
Keenan memeluk pinggang Bie agar tubuh wanita yang sangat ia cintai itu makin merapat. Bie yang memakai selimut untuk menutupi tubuhnya, memegang erat agar tak terlepas.
Keenan mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh wanita itu. Ia sengaja menggoda karena melihat Bie yang terus memegang erat penutup tubuhnya itu.
"Kamu mau apa, Keen?" Bukannya menjawab pertanyaan Bie, Keen hanya tersenyum untuk menggoda wanitanya.
"Kenapa kamu tutup, saat ini aku telah menjadi suamimu. Tak usah malu."
"Tubuhku tak pernah dilihat pria."
"Aku pria pertama yang melihat tubuhmu," bisik Keen.
"Jangan membuatku sedih karena mengingat malam itu."
"Maaf ... aku tak bermaksud membuatmu sedih. Dulu aku menyesal karena telah merenggut kesucianmu. Aku selalu dihantui rasa bersalah. Tapi semua berubah sejak aku melihat Barra."
"Apa hubungannya dengan Barra?"
"Jika saja malam itu tidak ada kejadian yang kita alami, mungkin Barra juga tidak akan ada di antara kita saat ini."
"Keen, apa aku boleh bertanya?"
"Jangankan pertanyaan, seluruh hidupku aja boleh kamu miliki."
"Aku nggak bercanda."
"Oke, apa yang ingin kamu tanyakan."
"Selama kamu bersama Cath, apakah tidak pernah ada rasa cinta dihatimu untuknya?"
"Tidak!"
"Apakah kamu tidak pernah melakukan apapun berdua Cath."
"Pertanyaan kamu ini aku rasa sangat ambigu."
"Kenapa ambigu."
Keen menaiki tubuh Bie, membuat gadis itu kaget dan mempererat pegangannya di selimut. Keen menopang tubuhnya dengan kedua tangan agar tak menghimpit tubuh Bie.
"Aku belum pernah melakukan apapun dengan Cath, walau kami tinggal di luar negeri. Jangankan menyentuh tubuh yang lain, mengecup bibirnya aku tak pernah. Aku hanya pernah melakukan denganmu, Bie. Tak ada wanita lain yang pernah aku sentuh, atau melihat tubuhnya kecuali kamu, Sayang."
Bie memandangi Keen tanpa kedip. Ia tak begitu mencerna apa yang Keen katakan. Pikirannya entah pergi kemana. Ia gugup karena tubuh Keen yang makin merapat. Apa lagi ia dapat merasakan sesuatu yang mulia bangun dari tubuh Keen.
Keen menarik selimut Bie keras sehingga terlepas dari tubuhnya. Bie spontan menutupi dadanya. Ia memandangi Keen dengan cemberut. Belum sempat Bie protes, Keen udah ******* bibirnya.
Mereka saling membelit lidah. Hingga Bie merasakan pasokan udaranya berkurang. Ia memukul dada Keenan memintanya melepaskan pagutan mereka. Keen melepaskan lum@t@nnya. Ia menghapus air liur di bibir Bie dan mengecupnya.
"Bibir kamu manis banget, Sayang," ucap Keen dengan suara serak. Tampak wajah Keen udah memerah karena menahan gejolak.
"Kamu pintar ciuman. Katanya cuma sama aku pernah melakukan."
"Iya, Sayang. Itu aku lakukan dengan naluri aja. Besok kamu mungkin lebih pintar dariku."
"Mana ada? Aku tak bisa," ucap Bie malu.
"Boleh aku melakukan yang lebih pada tubuhmu," ucap Keen. Tangannya dengan cepat membuka pengait bra Bie sehingga sekarang tubuh Bie hampir polos.
Bie sedikit menjerit saat menyadari Keen yang telah bermain di dadanya. Keen melakukan dengan lembut, Bie mencoba menahan des*h*nnya. Ia masih malu.
Setelah puas bermain di dada Bie, bibir Keen turun ke bagian perut rata Bie dan terus ke bawah. Keen menanggalkan satu-satunya kain yang masih menutupi tubuh Bie.
Bie yang tak pernah disentuh oleh pria kecuali Keen pada malam pesta perpisahan itu merasakan sesuatu yang beda. Terasa ada yang menggelitik tubuhnya. Rasa geli itu bercampur nikmat. Melihat reaksi tubuh Bie yang tampak telah siap,Keenan berdiri dan melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuhnya.
Bie memandangi dengan malu dan juga ngeri melihat bagian tubuh Keen yang telah siap untuk melakukan penyatuan. Keen kembali menaiki tubuh Bie.
"Bie ... kamu siap,kan?" bisik Keen sambil menjilat telinganya. Bie tak menjawab ucapan Keen, hanya anggukan kepala.
Perlahan Keen mulai menuntun adiknya menuju bagian inti tubuh Bie. Saat separuh masuk, Bie merintih kesakitan. Tubuhnya yang hanya pernah dimasuki sekali belum terbiasa.
"Tahan, Sayang. Aku akan memasuki dengan pelan. Nanti jika telah terbiasa, kamu pasti yang akan meminta ulang," gumam Keen menggoda Bie, membuat istrinya itu cemberut.
Dengan perlahan Keen mendorong bagian tubuhnya. Akhirnya Keen dapat menyatukan tubuhnya dan Bie. Dengan perlahan Keen melakukannya.
Mereka mulai larut dan terbuai dengan permainan ini. Hingga akhirnya sama-sama mendapatkan pelepasan.
Keen turun dari tubuh Bie dan mengecup dahi wanita itu yang penuh dengan peluh. Keen menarik tubuh Bie merapat. Tubuh mereka yang masih sama-sama polos merasakan sentuhan langsung. Keen memeluk erat Bie.
"Terima kasih, Sayang. Semoga tidak ada lagi yang memisahkan kita." Kembali Keen mengecup dahi Bie dan bibirnya.
Bersambung
*******************
Semoga doa Keen dikabulkan. Tidak ada lagi yang dapat memisahkan Bie dan Keen.
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini. 😘😘😘😘❤❤❤❤