Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 58. Aku Akan Pergi.



Keen tersenyum mendengar ucapan Papinya. Ia telah yakin jika papi Cath memutuskan kerjasama karena telah mengetahui pernikahannya dan Bie.


"Jadi Papi udah tau semuanya!" jawab Keen dengan datar.


"Katakan yang jelas! Apa benar kamu telah menikah?" ucap papi dengan emosi.


"Ya, aku telah menikah dengan wanita yang aku cintai. Dari awal sudah aku katakan pada papi dan mami jika aku tak mencintai Cath."


Papi mengangkat tangannya dan menampar pipi Keen dengan keras. Mami kaget dan langsung berdiri menahan tangan papi yang ingin menampar Keen sekali lagi.


"Sudah, Pi. Bicarakan baik-baik," ucap Mami.


"Anak ini tak bisa dibilang dengan baik. Lihat saja apa yang telah ia lakukan. Uang saja masih minta dengan orang tua sudah berani menentang. Kamu beri makan apa anak istrimu?"


"Aku bisa bekerja. Aku tak akan mengharapkan uang dari Papi lagi."


"Kerja ...? Uang jajan aja masih minta, udah menikah. Siapa wanita yang telah memaksa kamu menikahinya?"


"Istriku tidak memiliki kedua orang tua, tinggal dipanti asuhanIa tak pernah memaksaku. Aku yang ingin menikahinya."


"Panti Asuhan? Apakah kau sudah tidak waras? Kau lebih memilih menikahi gadis yatim piatu dari Cath yang jelas asal usulnya."


"Kenapa? Aku mencintainya. Dia wanita baik."


"Jika memang dia wanita baik-baik, pasti tidak akan mau menikah tanpa restu. Papi tau wanita macam apa dia? Pastilah dia berharap akan dapat hidup senang karena menikah denganmu. Tapi perlu kamu tau, Papi tak akan pernah memberikan uang sepeserpun pada wanita seperti itu. Biar ia tau, mau hidup senang itu harus bekerja."


Keen berdiri dari duduknya. Wajahnya tampak memerah menahan semua amarah. Ia menaruk nafasnya, untuk mengontrol emosinya.


"Papi tak bisa menghina seseorang hanya karena status sosial. Belum tentu anak orang kaya seperti Cath itu memiliki pribadi baik. Wanita seperti Cath itu hanya bisa meminta saja. Keinginan harus dikabulkan, manja dan egois."


"Papi tak mau tau. Kau tinggal pilih, tetap menjadi anakku, atau wanita itu. Jika kau memilih aku, lupakan wanita itu."


"Maaf ... aku lebih memilih hidup bersama orang yang aku cintai. Aku juga mencintai papi dan mami, tapi kali ini aku tak bisa mengikuti keinginan kalian. Aku tidak sependapat. Mami, maafkan aku karena belum bisa menjadi anak yang membanggakan. Suatu saat nanti akan aku buktikan pada Papi dan Mami jika pilihanku tak salah. Jika memang Papi tidak bisa menerima pernikahanku, aku pamit."


Keen berjalan menuju kamarnya. Ia memasukan beberapa helai pakaian ke dalam tas. Ia mengambil salah satu kunci mobilnya. Mobil itu hadiah ulang tahun dari salah satu om nya.


Keen menghampiri Maminya, ia mencium dan mengecup pipi Mami.


"Maafkan Keen, Mi. Keen pamit."


"Biarkan aja dia pergi. Jangan ditahan. Kita lihat seberapa lama ia mampu bertahan tanpa bantuan orang tua."


"Akan aku buktikan aku bisa tanpa Papi," gumam Keen. "Maafkan aku yang tak bisa menurut apa yang Papi katakan." Keen mengulurkan tangannya untuk menyalami Papi. Tapi pria itu tak menyambutnya. Ia bahkan membuang wajahnya.


"Satu langkah kau meninggalkan rumah ini, Papi tak akan pernah mau menerima kau kembali lagi untuk selamanya. Jangan pernah kau injak lagi rumah ini. Pintu rumah ini tertutup selamanya untuk kehadiranmu."


"Baiklah, Pi. Jika itu mau Papi. Aku tak menginjak rumah ini lagi untuk selamanya. Mungkin Papi lebih rela kehilangan anak Papi dari perusahaan."


Keen melangkah pasti. Ia mendengar suara mami yang menangis memanggil namanya. Keen masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu telah lebih dari dua tahun tidak ia gunakan.


Keen keluar dari pekarangan rumah dengan perasaan tak menentu. Sebelum ia melajukan mobilnya, masih sempat ia memandangi kembali rumahnya.


Dengan kecepatan tinggi Keen mengendarai mobilnya. Di tengah perjalanan menuju rumah Bie, Keen merasakan sesuatu yang ganjal. Rem mobilnya tidak berfungsi. Keen tampak panik.


Dengan perlahan,ia ingin menepikan mobilnya. Tapi dari arah berlawanan ada truk yang melintas. Tanpa bisa dielakkan kecelakaan terjadi. Mobil Keen ringsek ketabrak truk.


Sementara itu Bie yang sedang memasak, merasakan sesuatu yang aneh. Ia kepikiran Keen, hingga tak sadar tangannya terluka saat memotong sayuran.


Bie memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Bie mengambil kotak obat dan mengobati jarinya yang terluka. Pikirannya masih kepada Keen.


Di tempat kejadian kecelakaan, Keen telah dibawa dengan ambulans menuju rumah sakit. Dalam ambulan Keen menyebut nama Bie dan Barra. Para pengguna jalan tampak ramai melingkari tempat itu.


Salah seorang petugas kepolisian memeriksa mobil untuk mencari keberadaan surat-suratnya,tapi tak ada. Petugas itu menemukan ponsel Keen. Ia mengecek nomor terakhir dan sering digunakan Keen. Terdapat nama Bie di sana. Petugas berusaha menghubungi Bie.


Bersambung


*********************


Apakah nyawa Keen dapat tertolong? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.


Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman-teman mama dibawah ini.