Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 74. Kebahagiaan Bie.



Bie duduk dengan gelisah menanti mami Cath bicara. Begitu juga dengan Keen. Ia penasaran apa yang akan dikatakan wanita itu.


"Bie, Mami ingin mengatakan satu kebenaran tentangmu."


"Aku, Tante?" tanya Bie.


"Iya, Nak. Sebenarnya Cath memiliki adik kandung yang hilang di bawa kabur pembantu."


Mami menceritakan tentang bagaimana adiknya Cath bisa hilang.


"Terus, Tante?"


"Adik Cath yang hilang itu telah kami temukan."


"Alhamdulillah, Tante. Pasti Cath bahagia karena sekarang ada temannya. Cath sering ngomong jika ia kesepian. Ia ingin memiliki adik."


"Kamu nggak ingin tau siapa adik Cath itu,Bie?" tanya Mami.


"Emang aku mengenalnya, Tante?"


"Tentu saja, karena adik Bie itu kamu."


"Aku ... Tante bercanda aja."


"Mami nggak bercanda, Bie. Kamu itu anak kami yang hilang. Apa kamu nggak merasakan sesuatu saat dekat dengan kami? Apa kamu nggak heran golongan darahmu bisa sama dengan Papi."


"Aku nggak percaya." Bie bersandar di kursi Keen memeluk istrinya.


"Apa ada bukti jika Bie anaknya, Tante?"


"Tentu saja, ini hasil tes DNA, Bie." Mami memberikan kertas hasilnya. Keen mengambil dan membacanya.


Bie menangis mengetahui kenyataan jika dirinya masih memiliki keluarga utuh. Ia memeluk Keen.


"Keen, aku memiliki orang tua. Apa ini bukan mimpi? Aku takut semua ini hanya mimpi. Dan aku takut saat nanti aku terjaga, semua tak seindah mimpiku."


"Ini kenyataan, Sayang. Kamu ternyata masih memiliki orang tua dan juga saudara kandung."


Bie melepaskan pelukannya setelah mendengar ucapan Keen. Ia berdiri dan mendekati Mami. Bie berlutut dihadapan Mami.


"Tante, jadi benar Tante ibu Kandungku. Aku ternyata masih memiliki orang tua. Tante tidak bohong, kan?"


"Nggak, Nak. Kamu adalah anak kami. Adiknya Cath yang hilang. Maafkan Mami, karena kecerobohan Mami kamu harus hidup terpisah dan berjuang sendiri. Maafkan kami yang tidak bisa menemukan kamu secepatnya."


Mami meminta Bie bangun dari berlututnya. Ia memeluk Bie dengan erat. Kedua wanita itu menangis terisak. Papi yang hanya dapat melihat dari tempat tidur, juga menangis.


Setelah puas memeluk Mami, Bie melepaskan pelukannya. Ia berjalan mendekati Papi dan langsung memeluknya.


"Papi, apa aku boleh memanggil om dengan Papi," ucap Bie terbata.


"Tentu saja, Bie. Kamu itu anak kami, memang seharusnya kamu memanggil Papi."


Bie memeluk Papi cukup lama,.setelah itu ia kembali mendekati Mami.


"Mi, Cath nya mana," ucap Bie terbata.


"Maafkan, Cath. Mami mohon maafkanlah kakakmu itu. Cath belum siap menerima kenyataan ini."


"Bie, kamu anak yang baik. Bunda berhasil mendidik kamu."


"Aku jadi teringat Bunda. Aku harus mengatakan ini pada Bunda." Bie mengambil ponsel dari dalam tas.


"Bunda sudah tau. Mami telah mengatakan semuanya kemarin."


"Jadi Bunda sudah tau," gumam Bie.


"Mami, nanti biar aku yang menemui kak Cath dan meminta maaf. Aku mengerti perasaan kak Cath saat ini."


Hingga siang hari baru Bie pulang. Bie sangat bahagia karena mengetahui masih memiliki keluarga.


Papi meminta Bie membawa Barra, mereka ingin mengenal dan dekat dengan cucunya.


Papi dan Mami meminta Bie untuk tinggal bareng mereka. Tapi Bie menolak dengan halus. Ia telah berjanji tinggal bersama orang tua Keen.


............


Dua bulan telah berlalu, Cath masih belum mau menemui Bie. Walau Bie telah beberapa kali berusaha mencoba.


Hari ini Bie membawa Barra ke rumah orang tuanya. Papi telah kembali ke rumah. Papindan Mami sangat bahagia melihat tingkah Barra yang lucu.


Pulang dari kuliah Cath melihat Papi dan Mami yang sedang bermain dengan Barra. Bie memasak di dapur. Ia ingin memasak buat makan malam mereka. Keen menemani di dapur.


"Anak siapa ini,Mi. Lucu banget," ucap Cath. Ia menggendong Barra dan mengecupnya.


"Gantengnya, Mi. Aku seperti mengenal wajahnya," ucap Cath sambil memperhatikan wajah Barra.


"Barra namanya, Cath," ujar Mami.


"Barra, anak siapa ini. Ganteng dan lucunya."


"Ponakan kamu, Cath," ucap Papi.


"Ponakan?" tanya Cath heran.


"Iya, ponakan kamu. Anaknya Bie dan Keen," ucap Mami. Tampak Cath kaget mendengar ucapan Mami. Ia terdiam sejenak. Barra yang ada digendongan Cath, mengusap pipi Cath dan menciumnya. Cath menjadi kaget dan tanpa sadar air matanya keluar.


Barra, kamu ponakanku. Aku telah memiliki ponakan. Aku tak percaya ini. Kamu sangat ganteng dan lucu.


Cath duduk di sofa. Barra bermain dengannya. Cath tampak tersenyum melihat tingkah lucu Barra.


Bie yang telah masak dan menghidangkan semua makanan di meja berjalan menuju ruang keluarga, tempat semua ngumpul. Keen telah sembuh dan bisa berjalan kembali. Bie tersenyum melihat Cath yang bermain bersama Barra.


Bie dan Keen duduk di sofa yang berhadapan dengan Cath. Bie menyapa Cath membuat gadis itu kaget.


"Apa kabar, Kak," ujar Bie pelan. Cath mendongakkan kepalanya. Ia kaget melihat Keen dan Bie yang ada dihadapannya. Bie tersenyum pada Cath.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Sebenarnya aku ingin memeluk Bie. Aku kangen saat kami selalu bersama.


**Bersambung.


Mama ingin mengenalkan novel teman nih. Jangan lupa mampir ya**!