
Jam tujuh malam Beverly telah siap untuk datang memenuhi undangan Catherine. Ia menunggu kedatangan Dimas di teras.
Hatinya saat ini tak menentu. Jika tak memenuhi undangan Catherine, pastilah sahabatnya itu akan bertanya-tanya dan pastinya sedih.
Dimas datang beberapa saat kemudian. Ia memandangi Beverly tak berkedip.
"Kenapa Lo mandangin gue gitu." Beverly bertanya ketika menyadari Dimas yang tak berkedip memandang ke arah dirinya.
"Lo keliatan cantik banget malam ini."
"Biasanya gue jelek."
"Tentu saja cantik. Tapi malam ini kecantikan Lo bertambah dengan gaun putih itu."
"Bilang aja gaunnya yang cantik."
Dimas tertawa mendengar ucapan Beverly, karena gaun yang di pakai Beverly saat ini ia yang beli.
"Jadi nggak perginya?" ucap Beverly saat melihat Dimas yang kembali bengong sambil memandangi dirinya.
"Yups .... cusss berangkat."
Dimas dan Beverly masuk ke mobil. Dimas mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
"Lo yakin tetap mau datang. Jika Lo berubah pikiran, kita putar arah menuju mal aja."
"Tentu ... jika gue nggak datang, pasti Catherine akan sedih."
"Udah siap hati Lo nanti jika melihat kemesraan Catherine dan Keenan."
"Siap tak siap, gue harus siap."
"Semoga Lo nggak akan menangis," gumam Dimas.
Saat memasuki halaman parkir restoran itu, Bie menarik nafasnya. Tampak sekali jika ia menahan sesak di dada.
Dimas dan Beverly berjalan menuju ruang VIP yang di pesan Catherine. Baru memasuki ruangan itu, kembali Bie menarik nafas saat melihat Catherine yang bersandar dengan manja di bahu Keenan.
Catherine yang melihat kedatangan Dimas dan Beverly tersenyum bahagia. Ia langsung merentangkan tangan meminta Bie memeluknya.
"Selamat malam, Sayang." Beverly memeluk tubuh Catherine dan mengecup pipinya.
"Selamat malam, Keen," ujar Bie setelah pelukannya dan Cath lepas. Tapi Keenan hanya diam tanpa menjawab salam dari Bie.
Dimas tersenyum ke arah Cath dan Keen. Ia langsung duduk dihadapan mereka.
"Maaf, karena harus menunggu."
"Kami juga baru beberapa menit sampai," ucap Cath.
Cath memanggil pelayan dan meminta menunda di antar. Setelah menu dihidangkan mereka menyantapnya.
Saat makan, Cath tampak sangat perhatian pada Keenan. Mengambilkan makanan dan menyuapi Keenan.
"Say, coba deh ini. Enak ...." ucap Cath menyodorkan sesendok makanan ke mulut Keenan.
Beverly hanya menunduk selama makan, tak berani menatap Keenan.
"Bie, ternyata papi mengenal daddy nya Keen. Mereka bersahabat," ucap Cath.
"Oh ya. Baguslah, Cath. Pasti hubungan kalian akan di restu." Beverly mengucapkan dengan suara lirih.
"Ho, Oh. Lo benar, Bie. Saat gue ngasi tau papi jika gue dan Keen pacaran, papi senang banget. Papi titip salam buat Lo dan adik-adik."
"Salam kembali untuk papi dan mami."
"Lo kenapa, Dim? Diam aja dari tadi. Sariawan? Atau sakit gigi?" ucap Cath.
"Lagi menghayati makanan gue," ucap Dimas
"Gaya Lo, gue timpuk nih."
Dalam diam Bie selalu mencuri pandang, ia memandangi wajah Keen dan Cath bergantian.
Malam ini Keenan tampak sangat tampan, begitu juga Catherine. Mereka memang tampak serasi. Cath tampak sangat bahagia. Semoga Keenan dapat mencintai Cath sepenuh hatinya.
"Bie, terima kasih ya. Gue dan Keen jadian karena Lo. Iya kan, Keen." ucap Cath dengan manjanya sambil memeluk lengan Keen.
"Bukan karena gue juga. Itu karena Lo dan Keen saling mencintai."
"Tentu saja gue tau, Keen," gumam Bie.
"Cinta itu perjuangan. Orang yang mencintai pasangannya akan melakukan apapun untuk mendapatkan cinta. Bukan menyerah sebelum berjuang. Tidak peduli betapa beratnya cobaan yang ingin menggoyahkan hubungan cintanya ia akan tetap mempertahankanmu dan mencintaimu, itu yang dinamakan cinta," ucap Keenan menyindir Bie.
