Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 30. Jadi Bapak Anak Lo



Dimas memeluk Bie dan membiarkan wanita yang ia cintai dalam diam itu menangis di dalam dekapan dadanya.


Setelah baju Dimas basah dan Bie sudah sedikit tenang, ia mulai bicara kembali.


"Bie ... gue ingin Lo ikut ke Jakarta dengan gue. Tak tega gue lihat Lo sendirian di sini. Kandungan Lo akan makin membesar."


Bie menengadahkan kepalanya memandangi Dimas.


"Gue tak mau menyeret Lo ke dalam masalah gue."


"Apa maksud Lo?"


"Kalau gue ikut Lo, akan menjadi tanda tanya bagi orang yang mengenal Lo. Mereka akan berpikiran jelek. Biarlah gue di sini. Gue juga udah mulai betah di sini."


"Gue tak peduli, Bie."


"Tapi gue peduli. Lo sahabat terbaik gue. Sakit hati gue nanti jika mendengar orang ngatain Lo. Gue bisa sabar jika ada orang yang ngatain diri gue. Tapi gue tak yakin akan sabar juga jika mendengar Lo dijelekin. Gue kenal Lo. Cowok terbaik yang ada dalam hidup gue. Tak akan pernah gue biarin ada orang berkata jelek tentang Lo."


Dimas menangkap wajah Bie dengan kedua tangannya dan tiba-tiba mengecup dahinya, membuat Bie menjadi kaget.


"Gue sayang Lo,Bie. Gue tak akan bisa belajar dengan tenang jika Lo di sini. Pasti gue akan selalu kepikiran Lo."


"Apa yang akan gue lakukan di Jakarta?"


"Gue akan kontrak satu toko buat Lo buka kantin atau kafe. Nanti akan kita cari satu atau dua orang yang membantu Lo."


"Lo pikir mudah buka usaha di Jakarta. Itu kota besar dan membutuhkan modal besar."


"Gue ada simpanan."


"Gue tak bisa, Dim. Itu uang untuk Lo buka usaha sendiri. Bukan untuk gue."


"Gue hanya modalin Lo. Nanti untungnya kita bagi dua."


"Dim, gue berterima kasih banget atas semua niat baik Lo. Tapi kali ini gue tak bisa menerimanya. Karena gue tau, itu uang buat Lo membuka usaha yang telah menjadi impian Lo dari dulu. Jika gue menerimanya, itu berarti sama aja gue udah memupuskan mimpi Lo.Sebagai sahabat, gue akan merasa bersalah jika semua mimpi Lo kandas karena gue."


"Gue bisa mencari uangnya nanti setelah wisuda. Atau minta modal dengan orang tua gue."


"Gue tau Lo bisa meminta dengan orang tua Lo. Tapi impian Lo dari dulu buka usaha dengan uang simpanan Lo."


Bie meraih tangan Dimas dan menggenggamnya.


"Dim, uang yang pernah Lo beri saat berangkat kemarin juga masih utuh. Akan gue gunakan saat masuk kuliah kembali. Kita akan meraih mimpi kita. Lo tetap kuliah di Jakarta. Gue di sini. Setelah gue lahiran. Akan gue pikirkan untuk kuliah di Jakarta atau di kota kelahiran gue. Setelah wisuda Lo bisa buka usaha. Nanti gue akan membantu."


"Apa Lo nggak takut jika suatu saat anak Lo udah bisa bicara dan bertanya tentang bapaknya."


"Gue belum kepikiran ke sana."


Dimas merubah duduknya menghadap Bie dan memegang kedua bahu Bie.


"Bie ... boleh gue jadi bapak anak Lo," ucap Dimas dengan lirih. Bie melepaskan tangan Dimas yang ada dibahunya dan mundur sedikit menjauh dari Dimas.


"Lo becanda," ujar Bie.


"Nggak, Dim. Gue tak bisa."


