
Tangan Keen bergerak perlahan. Bie yang melihat itu sangat senang. Ia tersenyum.
"Sayang, kamu sadar. Aku yakin kamu nggak akan pernah lupakan janji. Kamu nggak akan meninggalkan kami, kan? Barra, kamu lihat Nak, tangan papi bergerak. Papi pasti kangen Barra. Barra juga kangen sama Papi, kan?"
Bie memanggil perawat dan mengatakan jika tangan Keen bergerak. Perawat lalu memanggil Dokter. Papi tampak berjalan mengikuti langkah Dokter itu.
Dokter meminta semua keluar dari ruangan. Ia akan memeriksa keadaan Keen. Setengah jam Dokter memeriksa keadaan Keen. Setelah itu Dokter keluar menemui keluarga. Bie yang menggendong Barra tampak menunggu dengan cemas.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" ucap Bie begitu dokter mendekat.
"Alhamdulilah, masa kritisnya sudah terlewati. Kita tunggu kesadarannya lagi. Saya yakin sebentar lagi ia akan membuka matanya. Sungguh keajaiban Tuhan."
"Alhamdulilah," ucap Bie dan Mami serempak. Begitu juga Bunda. Bie memeluk erat Barra meluapkan rasa bahagianya.
Beberapa saat kemudian Dimas meminta Bara. Ia menggendong Barra. Bie dan Dimas melihat perkembangan Keen dari balik kaca. Sore harinya, Bunda mengajak Barra pulang. Lama-lama di rumah sakit tak baik untuk kesehatannya.
Mami datang dari ruangan VIP yang akan Keen tempati nanti mendatangi Barra dan mengambil dari gendongan Bunda. Mami menimang dan mengajak Barra ngobrol.
"Biar Barra dengan Mami saja," ucap Mami.
Bie memandangi Dimas minta persetujuan. Tapi Dimas menaikan bahunya pertanda tak tau. Bie mendekti Mami.
"Maaf, Mami. Bukannya aku nggak mengizinkan tapi Barra belum terbiasa dengan Mami. Nanti jika ia rewel akan sulit bagi Mami membujuknya. Biar sama Bunda aja."
"Mami ingin dekat dengan Barra."
"Aku akan sering membawa Barra. Tapi untuk menginap, aku rasa nggak perlu, Mi. Pasti akan merepotkan Mami nantinya."
Mami akhirnya memberikan Barra kegendongan Bunda. Dimas memberikan amplop saat Bunda akan pulang.
"Dim, jangan. Aku masih ada uang," ucap Bie.
"Aku beri buat Bunda dan Barra," ucap Dimas. Mami yang melihat itu mendekati Bunda dan memberikan uang.
"Ini sedikit buat beli susu Barra," Mami memberikan ke tangan Barra.
"Mami, Dimas udah memberikan uang, itu sudah cukup buat beli susu."
"Mami ingin memberikan buat cucu mami ... boleh, kan?"
"Tentu saja boleh, Mi," gumam Bie.
Mami duduk di samping Dimas. Ia mengamati sikap Dimas pada Bie Unga sangat perhatian.
Di tempat lain, Cath sedang gelisah di kamar. Ia mendapat kabar dari Maminya jika Keen mengalami kecelakaan dan saat ini sedang di rawat. Cath ingin sekali membesuknya.
Kemarin ia sempat mendatangi rumah sakit, melihat ada Bie yang duduk depan ruang perawatan Keen. Cath mundur diri dan memutusan pulang.
Bagaimana keadaan Keen saat ini. Apa ia telah sadar. Aku ingin melihat keadaannya, tapi aku tak sudi bertemu Bie. Aku masih belum bisa terima pengkhianatannya.
Cath tak berani mengatakan jika ia ingin melihat keadaan Keen. Takut Papinya marah. Saat ini Papi Cath masih belum terima atas pantang Keen lakukan.
...........
Malam hari saat Bie sedang duduk ditemani Dimas, ia melihat dokter bergegas masuk keruangan Keen. Di barisan berbeda tampak Papi dan Mami Keen tak kalah kaget dengan Bie. Mereka berempat serempak mengintip dari balik kaca, melihat apa yang dokter lakukan.
"Keen kenapa, ya?" ucap Bie cemas.
"Jangan kuatir, Bie. Bukankah dokter tadi mengatakan jika Keen sudah melewati masa kritisnya. Semoga saja ada kabar baik nantinya."
"Dim, gue takut. Gue nggak akan sanggup jika terjadi sesuatu lagi dengan Keen."
"Kita berdoa saja yang terbaik buat Keen."
"Dim, terima kasih karena selalu saja ada saat gue bersedih."
"Bie, sahabat itu akan selalu ada saat suka apa lagi duka." Bie kembali menangis.
"Bie, jangan menangis terus. Lo lihat, keadaan Lo saat ini sangat menyedihkan. Jika nanti Keen sadar, pasti ia akan tambah sedih melihat Lo."
"Gimana caranya agar gue bisa menahan air mata ini."
"Ingat, Lo itu kekuatan buat Keen dan Barra. Lo harus bisa memperlihatkan ketegaran."
Dokter keluar dari ruangan menemui Papi Keen. Bie berjalan mendekati. Ia juga ingin tau keadaan Keen saat ini.
"Alhamdulillah Pak. Pasien udah sadar. Taoi belum bisa diajak mengobrol. Satu jam lagi bisa kami pindahkan ke ruang inap."
Bie yang mendengar ucapan Dokter tanpa sadar memeluk Dimas. Mami yang juga tampak senang memeluk Papi.
"Dim, gue nggak salah dengar, kan? Keen sadar. Keen telah sadar ...." ucap Bie.
"Iya, Bie. Doa Lo dikabulkan Tuhan."
"Alhamdulilah Tuhan. Dim, gue nggak tau harus berkata apa. Gue bahagia banget akhirnya semua doa gue dikabulkan."
Mami memandangi Bie. Ia mendekati Bie dan memeluk menantunya itu
"Terima kasih, Bie. Cinta kamu dan Barra membuat Keen kembali."
"Mami, ini berkat doa kita semua." Bie membalas memeluk Mami. Papi hanya memandangi saja.
Satu jam kemudian perawat menemui Papi mengatakan jika Keen udah bisa dipindahkan ke ruang inap. Perawat menanyakan kamar yang akan ditempati Keen.
Bersambung
*****************
Bagaimana keadaan Keen? Apakah semua baik-baik saja? Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.
Jangan lupa mampir ke novel terbaru mama SHE WAS UGLY. Mohon dukungannya. ❤❤❤❤❤❤
Mampir juga ke novel teman mama dibawah ini ya.