"Apa kamu nantinya akan melakukan apa saja untuk memperjuangkan cinta kita?" Cath bertanya sambil terus memeluk lengan Keenan.
Keenan tak menjawab pertanyaan Cath. Ia hanya memberikan senyumannya.
"Maaf, gue ke toilet sebentar," pamit Bie. Ia sudah nggak bisa menahan tangisnya.
Bie berdiri dan cepat berjalan menuju toilet. Tangisnya pecah di dalam ruangan itu.
Bukannya aku tak mau memperjuangkan cinta kamu, Keen. Tapi banyak kehidupan yang harus aku pikirkan. Cath dan papinya menjadi penyambung hidup aku dan adik-adik di Panti. Aku tak mau mengambil resiko jika aku tetap mempertahankan cinta kita. Cath sangat mencintaimu.
Setelah beberapa saat di dalam toilet dan puas menangis. Bie keluar, ia membasuh wajahnya agar tak tampak jika ia baru menangis.
Bie berjalan perlahan keluar dari toilet. Saat baru menginjakkan kakinya di luar ruangan itu, tangannya ditarik seseorang menuju sebuah lorong.
"Keen, kamu mau apa?"
"Sekarang kamu puas?" ucap Keen.
"Maksud kamu apa, Keen."
"Puas mempermainkan hati dan cintaku."
"Keen, aku tak pernah mempermainkan cintamu."
"Dengar baik-baik, Bie. Sesakit apa hatiku saat ini, aku pastikan sahabatmu Cath akan juga merasakan hal yang sama. Mungkin akan lebih sakit dari yang aku rasakan."
"Keen, jangan sakiti Cath. Ia tak bersalah. Kamu pasti akan bisa mencintainya jika kamu berusaha."
"Aku tak percaya lagi yang namanya cinta," ucap Keen. Ia lalu pergi dari hadapan Bie, meninggalkan gadis itu sendirian.
Tangis Bie kembali pecah, saat Keen menghilang dari pandangannya.
Maafkan aku, Keen. Aku tak bermaksud menyakiti hatimu. Jangan kau hancurkan hati Cath hanya untuk membalas perbuatanku.
Dimas menyusul ke toilet karena merasa Bie terlalu lama perginya. Keenan telah mengajak Cath pulang.
Saat melewati lorong menuju toilet, Dimas melihat Bie yang jongkok dengan menutup wajahnya. Ia mendengar suara isak tangis dari Bie.
"Bie ... kenapa Lo menangis," ucap Dimas yang ikut berjongkok dan memegang kedua bahu gadis itu.
Bie melepaskan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Tampak matanya bengkak karena lama menangis.
"Kita pulang lagi. Keenan dan Cath udah duluan pulang."
Dimas membantu Bie berdiri. Mereka berjalan keluar restoran menuju parkiran. Dalam perjalanan menuju panti Bie hanya diam. Masih terdengar isaknya sesekali. Dimas membiarkan Bie melepaskan semua tangisnya hingga sampai di depan panti.
"Terima kasih, Dim," ucap Bie sebelum keluar dari mobil.
"Gue harap ini tangisan Lo yang terakhir. Bagan pernah sesali keputusan yang Lo ambil sendiri. Pasti akan ada hikmah dari semua yang telah terjadi."
Bie hanya membalas dengan senyuman ucapan Dimas.
....................
Sejak malam itu Bie berusaha menghindari Keen. Ia tak pernah lagi mau ke kantin. Cath juga tak masalah saat ia tak mau lagi ke kantin dengan alasan belajar. Sebentar lagi mereka akan ujian kelulusan.
Sore ini Cath mengajak Bie ke mal. Ia ingin membelikan Keenan sesuatu untuk merayakan satu bulan hari jadian mereka.
Saat Cath asyik memilih-milih jam tangan, mata Bie melihat sesosok cowok yang sangat dikenalnya berduaan dengan seorang cewek.
"Cath, gue ke toilet sebentar ya. Kebelet ...." bisik Bie.
"Oke, gue tunggu di sini."
Bie berjalan tergesa, tak ingin kehilangan jejak. Saat sudah dekat dengan sosok cowok itu, Bie menghadang jalannya.
"Selamat sore, Keen," ucap Bie. Gadis yang bergelayut di lengan Keen memandangi Bie tanpa kedip.
"Siapa, Sayang?" tanya gadis itu.
"Teman sekelas," ucap Keen.
"Siapa gadis ini, Keen. Apa kamu tak ingin mengenalkannya," ucap Bie.
"Kenalkan ini Clara, pacarku," ujar Keen dengan santainya. Bie yang mendengar ucapan Keen menjadi kaget.
Bersambung
*******************
Apakah cewek itu benar kekasih barunya Keen? Bagaimana dengan Cath? Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.