
Cath pulang dengan amarah. Sampai di rumah ia langsung masuk ke kamar. Cath berteriak dan membuang, membanting barang-barang yang ada di kamar.
Bibi yang di minta orang tua Cath untuk memanggil anaknya itu kaget mendengar suara pecahan kaca. Bibi mengetuk pintu dengan keras karena panik. Berharap jika putri majikannya itu mau membukakan pintu.
Setelah beberapa saat mengetuk pintu, tapi Cath tak jua membukanya. Bibi kembali ke lantai bawah menemui orang tua Cath.
Bibi mengatakan jika Cath sepertinya sedang marah. Ia melempar semua barang dan terdengar pecahan kaca. Papi dan Mami Cath tampak cemas. Mereka berlari menuju lantai atas ke kamar Cath.
Papi dan mami mengetuk pintu dengan cemas. Setelah beberapa saat pintu tak jua dibuka. Papi meminta kunci cadangan pada bibi. Papi mencoba membukanya. Akhirnya pintu berhasil terbuka.
Papi dan mami masuk dengan hati-hati karena lantai penuh dengan pecahan kaca. Mami mendekati Cath yang menangis di lantai sambil memeluk kedua kakinya.
"Sayang, ada apa ini? Kenapa kamu, Nak?" ucap mami memeluk Cath.
Cath masih terisak tanpa menjawab pertanyaan mami. Papi meminta bibi membersihkan kamar. Papi menggendong Cath dan menidurkan di kasur.
Cath merupakan putri satu-satunya, itulah mengapa Cath sangat di sayang dan di manja kedua orang tuanya.
Sebenarnya Cath dulu memiliki adik yang umurnya hanya terpaut satu tahun dua bulan dibawah Cath umurnya. Adiknya itu di bawa kabur seorang pembantu yang dendam pada kedua orang tua Cath karena pernah di tuduh mencuri. Adiknya Cath juga perempuan.
"Ada apa, Sayang? Bicaralah,Nak. Kamu kenapa?" ucap mami cemas.
"Aku mau papi batalkan pertunanganku dan juga menarik investasi di perusahaan papinya Keen," ucap Cath.
"Kenapa? Apa Keen menyakitinya?" ucap papi emosi.
"Keen telah menikah dengan Bie. Mereka berdua mengkhianati aku."
Papi dan mami kaget mendengar ucapan Catherine. Mereka tak percaya mendengar ucapan Cath. Mami mengulang bertanya pada Cath untuk meyakinkan pendengarannya.
"Apa mami tidak salah dengar? Keen telah menikah dengan Bie?"
"Ya, mereka sendiri yang mengatakan padaku."
"Apakah orang tua Keen tau?" tanya Papi.
"Aku rasa tidak, Pi. Aku mau papi membalas sakit hatiku. Keen dan Bie harus hancur."
"Kenapa Bie tega melakukan itu? Apakah sebenarnya mereka telah ada hubungan."
"Aku tak mau tau. Apakah mereka ada hubungan sebelum Keen bertunangan denganku atau pun tidak. Mereka tetap pengkhianat!" teriak Cath.
"Baiklah. Besok papi akan ke kantor Papinya Keen. Akan papi tarik semua investasi di perusahaan itu. Tapi sekarang kamu harus makan. Papi dan mami tak mau kamu sakit. Akan papi carikan pria yang jauh lebih segalanya dari Keen. Papi pastikan keluarga Keen menyesal karena telah mempermainkan kamu."
Bibi membawakan makanan yang mami Cath minta. Dengan bujukan mami menyuapkan nasi ke Cath. Akhirnya Cath mau menghabiskan makanan itu.
Di kediaman Bie, ia saat ini sedang memasak untuk makan malam mereka. Barra di masukan ke kereta dorong. Keen mendorongnya menuju dapur. Keen memeluk Bie dari belakang dan mencium pipi Bie. Ia juga mengecup tengkuk Bie
Bie yang merasa kegelian menghentikan kegiatannya dan membalikkan tubuh menghadap suaminya itu.
"Kamu tuh, ganggu aja. Nanti aku jadi lama masaknya."
"Bie, besok aku harus kembali ke rumah. Aku rasanya enggan pulang. Andai saja aku telah memiliki usaha sendiri, aku tak harus pulang. Akan aku bawa kamu langsung ke papi. Walaupun papi tidak merestui, aku tak akan. pernah peduli."
"Emangnya kalau sekarang papi juga tak merestui bagaimana?"
"Aku juga tetap tak peduli. Aku tak mau pisah dengan kamu dan Barra. Walaupun papi mengancam akan membunuhku, aku tak akan takut. Aku tetap memilih bersamamu. Tak ada yang yang bisa memisahkan kita kecuali maut, Bie."
"Aku juga tak ingin pisah darimu lagi."
"Jika suatu saat aku harus pergi meninggalkan kamu untuk selamanya, aku mau kamu menikah dengan Dimas jika ia belum ada pasangan. Karena hanya Dimas yang mengerti kamu,bahkan melebihi aku."
"Kamu bicara apa? Aku tak suka itu."
"Bie, jika aku harus pergi ... tetaplah tersenyum, jangan ada lagi air mata. Kamu harus ingat, Bie ... hanya kamu yang ada dihati ini, kemarin, hari ini dan selamanya."
"Jangan bicara begitu," ucap Bie. Air mata jatuh membasahi pipinya.
"Jangan menangis. Aku lapar, masak lagi. Aku bantu ya. Mumpung Barra diam, tak rewel." Keen melepaskan pelukan dan mengecup dahi Bie.
Keen membantu Bie memasak. Setelah masak dan makan malam, Keen dan Bie bermain bersama Barra sambil menonton televisi.
Bersambung
********************
Apakah reaksi orang tua Keen saat mengetahui jika putranya telah menikah secara diam-diam?
Jangan pernah bosan menantikan kelanjutan dari kisah novel ini. Terima kasih. 😘😘😘
Mampir juga ke novel teman mama ya. Tak kalah seru.