
Setelah melakukan hubungan terlarang Bie dan Keenan tertidur.
Ketika pagi menjelang, sinar matahari membangunkan Bie. Ia mengucek matanya. Kepalanya terasa pusing.
Beverly memandang ke samping, tampak Keenan yang tidur dengan tubuh polosnya. Beverly membuka selimut yang menutup tubuhnya dan semakin kaget melihat tubuhnya yang juga polos.
"Bangun Keenan, apa yang kau lakukan padaku," ucap Beverly mengguncang tubuh Keenan.
Keenan perlahan membuka matanya dan seperti Beverly ia juga kaget menyadari kalau mereka berada dalam satu kamar berdua.
"Apa yang telah kita lakukan, Keenan. Aku takut, " ucap Beverly disela tangisnya.
"Maafkan aku, Bie."
"Kenapa ini harus terjadi. Aku harus bagaimana, Keen."
Keenan membawa Beverly ke dalam pelukannya dan mencoba menenangkan wanita yang sangat ia cintai itu.
"Aku akan bertanggung jawab," ucap Keenan lirih.
"Apa yang harus aku katakan pada Catherine seandainya ia tau tentang kejadian ini."
"Mungkin udah saatnya kita berterus terang."
Beverly melepaskan pelukan Keenan dan berdiri dengan melilitkan selimut ke tubuhnya. Ia merasakan perih pada bagian inti tubuhnya.
"Lupakan saja semuanya. Semua ini tidak sepenuhnya salahmu, aku juga nggak tau kenapa malam tadi aku mau saja melakukan ini denganmu. Semoga kejadian ini tidak berakibat buruk bagiku dan juga kamu. Aku tak bisa mengkhianati sahabatku."
Beverly membawa pakaiannya menuju kamar mandi. Setelah berpakaian, ia meninggalkan Keenan di kamar itu sendirian tanpa berkata sepatah katapun.
Keenan yang tersadar segera mengambil pakaiannya dan mengejar Bie. Saat Bie akan masuk ke bus, ia menarik tangan Bie. Keenan meminta supir untuk terus jalan.
"Kita harus bicara, Bie."
"Sudah aku katakan. Tak ada yang perlu dibicarakan. Anggap saja semua tak pernah terjadi. Walau aku berharap semua ini hanya mimpi."
"Tapi ini tak bukan masalah kecil, Bie."
"Jika kamu tau ini bukan masalah kecil kenapa kamu menjebakku? Kamu sengaja membalas semua yang pernah aku lakukan dengan menghancurkan hidupku."
"Aku tak pernah menjebak kamu, Bie."
"Jangan pura-pura Keen. Pasti ada sesuatu di dalam air yang kamu beri buatku. Setelah minum air yang kamu beri, aku merasakan sesuatu yang beda di tubuhku ini." Bie berucap sambil air matanya jatuh membasahi pipi.
"Aku bersumpah Bie. Aku tak tau apa-apa. Aku juga merasa aneh dengan perubahan di tubuhku."
"Sekarang kamu puas. Kamu telah menghancurkan hidupku, Keen." Bie memukul dada Keen berulang kali. Keenan meraih tangan Bie dan membawa ke dalam pelukannya.
"Bie, aku mencintai kamu. Tak mungkin aku menghancurkan hidup orang yang aku cintai.Ini hanyalah kesalahan."
"Katamu ini adalah sebuah kesalahan. Tapi sebenarnya yang paling kejam adalah, sepertinya kesalahan ini milikku, karena mempercayaimu. Seharusnya, jangan pernah buat aku mencintaimu hingga pada akhirnya kau membuatku kecewa."
"Bie jangan pernah katakan itu. Kata-kata itu sangat kejam terdengarnya."
"Sebelum aku mengenal kamu, aku tidak pernah merasa sakit hati yang sesakit ini. Baru kali ini aku menyadari bahwa satu orang yang sama bisa menyakitiku dua kali, dengan kesalahan yang tak bisa aku maafkan."
"Bie, aku akan bertanggung jawab. Akan aku katakan semuanya pada orang tuaku."
"Bagaimana jika orang tuamu tidak bisa menerima."
"Aku bisa memaksa dan mengancam agar mereka menerima semua keputusanku."
"Bie, katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan aku."
"Tak ada, hanya aku minta jangan pernah dekati aku lagi. Anggap kita tak pernah kenal."
"Jika saat ini aku tidak menahanmu pergi bukan berarti aku tidak cinta lagi. Hanya saja,terkadang lebih baik melepaskan dari pada memaksa terus bersama.Memutuskan pergi dapat menjadi satu alasan untuk kebaikan kita bersama. Jika aku memutuskan untuk tetap menahanmu menetap dihati ini, aku takut hal tersebut menimbulkan rasa sakit, sesak yang membuat satu sama lain tak nyaman. Sehingga keinginan untuk kamu pergi memjauh dariku tidak akan pernah aku tahan lagi. Semoga kamu bahagia dengan keputusan ini. Aku doakan dimanapun kamu nanti, Tuhan selalu melindungimu."
Keenan melepaskan pelukannya setelah mengecup pucuk kepala Bie.
Bie berjalan menuju halte bus dan pulang dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
Saat sampai di panti Bunda langsung mencerca Bie dengan pertanyaan. Bie beralasan jika semua panitia di minta menginap.
Hingga acara kelulusan sekolah, Keenan dan Bie tidak pernah lagi bertemu. Tanpa Bie tau keluarganya telah mendaftarkan Keenan untuk kuliah ke luar negeri.
................
Satu bulan berlalu
Sudah satu minggu Bie merasa sesuatu yang lain pada tubuhnya. Ia sering pusing dan merasa mual.
Seperti pagi ini, saat Bie membuatkan sarapan nasi goreng buat adik-adik di panti, perutnya terasa mual dan ingin muntah.
Bie berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Bunda yang mendengar suara orang muntah menuju kamar mandi.
"Bie, apakah kamu di dalam?" ucap Bunda.
"Iya, Bunda," ucap Bie pelan.
"Kamu kenapa, nak?"
Bie membasuh mulut dan wajahnya sebelum membuka pintu kamar mandi.
"Kamu kenapa, nak?" Kembali bunda bertanya.
"Mungkin masuk angin, Bunda."
"Biar nanti Bunda kerok."
"Nggak usah Bunda. Nanti juga pasti hilang."
"Kalau gitu, kamu istirahat aja. Biar Bunda yang teruskan masaknya?"
"Tak apa Bunda. Biar aku selesaikan dulu, setelah itu aku istirahat."
"Istirahat aja, nanti kamu harus ke perguruan tinggi,kan? Buat daftar ulang, jika nggak datang, beasiswa kamu bisa dicabut."
"Baiklah, Bunda. Maaf aku jadi merepotkan, Bunda."
"Udah, jangan sungkan."
Bie masuk ke kamar dan mengambil minyak kayu putih, ia membalur ke seluruh tubuhnya dan membaringkan badan mencoba untuk tertidur.
Bersambung.
*****************
Bagaimanakah kisah cinta Bie dan Keenan selanjutnya?. Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.