
Bie mengganti pakaiannya dan memanggil taksi. Di dalam taksi ia menghubungi Bunda, Bie mengatakan jika ia akan menuju rumah sakit karena mendapat kabar jika Keen kecelakaan.
Rumah sakit tempat Keen dibawa dekat dengan Panti Asuhan. Bie akan menitipkan Barra pada Bunda.
Sampai di Panti Asuhan, Bunda telah menanti kedatangannya. Tanpa banyak bicara Bie menitipkan Barra dan langsung menuju rumah sakit dengan menggunakan taksi yang sama.
Bie berjalan tergesa menuju ruang IGD, menurut petugas yang menghubungi Bie, Keen saat ini berada di sana.
Bie menemui petugas kepolisian yang berdiri di depan ruangan IGD, ia menanyakan kebenaran tentang kabar Keen.
Petugas itu memberikan ponsel Keen dan menanyakan hubungan Bie dengan korban. Setelah mendengar jika Bie istri Keen petugas itu meminta Bie menunggu, karena Keen masih dalam penanganan dokter.
Hampir dua jam lamanya Keen dalam penanganan. Dokter keluar dari ruangan dan menemui petugas kepolisian. Bie mendekati mereka dan bertanya kabar Keen, suaminya.
Dokter mengatakan saat ini keadaan Keen masih kritis. Dan akan dipindahkan keriang ICU. Tubuh Bie terasa lemah mendengar ucapan dokter. Ia meminta izin untuk menemui Keen. Dokter mengizinkan Bie sebentar.
Bie masuk ke ruang tempat Keen ditangani. Bie hampir pingsan melihat keadaan Keen yang cukup parah. Kepalanya penuh luka dan kaki di perban. Bie menahan tangisnya, walau dadanya terasa sesak.
Tangis Bie akhirnya pecah begitu berhadapan dengan Keen. Suaminya itu masih tak sadarkan diri.
"Sayang, sadarlah. Aku di sini. Jangan tinggalkan aku, Keen. Kamu udah janji tidak akan pernah meninggalkan aku. Keen ... sadaralah Sayang." Bie akhirnya terduduk di lantai. Ia menangis sambil memegang tiang infus suaminya.
Lama Bie menangis, hingga perawat masuk dan mengatakan jika Keen akan dipindahkan ke ruang ICU.
Bie berdiri dan mengikuti perawat yang mendorong tempat tidur Keen. Air mata terus saja mengalir dari sudut matanya.
Bie hanya boleh masuk ke ruang ICU dua kali. Pertama siang dan sore. Selain itu ia hanya bisa melihat dari kaca. Air mata Bie terus tumpah membasahi pipi mulusnya. Dari balik kaca ia melihat tubuh suaminya itu yang terluka.
Sepasang suami istri mendekati kaca tempat Keen di rawat. Wanita itu tampak menangis dan ditenangi oleh suaminya.
"Keen, ini mami sayang," ucap wanita itu. Bie kaget mendengarnya. Pria yang bersama wanita itu pergi dan kembali bersama seorang dokter. Dokter mempersilakan keduanya masuk.
"Tadi ada istrinya yang menemani," ucap Dokter. Papi dan Mami kaget mendengarnya.
"Sekarang di mana istrinya, Dok?" tanya mami.
"Tadi saya lihat masih ada di luar." Mami langsung melihat ke luar ruangan. Ia melihat Bie yang sedang menatap ke dalam.
"Pi, biarkan istri Keen masuk. Mungkin kehadirannya lebih Keen butuhkan. Aku mohon papi buang ego sejenak. Nanti setelah Keen sembuh, kita bisa bicarakan semua. Papi lihat di kamar. Ada foto mereka bertiga dengan menggendong bayi. Aku yakin itu anak Keen. Wajahnya sangat mirip Keen kecil."
Dokter yang merawat Keen pamit. Papi mengatakan akan menemui Dokter itu sebentar lagi.
"Biar Mami yang keluar, istrinya Keen masuk."
"Papi aja yang keluar. Sekalian papi ingin bicarakan perawatan Keen."
Papi dan Mami keluar dari ruangan itu. Papi menuju ruang dokter, sedangkan Mami mendekati Bie yang masih mengintip dari balik kaca.
"Maaf, boleh kita bicara sebentar," ucap Mami. Bie mengangguk sebagai jawaban.
"Apakah kamu istrinya Keen?" Kembali Bie hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Kamu mau masuk, kenalkan ... Mami Keen," ucap Mami mengulurkan tangannya.
"Beverly,panggil aja Bie, Bu." Bie menyambut uluran tangan mami dan menciumnya.
"Panggil Mami aja. Mari masuk. Kamu mau dekat Keen, kan?"
"Iya, Mi."
Mami memegang tangan Bie mengajakbya masuk ke ruang tempat Keen saat ini berbaring. Air mata Bie kembali tumpah di depan Keen. Bie memegang tangan Keen lembut, takut menyakiti.
"Sayang, bangunlah. Aku dan Barra selalu menunggu kamu. Kamu janji tidak akan pernah meninggalkan kami. Jangan buat aku cemas, bangunlah!" ucap Bie dengan air mata yang berurai.
Mami menatap Bie iba, ia mendengar dengan jelas Bie menyebut nama Barra. Mami ingin tau semuanya. Ia membiarkan Bie menumpahkan isi hatinya.
Nanti saat berada di luar ruangan baru akan Mami tanyakan semuanya. Dari awal mereka kenalan, menikah dan mengapa memiliki anak yang telah besar jika mereka baru saja menikah. Saat ini Mami menyimpan dulu semua pertanyaan yang ada dibenaknya.
Bersambung
*****************
Terima kasih untuk semua pembaca yang masih setia membaca novel ini hingga pada bab ini. Mama harap masih akan terus menanti kelanjutan kisah ini. Terima kasih.
Mama mau memperkenalkan novel teman-teman mama ini.Jangan lupa mampir ya!