Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 76. Aunty Cath.



Keen mengantar Bie ke rumah orang tuanya. Ia ingin mengobrol dengan Cath. Belum puas rasanya Bie berbincang dengan sahabat yang sekarang menjadi kakaknya.


"Nanti pulang kerja aku jemput," ucap Keen. Saat ini Keen udah dapat bekerja. Keen dan Bie akan melanjutkan kuliah tahun depan saat ajaran baru dimulai kembali. Sementara itu Keen kerja di perusahaan Papinya.


"Kamu nggak mampir dulu."


"Udah jam delapan. Nanti karyawan yang lain pasti menggosipkan aku. Masa anak pemilik perusahaan tidak mencerminkan disiplin."


"Barra, cium Papi dulu." Bie mendekati wajah Barra.


"Sayang, main sama aunty dulu ya. Nanti papi jemput. Kita beli mainan pulang Papi kerja."


"Nggak usah, Keen. Mainan Barra udah banyak banget. Kedua Opa dan Omanya selalu aja belika mainan."


"Barra itu kesayangan seluruh keluarga. Kamu tau apa yang mami katakan padaku saat aku katakan mau mengantar kamu ke rumah mami ini."


"Apa, Sayang?" tanya Bie penasaran.


"Mami bilang, ia takut kamu memutuskan akan pindah ke sini. Mamiku egois, ya?"


"Sayang, mami kamu nggak egois. Aku senang mendengar ucapan mami itu. Berarti mami menyayangi aku dan Barra sepenuh hati sehingga timbul ketakutan pada dirinya kami akan meninggalkan dirinya dan pindah ke rumah Mamiku."


"Kamu selalu saja mencoba mengerti dengan semua yang dilakukan orang-orang terdekat. Nggak pernah kamu berpikir jelek dengan semua yang dilakukan dan diucapkan mereka. Itu yang membuat aku makin mencintai kamu."


"Papi, pagi-pagi gombal."


"Kamu mau ikut aku?"


"Nggaklah," ucap Bie.


"Kenapa masih terus di mobil?"


"Idih Papi mengusir kita,Nak."


"Tunggu, jangan keluar dulu."


"Mau apa lagi? tadi kami diusir."


"kamu belum memberikan Morning kias."


"Yeeee, dikira apa." Bie mengecup kedua pipi suaminya itu. Ia juga mengecup bibir Keen. Saat Keen ingin melakukan hal lebih, Bie cepat mendorong dada Keen.


"Jangan minta lebih, pasti bisa lama jadinya."


"Pelit banget Mami Barra, nih." Bie tertawa melihat ekspresi wajah Keen yang kesal. Ia keluar dari mobil dan melambaikan tangan pada suaminya. Setelah mobil Keen menghilang barulah Bie berjalan menuju pintu utama rumah orang tuanya.


Lama Bie berdiri depan pintu sebelum mwngetuknya. Tampak matanya berkaca menatap ke sekeliling rumah itu.


Tak pernah aku bayangkan jika ini ternyata rumah orang tuaku. Walau aku baru mengetahui kenyataan ini, tapi tak hentinya aku bersyukur atas semua yang terjadi dalam hidupku ini. Tuhan, banyak memberi apa yang tidak aku minta. Limpahan karunia-Nya padaku begitu banyak.


Bibi mengatakan jika Papi dan Mami ke kantor ada pertemuan di kantor.Sedangkan Cath msih tidur.


Bie langsung naik ke lantai atas menuju kamar Cath. Ia membuka pintu kamar Cath perlahan. Cath tidak pernah mengunci pintu kamarnya kecuali jika ia sedang merajuk.


Dengan langkah pelan Bie berjalan, takut membangunkan Cath. Sampai di tempat tidur Bie langsung meletakkan Barra di atas tubuh Cath membuat gadis itu kaget dan langsung terbangun.


Cath memeluk tubuh Barra dan mengecup seluruh bagian di wajah pinakannya itu. Bie melompat ke ranjang dan tidur di samping Cath.


"Aunty tak boleh tidur aja, Barra datang mau main."


"Main ke mana kita. Ke mal." Cath bicara dengan Barra, bocah cilik itu tertawa seolah mengerti ucapan Bie.


"Kita ke mal dan butik langganan kakak ya. Mau cari baju buat pesta kamu nanti."


"Ada yang istimewa nanti datang ya."


"Mana ada."


"Kakak masih mencintai Dimas."


"Sebesar apapun cintaku pada Dimas tak akan ada artinya karena Dimas tak pernah ada perasaan apa-apa pada kakak."


"Dari mana bisa tau jika Dimas tak mencintai kakak?"


"Aku pernah mengatakan di rumah sakit."


"Kapan?" tanya Bie. Cath menceritakan saat ia bertemu dengan Dimas di rumah sakit. Cath juga mengatakan tujuan awalnya untuk menjenguk Keen. Bie terdiam sesaat sebelum berkata lagi.


"Aku pasti akan sangat bahagia jika kak Cath dan Dimas menjadi pasangan. Dimas itu pria yang baik, ia selalu ada saat aku kesulitan."


Bie menceritakan semua yang Dimas lakukan saat awal kehamilan hingga Barra lahir. Cath mendengar dengan seksama.


"Semua itu karena Dimas mencintai kamu."


"Dimas itu hanya menganggap aku sahabat, kak."


"Kamu ini bodoh atau apa?" ucap Cath sambil menowel kepala Bie adiknya.


"Kenapa bodoh?"


"Karena tak pernah peka akan perasaan Dimas. Dari awal kita bersahabat, Dimas itu mencintaimu. Perlakuan Dimas padamu DNA gadis lain itu beda. Dengan aku aja Dimas juga bersikap beda. Jika dengan kamu ia berlaku istimewa."


Bie mendengar semua fakta yang diucapkan Cath. Ia tak pernah berpikir jika Dimas mencintai dirinya.


Bersambung