
Setelah melaksanakan salat subuh, Bie keluar dari kamar menuju dapur. Ia ingin memasak sarapan untuk Keen. Setelah sarapan selesai disiapkan Bie kembali ke kamar untuk membangunkan Keen. Bie akan membantu Ken mandi sebelum ia sarapan. Bie duduk di tepi ranjang.
"Sayang, bangun!" ucap Bie sambil mengguncang bahu Ken pelan. Keen membuka matanya perlahan dan tersenyum melihat Bie.
"Sayang, mandi dulu ya? Udah pagi. Aku bantu kamu mandi," ucap Bie sambil tersenyum.
"Sayang, kamu pasti capek mengurus aku dan Barra," ujar Keen.
"Apa aku pernah mengatakan capek?"
"Kamu nggak akan pernah mengeluh. Walaupun capek tetap dijalani. Aku pria paling beruntung karena bisa memiliki kamu." Keen meraih tangan Bie dan mengecupnya.
"Jangan ngomong gitu. Nanti aku bisa besar kepala di puji kamu terus," ujar Bie tersenyum.
"Aku bukan memuji, tapi emang itu kenyataan yang ada."
Keen memegang tengkuk Bie dan menariknya pelan agar wanita itu menunduk. Bie yang paham apa maunya Keen, langsung mengecup bibir pria itu. Tapi Keen tak mau melepaskan. Ia ingin Bie lebih lama mengecup bibirnya.
"Morning kiss," ucap Keen.
Bie membantu Keen bangun setelah pria melepaskan ciumannya. Keen berjalan dibantu tongkat penyangga dan Bie.
Di kamar mandi, Bie mengisi ember dengan air. Ia meminta Keen duduk dikursi plastik yang sengaja Bie beli kemarin untuk Keen mandi.
Bie mulai menanggalkan satu persatu kain yang melekat ditubuhnya Keen. Ia menyisakan pakaian dalam saja. Bie memandikan Keen dengan telaten. Air mata Keen tumpah melihat Bie.
"Kenapa menangis, Sayang. Aku menyakiti kamu?" ucap Bie melihat Keen menangis.
"Maafkan, aku."
"Kenapa kamu minta maaf. Seharusnya ku yang minta maaf jika menyakiti kamu."
"Nggak, kamu nggak menyakiti aku. Aku hanya merasa diri ini tak berguna. Hanya membuat kamu susah."
"Harus berapa kali aku katakan. Kamu nggak pernah menyusahkan." Bie mengecup pucuk kepala suaminya itu. Keen memeluk pinggang Bie yang berdiri dihadapannya.
Kepalanya disandarkan di perut Bie. Tangannya masuk ke dalam kemeja yang Bie pakai. Keen mengelus punggung Bie.
"Kenapa ... pengin?" tanya Bie. Keen makin merapatkan kepalanya di perut Bie.
Bie melingkarkan tangannya di leher Keen. Bie tau saat ini pasti Keen pengin melakukan hubungan, tapi tak mungkin karena kakinya yng masih sakit. Setelah beberapa saat barulah Keen melepaskan pelukannya. Bie kembali memandikan Keen.
Selesai mandi, Keen dibantu Bie memakai bajunya. Baru aja Keen berpakaian, Barra terbangun. Bie menggendong Barra dan menyusuinya.
"Kamu seperti mengurus dua anak, Bie."
"Udah, jangan ngomong itu lagi. Aku bahagia melakukan semua ini." Keen memegang jari Barra. Setelah Barra selesai disusui, Bie meletakkan kembali di tempat tidur.
Bie membiarkan Barra bermain dengan Keen, ia mengambil sarapan buat Keen. Bie menyuapi Keen sambil suaminya itu bermain bersama Barra. Saat menyuapi Keen, Bie mendengar suara ketukan di pintu.
"Sayang, aku buka pintu dulu sebentar." Bie berjalan keluar kamar dan membuka pintu rumah. Tampak Mami berdiri dengan dua tentangan di tangan.
