Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 51. Bertemu Cath



Cath berjalan perlahan ingin mendekati Bie. Tapi tangannya di tahan seseorang, sehingga langkahnya terhenti. Cath membalikkan badannya menghadap orang yang menarik tangannya.


"Kamu ...." ucap Cath dengan emosi.


"Sedang apa kamu diparkiran."


"Pertanyaan yang sama untukmu. Sedang apa kamu diparkiran?"


"Aku tadi lagi suntuk, jadi jalan-jalan."


"Kamu bersama Bie, dan anak siapa yang di gendongnya."


"Kamu melihat, Bie. Dimana?"


"Jangan pura-pura,Keen. Kamu datang bersama Bie, bukan? Jadi alasan kamu memutuskan pertunangan kita agar bisa kembali bersama Bie."


"Aku aja mencari keberadaannya, saat aku ke panti dia udah tak tinggal di sana lagi."


"Omong kosong apa ini?"


"Kamu pasti tau jika Bie tidak ada lagi di panti dari orang tuamu. Jadi sekarang siapa yang berpura-pura, kamu apa aku?"


"Sudahlah, aku malas berdebat apalagi melihatmu."


"Aku mengharapkan kamu juga membenciku, agar kamu tak mengharapkanku lagi." Keen berucap dengan suara dingin.


Cath tak menjawab ucapan Keen, ia berjalan perlahan meninggalkan Keen. Cath masuk ke mobil dan menjalankan perlahan.


Aku yakin tadi itu Bie. Tapi anak siapa yang digendongnya. Apakah ia telah menikah? Apakah itu yang menyebabkan Bie meninggalkan panti.


Setelah meyakinkan mobil Cath menjauh, barulah Keen menghubungi Bie kembali. Tadi Keen yang meminta Bie menjauh dan mengatakan ada Cath yang mengikutinya.


Bie keluar dari tempat persembunyian. Ia berjalan menuju mobil Keen dan segera masuk. Bie tampak cemas. Ia memeluk erat tubuh Barra.


"Maaf, Bie. Aku minta kamu pergi karena belum saatnya Cath tau pernikahan kita, apa lagi tetang Barra. Aku ingin meyakinkan papi untuk mengizinkan kuliah di sini. Perlahan baru aku mengatakan tentang kamu dan Barra."


"Tak apa, Keen. Aku mengerti. Untung saja tadi Cath tidak menemuiku."


Keen menyetir mobil menuju rumah kontrakan Bie. Ia membawa semua perlengkapan rumah dan bahan makanan yang ia beli. Setelah membantu Bie membereskan semua, barulah Keen pamit pulang.


Bie mandi dan ikut tidur bersama Barra, ia memeluk tubuh Barra putranya itu.


"Sayang saat ini, kita belum bisa bersama papi terus karena papi harus meyakinkan Opa untuk dapat menerima kita. Doakan hati Opa terbuka dan ikhlas menerima kita, terutama kamu cucunya, Nak," ucap Bie mengusap rambut Barra. Setengah jam, barulah Bie ikut terlelap.


............


Pagi harinya Bie yang sedang membuat sarapan dikejutkan suara ketukan pintu. Ia berjalan menuju pintu.


"Siapa sih pagi-pagi bertemu?" gumam Bie sambil membuka pintu. Bie kaget melihat siapa yang datang.


"Dimas ... masuklah! Gue baru selesai buat sarapan."


"Lo tau aja kalau gue belum sarapan."


"Gue ini sahabat Lo, hafal semua kebiasaan dan kesukaan Lo."


"Mana jagoanku, Bie."


"Masih tidur. Subuh bangun ngajak main. Baru merem pagi. Tapi syukurlah, gue jadi bisa masak."


"Keen masih tidur juga?"


"Keen di rumah kedua orang tuanya."


"Oh ... kamu yang sabar ya, Bie. Keen lagi berusaha mendekati kedua orang tuanya agar diizinkan kuliah di sini. Dia juga ingin mengenalkan kamu dan Barra pada kedua orang tuanya."


"Tenang, Dim. Aku telah biasa hidup berdua Barra, jika Keen tak bisa nginap setiap hari bagiku biasa aja."


"Gue hari ini bernagkat. Lo tak perlu mengantar. Gue akan pergi dengan papa. Nanti Lo canggung karena tak akrab dengan papa. Gue harap Lo akan tetap menghubungi gue jika perlu bantuan."


"Jangan kuatir, gue akan selalu minta bantuan Lo sampai Lo bosan membantu gue nantinya."


"Gue tak akan pernah bosan. Gue akan selalu membantu Lo."


Setelah menyantap makanannya dan bermain dengan Barra yang telah bangun, Dimas pamit. Siang hari ia harus berangkat kembali ke Jakarta.


Dimas menggendong Barra dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Setelah puas menggendong dan mencium Barra, ia serahkan kembali ke gendongan Bie.


"Semoga dengan pernikahan Lo dan Keen adalah awal kebahagiaan. Tak ada lagi air mata yang membanjiri pipi Lo ini." Dimas mencubit pelan pipi Bie. Ingin rasanya ia mengecup pipi wanita yang sangat ia cintai itu. Tapi ia sadar itu tak mungkin. Apa lagi saat ini Bie telah menjadi istri sahabatnya.


"Gue tak bisa berkata apa lagi selain ucapan terima kasih. Semoga Lo menemukan gadis yang Lo cintai."


"Gue pamit."


"Liburan ke sini, kan?"


"Tentu, gue pasti akan sangat merindukan jagoan ini."


"Hati-hati. Salam buat papa dan mama."


"Oke. Ini buat jagoan." Dimas memberikan amplop ke tangan Bie.


"Nggak perlu, Dim. Ambil lagi.Simpan buat nambah modal usaha Lo."


"Bie, gue tau saat ini Lo udah ada yang menanggungnya. Tapi ini gue beri ikhlas untuk Barra. Gue udah menganggap Barra seperti anak sendiri. Gue harap Lo nggak keberatan."


"Gue tak tau harus ngomong apa. Lo baik banget." Bie tanpa sadar mengeluarkan air matanya.


"Nangis lagi. Udah gue bilang. Jangan ada air mata di pipi Lo ini." Dimas menghapus air mata Bie. Ia pamit dan masuk ke dalam mobil.


Sementara itu diperusahan papinya Keen sedang mengobrol dengan orang tuanya itu. Ia akan mencoba membujuk papinya untuk mengizinkan ia kuliah di kota ini.


Bersambung.


****************


Apakah Keen dapat meyakinkan papinya? Nantikan terus ya kelanjutan novel ini. Terima kasih.