Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 39. Barra anakku!



Mendengar ucapan Keenan, Bie tampak makin gugup. Jantungnya berpacu lebih cepat. Ia belum siap jika hari ini Keenan tau kenyataan tentang semua ini.


"Mana anakmu,Bie?" Keenan kembali mengulang pertanyaannya.


"Siapa yang mengatakan aku telah memiliki anak?"


"Adikmu di panti. Bie, kamu tak bisa mengelak dan berbohong lagi."


"Ya, aku memang telah memiliki anak. Kenapa? Wanita yang telah menikah tentu aja akan memliki anak."


"Kamu telah menikah."


"Ya, kenapa?"


Keenan melepaskan kukungannya. Ia memandangi wajah Bie dengan seksama.


"Kamu bohong ...."


"Kenapa aku harus berbohong? Jika aku belum menikah, bagaimana mungkin aku akan memiliki seorang anak?"


"Dia anakku, Bie."


"Atas dasar apa kamu mengatakan jika itu anakmu."


"Bie, jika aku tau kamu berbohong. Aku tak akan pernah memaafkan kamu. Aku akan memisahkan kamu selamanya dari anak itu. Seperti kamu yang telah menyembunyikan kebenaran ini dariku. Kamu boleh memilih, jujur atau berbohong."


Keenan berjalan meninggalkan Bie seorang diri. Sebelum jauh melangkah ia berbalik.


"Aku akan mencari tau kebenarannya. Aku akan lakukan tes DNA. Jika itu terbukti anakku, akan aku tuntut kamu dengan pasal menyembunyikan asal usul anak. Aku bisa melakukan apa saja padamu, Bie."


Baru beberapa langkah Keenan berjalan, terdengar suara isak tangis Bie. Ia terduduk dilantai.


"Jangan ambil anakku, kamu bisa melakukan apa saja. Jangan pisahkan aku dan Barra," isak Bie.


Keenan menghentikan langkah. Dilihatnya Bie yang menarik rambutnya seperti orang ketakutan. Keenan mendekati Bie dan memegang kedua bahu wanita itu.


"Bie, kamu kenapa?" ucap Keenan cemas melihat Bie yang seperti itu.


"Jangan ambil anakku. Aku mohon. Jangan pisahkan aku dengan Barra."


Keenan membawa Bie ke dalam pelukannya dan mencoba menenangkan Bie.


"Bie, siapa yang mau mengambil anakmu. Jika kamu jujur, aku tak akan melakukan apa-apa."


"Barra milikku. Hanya dia satu-satunya yang membuat aku kuat hingga saat ini. Jangan kejam denganku, Keen. Aku tak memiliki siapa-siapa selain Barra."


"Barra anakku?"


"Keen, kamu bisa memiliki anak dari Cath. Barra anakku. Barra anakku."


"Kamu jangan hanya menyalahkan Bie. Kamu seharusnya introspeksi diri," ucap Dimas yang entah sejak kapan muncul.


"Dim, Barra mana?" ucap Bie pelan.


"Barra ada di sini," ucap Dimas menunjuk ke kereta dorong.


Keen berdiri dan mendekati kereta bayi itu. Tampak Barra yang tersenyum ke arah Keen. Air mata Keen menetes dari sudut matanya. Ia memegang jari mungil Barra.



"Barra ...."


Bie berdiri di bantu Dimas. Ia menarik kereta bayi Barra dan mengambil Barra. Bie menggendong Barra erat.


"Kamu mau apa? Jangan ambil Barra," ucap Bie melihat Keenan mendekat. Dimas berdiri dihadapan Bie, melindunginya dibelakang punggung.


"Kenapa? Kamu takut pisah dengan anakmu? Apakah kamu tidak pernah berpikir jika kamu yang berada diposisiku? Anakmu disembunyikan keberadaannya darimu. Baru membayangkan saja kamu udah sesak dan ketakutan. Bagaimana perasaan aku saat ini?"


"Kamu tak bisa menyalahkan, Bie."


"Kenapa aku tak boleh menyalahkan, Bie. Bagaimana jika kamu yang berada diposisiku. Apa kamu bisa terima jika kebenaran tentang anakmu disembunyikan."


"Tapi Bie tak pernah ingin menyembunyikan semua itu darimu. Saat ia akan mengatakan kebenaran jika ia sedang hamil anakmu, Bie mendapat kabar jika kamu akan bertunangan dengan Cath."


"Itu bukan alasan. Jika Bie mengatakan semu kebenaran ini pasti aku tak akan melangsungkan pertunangan itu."


"Kamu mungkin akan bisa membatalkan pertunangan itu. Bagaimana dengan orang tuamu dan orang tua Cath. Apakah ia bisa menerima semua ini. Apakah orang tuamu akan bisa menerima aku? Pasti mereka akan menyalahkanku. Aku pasti dianggap telah merusak masa depanmu. Aku pasti dianggap sengaja menjebakmu agar kamu mau menikahiku," ucap Bie.


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu?"


"Aku ini miskin dan tak punya saudara. Asal usulku tidak diketahui. Orang tua mana yang mau menjadikan aku menantu? Kamu tidak pernah merasakan miskin. Sering dipandang sebelah mata. Dianggap benalu. Dianggap numpang hidup. Aku sudah merasakan bagaimana pahit dan kerasnya hidup ini dari kecil. Aku tak memiliki apa-apa selain harga diriku ini. Aku tak mau jika orang tuamu memandang hina padaku dan menginjak harga diriku. Lebih baik aku mundur dari pada nanti aku merasakan semua itu." Bie memegang dadanya yang terasa sesak. Akhirnya ia dpata mengatakan semua kebenarannya.


"Apa kamu tak pernah sedikit saja memikirkanku. Kamu itu egois Bie. Kamu hanya memikirkan harga dirimu. Bagaimana dengan harga diriku? Kamu telah mencampakkan harga diriku. Kamu seenaknya meminta aku untuk menerima Cath. Kamu selalu menolakku. Kamu tak pernah menghargai cintaku. Apakah kamu tak tau, jika aku tak ada harganya lagi di mata Cath. Dia sengaja meminta orang tuanya untuk menjodohkan aku dan dirinya. Aku ini seolah telah dibeli keluarganya dengan memberikan saham pada keluargaku. Ini semua berawal dari kamu, Bie. Jika saja kamu tak meminta aku menerima Cath, pasti ia tak akan pernah berharap akan cintaku."


Bie terdiam mendengar ucapan Keenan. Ia tak pernah berpikir jika selama ini Keenan juga sama terluka dengan dirinya.


Bersambung


********************


Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Keenan akan mengambil Barra dari Bie? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.


Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.