"Mami ... silakan masuk." Mami masuk dan meletakkan kantong yang dibawanya di atas meja. Mami meneliti semua isi rumah kontrakan Bie.
"Maaf, Mi. Hanya gubuk," ucap Bie melihat mami yang memandangi seluruh isi rumahnya.
"Nyaman, kok. Pantas Keen betah," ujar mami.
"Mami mau minum apa? Udah sarapan? Aku tadi buat sarapan nasi goreng."
"Boleh, mami memang belum sarapan."
"Nggak usah. Mami udah beri uang buat sarapannya. Sebentar lagi juga pergi."
"Aku bilang Keen dulu kalau ada Mami."
"Di mana Keen?"
"Ada di kamar, bermain dengan Barra. Tadi aku sedang suapin Keen sarapan."
"Boleh Mami masuk kamarmu?"
"Tentu saja, Mi. Mari ...!" Mami mengikuti langkah Bie masuk ke kamar. Mami melihat Barra yang sedang merayap diatas tubuh Keen.
"Barra, Oma datang." Mami berjalan ke arah ranjang dan duduk di tepinya. Keen menyalami dan mencium tangan Maminya.
"Pagi benar Mami datang."
"Nggak boleh kalau pagi datangnya."
"Bukan nggak boleh,Mi. Tapi heran aja. Pagi-pagi udah sampai di sini," ucap Keen.
"Mami tak bisa tidur. Ingat kamu, Bie dan Barra. Oh ya,Bie. Itu mami belikan susu dan bahan makanan buat kalian. Masuk kulkas dulu deh."
"Iya, Mi. Aku ambilkan sarapan sekalian. Mami makan di sini aja."
"Nggaklah, di luar aja."
Bie mengambilkan sarapan buat mami dan meletakkan di atas meja. Setelah itu Bie membantu Keen berjalan keluar kamar. Barra di gendong mami.
Setelah Keen duduk, Bie lanjut menyuapi Keen. Mami memperhatikan dalam diam.
"Mami, aku mandikan Barra dulu. Sayang, kamu mau apa lagi. Aku buatkan susu?"
"Aku udah kenyang, Bie. Mandikan aja Barra. Biar mami yang temani aku."
Bie mengambil Barra dari gendongan Mami dan masuk ke kamar memandikannya. Kamar mandi di rumah kontrakan Bie hanya ada satu di kamar. Itulah Bunda tak mau menginap. Tak mungkin saat akan ke kamar mandi, ia mengganggu tidur suami istri itu.
"Kamu memang tak salah memilih Bie, ia wanita yang hebat," ujar Mami.
"Bie nggak pernah sedikitpun mengeluh mengenai kesulitan hidup yang ia hadapi. Ia dibesarkan di panti yang mengharuskan Bie sekolah sambil bekerja. Tapi sekalipun nggak pernah ia berkata lelah."
"Mami ingin sekali dekat dengannya. Pasti menyenangkan memiliki anak wanita seperti dia."
"Mami boleh datang kapanpun itu."
"Mami pasti akan sering datang walaupun nggak kamu suruh."
Setengah jam berlalu, Bie datang dengan Barra yang telah dimandikan. Bie tersenyum melihat nasi goreng yang ia sediakan buat mami telah habis di santap wanita itu.
Mami dan Keen bermain bersama Barra, sementara itu Bie memasak buat santap makan siang mereka. Tampak Mami begitu bahagianya.
Aku akan membawa papi besok. Agar ia dapat melihat kebahagiaan Keen bersama anak istrinya. Papi pasti nanti akan bisa menerima mereka.
Di tempat lain, Papi Cath yang akan pergi ke kantor mengalami kecelakaan. Papi Cath mengalami luka yang sangat parah.
Bersambung.
***************
Bagaimana keadaan Papi Cath? Apakah Papi Cath dapat diselamatkan? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih. ❤❤❤❤