Dimas mendekati Bie dan kembali meraih tangan wanita itu.


"Bie ... ini demi anak Lo. Biar nanti dia nggak bertanya siapa ayahnya. Setelah nikah, Lo tak perlu menjalankan kewajiban sebagai istri gue. Kita hanya tinggal seatap tapi kita tetap pisah kamarnya. Ini semua hanya untuk status anak Lo."


"Gue tak bisa. Lo itu baik, bahkan baik banget. Jika ada orang bertanya kenapa gue tak pernah jatuh cinta dengan Lo. Jawabannya, bukannya tak pernah. Tapi sebelum rasa itu berkembang, gue cepat-cepat membunuhnya. Gue tak mau jatuh cinta dengan Lo karena gue tak ingin kehilangan Lo. Dim ... jika kita pacaran, saat kita putus pasti akan menjadi musuh dan tak akan bisa akrab lagi. Itulah yang gue hindari dari dulu. Seandainya Lo menggantikan tanggung jawab Keen dengan menikahi gue, dan suatu saat kita cek-cok gue takut Lo akan pergi jauh dan menghilang. Lo pikir selama gue di sini, gue tak merindukan Lo. Sangat ...sangat rindu." Bie menjeda ucapannya. Air mata sudah tumpah membasahi pipinya.


"Lo yang selalu ada untuk gue. Lo selalu menyediakan bahu Lo untuk gue bersandar. Baju Lo yang selalu basah dengan air mata gue. Tiga bulan ini gue hanya bisa menangis dalam kamar sendirian, itu menyiksa. Gue ingin ada dalam pelukan Lo." Dimas membawa Bie ke dalam pelukannya.


"Gue takut jika kita saling jatuh cinta dan salah satu dari kita terluka maka kita akan saling bermusuhan. Tak ingin bertegur sapa lagi. Gue tak mau itu terjadi. Biarlah kita seperti ini aja. Tetap jadi sahabat gue. Tetap jadi tempat gue berbagi. Tetap menjadi sandaran gue." Tangis Bie makin pecah.


"Jangan menangis lagi, Bie. Melihat air mata lo hati gue yang sakit. Gue tak akan pernah pergi. Percayalah bahu gue selalu siap untuk tempat Lo bersandar. Hanya satu pinta gue, jangan pernah sembunyikan apapun masalah Lo lagi."


Lama Dimas dan Bie saling berbagi. Waktu jam makan siang Bie membuatkan telor dadar untuk Dimas makan siang.


"Maaf, hanya ada telor di rumah gue. Nggak ada kulkas. Nggak bisa menyimpan bahan makanan lain."


Bie meletakkan sepiring nasi dengan lauk hanya telor dadar dihadapan Dimas.


"Setelah ini kita ke pasar. Beli kulkas dan mesin cuci buat Lo."


"Nggak perlu, Dim. Gue masih sanggup nyuci sendiri."


"Gue akan marah jika kali ini Lo masih juga menolak pemberian gue."


"Dim, jangan terlalu baik begini. Nanti gue terbiasa bergantung dengan Lo."


"Gue udah katakan, jika gue siap jadi tempat Lo bergantung. Lo tak perlu sungkan."


"Jika gue tak bisa membalas semua kebaikan Lo, gue berharap Tuhan yang akan membalasnya dengan memberikan selalu kebahagiaan untuk Lo."


"Sekarang Lo bersiaplah. Kita ke pasar."


"Lo tunggu sebentar." Bie masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya.


Sehabis makan siang, Bie akhirnya terpaksa mengikuti maunya Dimas. Sahabatnya itu membelikan kulkas, mesin cuci, kipas angin untuk Bie.




Dimas memilih menginap di sebuah wisma. Ia akan kembali besok.


Bersambung


**********************


Apakah yang akan dilakukan Dimas selanjutnya? Mungkinkah Dimas mengatakan kehamilan Bie pada Keen? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.