
Dimas mendatangi rumah seorang detektif sahabat papanya. Saat ia sampai di rumah pria itu, Dimas langsung mengutarakan maksudnya.
Dimas memberikan foto Beverly pada orang tersebut. Dimas juga memberikan nomor ponsel yang dulu Beverly gunakan.
Setelah mendapati kesepakatan Dimas pulang. Ia menuju kafe tempat terakhir ia pergi bersama Bie.
Bie, kemana kamu pergi?. Kenapa kamu meninggalkan kota ini? Apakah ini ada hubungannya dengan pertunangan Keen dan Cath?
Dimas termenung hingga siang hari. Setelah cukup lama duduk sendiri, Dimas akhirnya pulang.
Di tempat kediamannya Bie, tiba-tiba ia teringat Keen dan Dimas. Ia mengambil foto mereka bertiga. Bie memegang perutnya.
Keen, di sini ada benihmu sedang tumbuh. Maafkan aku yang terpaksa menyembunyikan semuanya. Suatu saat nanti, jika semua telah berjalan baik, aku pasti akan mengatakan kebenarannya. Tapi untuk saat ini aku harus sembunyikan dulu semuanya.
....................
Setelah satu bulan, Dimas mendapat kabar dari detektifnya dimana Bie berada. Cuma ia ragu mendengar berita dari orang itu jika Bie sedang hamil.
Kehamilan Bie yang telah memasuki bulan ke lima, sehingga perutnya udah makin membesar.
Bie sering menjadi bahan gosip orang tua murid yang iri dengan dirinya. Karena Bie yang cantik banyak suami mereka yang jadi rajin mengantar anak ke sekolah.
Bukannya Bie tidak pernah mendengar jika diirnya jadi bahan omongan. Tapi Bie tak pernah memikirkan semua itu. Ia hanya fokus untuk membesarkan bayi dalam kandungannya saat ini.
Dimas yang mendapatkan alamat dari detektif itu diam-diam libur kuliah. Ia tak mau orang tuanya tahu dan marah.
Dimas saat ini sedang berada di sekolah dasar di mana Bie mengajar dan juga jualan di kantin.
Dimas diam-diam masuk ke sekolah dan kaget saat melihat kedatangan Bie.
Jadi benar ini Bie. Dia sedang hamil. Apakah ini penyebab Bie pergi dari panti? Siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.
Dimas masih terus mengawasi dari tempat ia bersembunyi. Tampak anak muridnya Bie bersalaman dengannya. Dimas tersenyum saat melihat ada murid yang mengelus perut Bie.
Penampilan Bie tampak sangat dewasa. Untuk menutupi perut buncitnya Bie selalu menggunakan blazer.
Bie masuk ke kelas dan mulai mengajar. Ia belum juga menyadari kehadiran Dimas. Setelah bel tanda istirahat terdengar, Bie berjalan tergesa menuju kantin. Subuh ia telah menyusun semua barang dagangannya.
Bie melayani satu persatu murid yang membeli jualannya. Saat anak-anak mulai sunyi Dimas maju.
"Apa nasi gorengnya masih ada bu guru," ujar Dimas.
Bie yang merasa mengenal suara itu mendongakkan kepalanya.
"Dimas ...." ucap Bie kaget.
"Apa masih ada nasi gorengnya?" ucap Dimas mengulangi pertanyaannya. Bie bukannya menjawab tapi air matanya yang mulai jatuh.
"Hei ... masa bu guru menangis."
"Lo tau dari siapa gue ada di sini? Bunda?"
"Emang Bunda tau kamu di sini?" Dimas balik bertanya.
"Dim, gue tak tau harus ngomong apa?"
"Nanti kita bicara lagi, sekarang Lo layani dulu murid-murid yang mau membeli. Gue menunggu hingga Lo selesai mengajar."
Dimas keluar dari kantin dan menunggu di bangku dekat ibu-ibu biasa menunggu anaknya.
"Ibu Bie itu masih muda, tapi kok bisa hamil tanpa ada suami," ucap ibu A.
"Iya, seharusnya kepala sekolah tidak menerima guru yang begitu. Masa hamil muda tanpa suami lagi."
"Bisa mencemarkan nama sekolah," ujar ibu C.
"Mana suka senyum sama suami orang lagi."
Dimas yang udah nggak tahan mendengar ibu-ibu itu menggosipkan Bie akhirnya angkat suara.
"Hhhmmmm ...." dehem Dimas. Semua ibu-ibu memandanginya.
"Ibu-ibu, ini sekolah bukan warung. Kenapa ada menggosip?" ucap Dimas.
"Maaf Dek. Kami bukan menggosip tapi kami cuma mengatakan kebenarannya."
"Kebenaran apa? Menuduh seseorang? Oh ya aku belum kenalan ya. Kenalkan aku suaminya ibu Beverly," ucap Dimas. Ibu-ibu itu tampak kaget.
"Maaf, Pak," ucap mereka serempak.
Ibu-ibu itu satu persatu berdiri dari duduknya dan meninggalkan Dimas. Tapi mata mereka masih sempat memandangi Dimas dengan seksama.
Setelah jauh dari Dimas ibu-ibu itu kembali melanjutkan gosipnya.
"Suaminya bu Beverly juga masih muda. Pasti mereka terpaksa menikah karena bu Bie hamil dan mungkin orang tua suaminya tak setuju. Makanya ia tinggal sendiri, tak bersama suaminya," ucap ibu A.
"Mungkin juga. Suaminya muda dan ganteng," ujar ibu B.
"Pasti masih kuliah. Makanya tidak bisa bersama. Sepertinya orang berada juga. Lihat itu mobilnya pasti."
"Iya juga. Pasti pernikahan mereka tak direstui."
Ibu-ibu itu masih terus melanjutkan gosipnya hingga anak-anak mereka pulang sekolah.
Bie menuju kantin untuk menyusun barang dagangannya. Dimas muncul dan menolongnya.
"Apa setiap hari Lo begini? Mengajar dan berjualan," gumam Dimas sambil membantu Bie. Ibu-ibu yang belum pulang memperhatikan mereka.
"Iya. Lo keluar sana. Biar gue sendiri yang beresin. Lo membuat ibu-ibu pada kepo ingin tau siapa Lo itu."
"Biar aja. Paling mereka pada kagum dengan kegantengan gue."
"Narsis."
Setelah semua selesai di susun, Bie membersihkan kantin. Lagi-lagi Dimas membantu.
Bie mengajak Dimas menuju rumah milik orang tua Bunda yang ia tempati saat ini.
Dimas duduk di kursi yang ada di ruang tamu itu. Kursi tua peninggalan orang tua Bunda. Dimas menunggu Bie dengan gelisah. Ia sudah nggak sabar ingin mendengar penjelasan dari Bie.
Bersambung
*****************
Apakah Bie akan jujur siapa ayah dari bayi yang sedang ia kandung saat ini pada Dimas?. Nantikan kelanjutan dari novel ini setiap harinya. Terima kasih.
Bagi pemenang Pulsa kemarin, tolong doeloe mama ya. Biar bisa chat pribadi. Terima kasih.