
Bie memandang kagum rumah kediaman Keen. Rumahnya lebih mewah dari rumah Cath. Jika dulu Bie menganggap rumah Cath seperti istana, apa sebutan yang pantas ia berikan buat rumah kediaman orang tua Keen.
Papi masih saja terus bermain dan becanda dengan Barra. Bie melihat semua itu dengan mata berkaca. Tak pernah ia bayangkan jika Papi akan menerima dirinya dan Barra secepat ini. Semua pasti karena kelucuan tingkah Barra.
Mami meminta Keen dan Bie menempati kamar utama yang ada di lantai atas. Awalnya Bie keberatan, karena itu akan menyulitkan bagi Keen untuk naik ke atas. Tapi Keen mengatakan jika rumahnya memiliki lift untuk menuju lantai atas.
"Bie, boleh papi membawa Barra ke kamar," ucap Papi.
"Boleh, Pi. Boleh banget," ujar Bie dengan semangatnya.
Papi menggendong Barra membawanya masuk ke dalam kamar diikuti mami. Bie menolong Keen berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas. Keen tak mau menempati kamar utama. Ia akan tidur bersama Bie di kamar yang biasa ia tempati saja.
Bie masuk ke kamar itu dengan menatap tanpa kedip ke setiap sudut ruangan. Kamar yang dominan warna hitam putih itu tampak nyaman.
"Kenapa hanya berdiri, masuklah," ucap Keen melihat Bie yang hanya berdiri terpaku dekat pintu.
Bie masuk dan duduk di sofa yang ada dekat jendela. Dari balik jendela Bie dapat melihat taman dan kolam renang di bawahnya.
"Kamu pasti selama berada di rumah kontrakan tidak nyaman," gumam Bie.
"Nyaman, kok. Kenapa kamu bisa berpikir jika aku tak nyaman?" tanya Keen yang duduk sambil memeluk Bie.
"Karena rumah kontrakan yang sempit. Kamar aku aja dibandingkan kamar mandi kamu, lebih besar kamar mandinya."
"Bie ... dengarkan baik-baik," ucap Keen sambil menangkup kedua pipi Bie. "Dimanapun aku berada, asal itu ada kamu dan Barra aku pasti nyaman dan bahagia, karena kebahagiaan aku adalah kamu dan Barra."
"Aku takut selama ini kamu tak nyaman bersamaku," gumam Bie.
"Dengar Bie ... Tempat yang paling indah buatku adalah di dalam pikiranmu. Dan kamu tahu, ketika aku telah menemukanmu sebagai seseorang yang spesial bagiku, saat kita diam pun terasa nyaman."
"Kebahagiaan yang paling sempurna adalah kebahagiaan bersama orang yang sederhana, tapi memperlakukanku dengan cara istimewa.Tiada tempat yang penuh dengan limpahan kasih sayang selain di tengah keluarga."
"Aku senang mengetahui kamu bahagia hidup bersamaku," ujar Bie.
"Sebelum kita berjumpa, aku tidak mengerti apa itu bahagia. Sebelum kita bersama aku juga tidak mengerti apa itu cinta. Namun setelah takdir mempertemukan kita, aku tahu apa itu bahagia karena cinta," ucap Keen dan mengecup dahi Bie.
"Dapatkah kau dan aku menjadi kita untuk selamanya, meskipun cinta bukanlah udara, tapi kau tetap menjadi napasku, bahagiaku saat melewati suka duka denganmu, Bie."
Keen melepaskan pelukan dan kembali menangkup kedua pipi Bie. Keen mengecup bibir Bie dan melumaaatnya.
Bie membalasnya, saat ini ia telah bisa membalas semua yang dilakukan Keen. Keen makin memperdalam ciuman dan menuntut.
Keen membuka satu persatu kancing kemeja Bie. Saat ini tubuh bagian atas Bie telah polos. Tampak napas Keen makin memburu. Wajahnya memerah menahan hasrat.
"Kita ke tempat tidur. Aku udah pengin banget," ucap Keen serak.
"Bagaimana melakukannya," ucap Bie polos.
"Kali ini kamu yang memimpin. Kamu di atas," bisik Keen.
"Aku tak biasa," gumam Bie kembali dengan wajah polosnya.
"Aku akan mengajari nanti," ucap Keen makin serak.
Keen berjalan tertatih menuju tempat tidur. Setelah Keen naik ke ranjang. Bie mengikuti. Bie membuka satu persatu kain yang melekat di tubuh suaminya itu. Setelah itu barulah kain ditubuhnya.
Keen duduk bersandar di kepala ranjang, i meminta Bie perlahan naik ke tubuhnya. (Skip ... bisa bayangkan sendiri bagi yang telah berkeluarga dan bagi anak gadis jangan coba-coba).
Setelah sama-sama mencapai puncaknya Bie turun dari tubuh Keen. Ia tersenyum pada Bie.
"Terima kasih, Sayang," ujar Keen dan mengecup dahi Bie.
"Kita mandi lagi. Kasihan Papi dan Mami harus kelamaan menjaga Barra."
"Mandi bareng," ucap Keen. Bie mengambil handuk buat Keen dan dirinya di lemari. Ia mandi bersama Keen. Setelah mandi Bie turun bersama Keen. Ternyata Papi dan Mami sedang memberi susu buat Barra.
Keen tersenyum melihat kedua orang tuanya yang bisa menerima putranya dengan baik.
Bersambung.
********************
Apakah Keen dan Bie akhirnya tinggal bareng dengan Papi dan Mami? Jangan lupa nantikan kelanjutan novel ini setiap harinya. Terima kasih.