Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 42. Takdir Tuhan.



"Bie, menikahlah denganku."


Bie terdiam mendengar perkataan Keenan. Ia belum terpikirkan hingga ke sana.


"Kamu mau,kan Bie? Ini demi Barra. Jangan kamu korbankan Barra atas nama persahabatan."


"Apa yang akan aku katakan nanti saat Cath tau jika kita telah menikah."


"Bie, ada kalanya kita itu harus egois. Jika dulu kamu mengalah, karena tidak ada yang harus kamu pertahankan tapi saat ini kamu egois untuk Barra itu tak apa. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika Barra segalanya bagimu. Kenapa kamu tak membuang egomu. Hanya untuk membuktikan kamu itu sahabat yang setia dan baik jangan kamu korbankan kehidupan anakmu."


Sepuluh menit Bie masih saja diam. Melihat Bie yang belum juga menjawab, Keenan yang akhirnya buka suara.


"Apa kamu juga memikirkan Dimas."


"Apa ...."


"Kamu takut Dimas kecewa saat memutuskan menikah denganku."


"Keen, aku dan Dimas itu hanya bersahabat. Tak ada hubungan apa-apa. Kamu jangan memulai lagi."


"Tak akan ada murni persahabatan antara laki-laki dan wanita. Pasti salah satunya akan ada cinta. Tapi yang lebih sering itu biasanya laki-laki yang memiliki perasaan lebih. Karena mereka lebih sering memandang fisik. Aku rasa kamu juga nggak terlalu bodoh untuk menyadari jika Dimas itu memiliki perasaan yang lebih dari sahabat. Buktinya ia selalu ada untukmu."


Jika kita menikah, aku harus bagaimana? Apakah aku harus melayani kamu juga?"


"Tentu saja, sayang."


"Aku belum siap," gumam Bie.


Keen tersenyum dan menowel jidat Bie, membuat wanita itu manyun.


"Kenapa pikiran kamu ke sana. Aku aja tak terpikirkan ke sana. Bie, kamu belum menjawab lamaranku. Maukah kamu menikah denganku."


"Keen ... aku harus jawab apa?"


"Berarti kamu mau. Besok kita menikah. Aku akan mencari tau tempat untuk kita bisa menikah siri dulu."


"Akan aku tanyakan Dimas dulu."


"Kenapa harus bertanya dengan Dimas dulu? Apakah jika Dimas melarang, kamu tak akan menikah denganku."


"Bukan begitu, Keen. Saat aku terpuruk dan dalam keadaan jatuh, Dimas yang selalu ada untukku. Aku pergi dari panti, ia langsung menyewa detektif buat mencari keberadaan dimana aku. Saat aku memintanya pergi, dia masih terus disampingku. Tak peduli seberapa sering aku mengusirnya."


"Aku cemburu, Bie."


"Ya, aku cemburu melihat kamu dan Dimas begitu dekat. Ia juga berhasil merebut hati Barra. Dimas selalu tau dimana kamu berada. Aku ingin melakukan yang lebih dari Dimas pernah lakukan untukmu, berilah aku kesempatan. Akan aku buktikan jika aku pantas berada disampingmu."


Keen menangkup wajah Bie dengan kedua tangannya. Ia memandangi Bie dengan seksama.


"Kita akan hidup bertiga, aku pastikan tidak akan ada air mata lagi dipipimu. Pasangan yang terbaik itu pasangan yang saling memperjuangkan. Aku percaya ada kesempatan kedua dalam hidup dan sepertinya aku sedang memperjuangkannya, yaitu mendapatkan cintamu lagi," ucap Keen.


"Bagaimana dengan kedua orang tuamu."


"Orang tua aku mungkin belum setuju dengan hubungan ini, tapi itu bukan berarti aku berhenti memperjuangkan hubungan ini sampai mendapat restu mereka. Tunggu, Bie. Aku pastikan restu itu ada ditanganku. Aku mohon Bie, berjuanglah bersamaku demi anak kita Barra."


"Baiklah, demi Barra apapun akan aku lakukan. Tapi aku ada satu permintaan."


"Apa, Bie?"


"Putuskan pertunangan kamu dengan Cath secara baik-baik. Jangan kamu lukai hati Cath terlalu dalam. Bagaimanapun akulah penyebab semua lukanya Cath?"


"Kenapa begitu, Bie?"


"Jika saja aku tak meminta kamu menerima cintanya tentu tak akan ada luka."


"Kamu percaya takdir,kan Bie? Semua ini sudah menjadi takdir dari Tuhan. Kita hanya menjalankan saja skenario darinya. Apa yang memang ditakdirkan untukmu, pasti akan menjadi milikmu, bahkan jika itu berada di bawah dua gunung. Dan apa yang memang tidak ditakdirkan untukmu, tidak akan pernah menjadi milikmu bahkan jika itu berada tepat di antara dua bibirmu."


"Apa yang harus aku lakukan untuk pernikahan besok. Kenapa harus cepat?"


"Kamu hanya perlu siapkan dirimu aja. Besok aku jemput kamu." Keenan berdiri dan memegang bahu Bie dengan kedua tangannya. Ia mengecup puncak kepala Bie.


Setelah sekian detik mengecup kepala Bie, Keen kembali bersuara.


"Bie, dari semua manusia yang pernah mengetuk pintu hatimu itu, aku adalah pria paling beruntung yang akhirnya memilikimu.Tuhan begitu sempurna menciptakan seseorang seperti kamu, dan aku bersyukur bisa memilikimu.Terima kasih sudah memilihku untuk bersamamu, aku tahu aku sangatlah beruntung memilikimu."


Tanpa bisa Bie tahan, air matanya telah banjir membasahi pipi.


Bersambung


*******************


Bagaimana perasaan Dimas saat mendengar Bie dan Keenan akan menikah? Nantikan terus kelanjutan novel. Terima kasih. 😍😍😍😍


Sementara novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini