekatkan wajahnya ke wajah Bie.
Bersambung.
******************
Apa yang akan dilakukan Keenan pada Bie? Nantikan kelanjutan novel ini. Terima kasih.