
Keen dan Bie memutuskan kembali ke panti. Sebelumnya Keen mengajak Bie membelikan makanan buat adik-adik di panti. Bie tampak murung, Keen tahu saat ini pastilah istrinya itu sedih karena perkataan Cath tadi.
Di dalam mobil Bie masih terus diam dengan wajah yang murung. Tangan kiri Keen menggenggam tangan Bie dan mengecupnya.
"Bie, ini bukan salahmu. Cinta itu tak pernah salah. Ia tak tau meski harus berlabuh di mana.Cinta tak pernah salah, yang salah ialah ketika kamu tetap menjatuhkan hati kepada seseorang yang tidak mencintaimu.Cinta itu tak selamanya akan dibalas dengan perasaan yang sama dan jatuh cinta pada seseorang yang tidak pernah mencintaimu dan tidak pernah bisa kamu miliki itulah kesalahan dalam cinta.Lebih baik ikhlaskan dari pada memaksa seseorang yang tak mencintaimu, karena hanya akan menyakiti dirimu sendiri jika terus mencintai dia yang tak mencintaimu. Cath harusnya menyadari semua itu. Tak mungkin cinta itu bisa dipaksakan."
" Bagaimana jika kedua orang tuamu tak bisa menerima pernikahan kita dan meminta kamu menceraikan aku?"
"Bie, jangan bicara sesuatu yang belum terjadi. Hanya satu yang perlu kamu lakukan, percayakan semuanya padaku. Apapun yang akan terjadi aku tak akan pernah mau dipisahkan dari kamu."
"Jangan pernah tinggalkan aku lagi,Keen."
"Percayalah, aku tak akan pernah meninggalkan kamu."
Sampai di panti, Barra sedang bermain dengan Bunda. Bie langsung menggendong dan memeluknya erat. Ia mengecup seluruh wajah anaknya.
"Kenapa? Seperti sudah lama tak bertemu Barra aja," ucap Bunda.
"Bunda, Cath udah tau semuanya. Aku tak mau Barra dipisahkan lagi dengan papinya."
"Kamu jangan takut begitu, Nak. Semua takdir hidup kita telah ditentukan Tuhan. Yakinlah Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya. Semua yang ditakdirkan dalam hidup kita itu yang terbaik. Kita hanya berdoa saja."
Keen memeluk tubuh Bie dan putranya. Ia mengecup pucuk kepala Bie untuk memberikan kekuatan pada wanita itu.
"Bie, tidak akan ada yang dapat memisahkan kita kecuali maut. Jika Tuhan yang menghendaki, aku harus bagaimana? Yakinlah cintaku hanya untukmu."
Bie menangis di dada Keen. Entah mengapa sejak pernikahan mereka Bie tidak mau lagi dipisahkan dengan Keen.
"Jika dulu aku mengalah demi persahabatan, kali ini aku akan tetap bertahan demi Barra. Aku tak akan mundur walau Cath akan melakukan. berbagi cara untuk mendapatkan kamu. Kamu itu papinya Barra," ucap Bie disela isaknya.
Keen dan Bie pamit. Mereka takut kemalaman pulang. Barra tampak bahagia dipangkuan Bie. Senyum selalu terukir di bibir mungilnya.
Sampai dikontrakan Bie masuk ke kamar dan menyusui Barra. Usia Barra baru lima bulan, sehingga hanya susu makanannya.
Keen naik ke tempat tidur dan memeluk Bie dari belakang. Ia mengecup tengkuk Bie dengan lembut,membuat wanita itu geli.
"Keen, jangan bercanda. Aku mau tidurkan Barra."
"Kamu pasti bisa jadi suami dan papi terbaik. Kita akan berjuang bersama." Keen mengecup rambut Bie.
Setelah Barra terlelap, Bie membalikkan tubuh menghadap Keen dan memeluk suaminya itu dengan erat.
"Kenapa sih maunya meluk terus," goda Keen.
"Nggak boleh? Ya, udah." Bie melepaskan pelukannya. Keen tertawa melihat wajah Bie yang cemberut.
"Bie, kalau tau menikah itu kayak gini. Aku pasti dari dulu telah membawa kamu lari dan memaksa kamu untuk mau menikah denganku."
"Aku sayang kamu," ucap Bie.
"Kamu baru menyadari jika sayang aku?"
"Nggak, dari dulu aku memang sayang kamu."
"Tapi kenapa kamu memilih berpisah. Kalau sayang pasti diperjuangkan."
"Kamu juga tak mencoba berjuang."
"Aku pernah mencoba, tapi kamu menolak. Akhirnya menyerah karena aku sadar jika berjuang sendiri itu sakit, Bie."
"Maafkan aku. Semua memang salahku."
"Jangan selalu menyalahkan diri sendiri, Bie. Semua yang kita lalui itu adalah takdir Tuhan. Mungkin kita dipisahkan terlebih dahulu untuk menguji seberapa kuatnya cinta kita."
"Janji, kamu tidak akan meninggalkan aku dan Barra, apapun itu yang akan terjadi."
"Janji, Bie. Asal kamu mau menerima aku apa adanya. Seandainya aku tidak memiliki apa-apa lagi."
"Aku mencintai kamu, bukan hartamu." Keen memeluk Bie erat mendengar ucapan istrinya itu.
Bersambung.
**************×**********
Apakah Cath akan mengatakan pernikahan Keen dan Bie pada kedua orang tuanya? Nantikan terus kelanjutan dari kisah ini. Terima kasih.