
Bie dan Bunda masuk ke dalam mobil yang telah mereka sewa. Bunda menitipkan panti pada anak-anak. Mereka sudah ada yang duduk di bangku sekolah menengah.
Sebelum berangkat, Bie memeluk adik-adiknya satu persatu. Ia berpesan untuk membantu Bunda membersihkan panti dan memasak.
Dengan berurai air mata Bie meninggalkan panti. Bunda memberikan semangat untuk Bie agar lebih kuat.
Sampai di kampung halamannya Bunda. Bie dititipkan dengan saudara Bunda. Ia menempati rumah peninggalan orang tua Bunda.
Bie ingin memulai hidup dengan mencoba membuka warung di salah satu sekolah dasar.
Saudara Bunda yang akan membantu Bie di awal membuka warung. Bunda hanya mengatakan jika Bie sedang hamil dan ia tak bisa bersama ayah sang bayi karena ada masalah.
Bunda hanya menginap satu hari dan setelah ia yakin Bie udah siap, Bunda pulang kembali ke panti.
"Jangan lupa hubungi Bunda secepatnya jika ada masalah."
"Baik Bunda."
"Kamu nanti juga akan di minta membantu mengajar anak kelas satu, kepala sekolah akan memberikan uang saku secukupnya."
"Iya, Bun. Bunda hati-hati. Jangan terlalu capek. Jaga kesehatan."
"Kamu juga harus jaga kesehatan, ingat ada bayi yang saat ini menumpang hidup di tubuh mu."
"Bunda, jika Dimas menanyakan aku, katakan saja aku pergi dari panti tanpa kabar. Biar Sini tidak banyak tanya lagi."
"Bunda sebenarnya nggak sampai hati berbohong dengannya. Anak itu baik banget."
"Aku tak mau merepotkan Dimas lagi. Ia terlalu sering membantuku selama ini. Aku malu merepotkan Dimas terus."
"Baiklah jika itu maumu, Bunda hargai Apapun itu keputusan kamu."
"Bunda, ini ada sedikit uang buat kebutuhan adik-adik." Bie memberikan sebagian uang yang Dimas berikan untuknya.
"Jangan, Nak. Buat kamu aja. Kamu akan banyak membutuhkan uang nanti. Apa lagi saat mau melahirkan."
"Tidak apa, Bunda. Aku akan berjualan di kantin sekolah. Bisa buat kebutuhan hidupku nanti."
"Simpan aja. Nanti saat kamu ingin melanjutkan kuliah, kamu pasti akan banyak membutuhkan biaya. Karena kamu kuliah mandiri."
"Itu nanti bisa di cari lagi."
"Dari mana kamu dapatkan uang ini, Nak."
"Dari Dimas. Aku kira uang yang Dimas beri hanya berjumlah satu atau dua juta. Ternyata ia memberikan aku uang tunai lima juta dan cek senilai dua puluh juta. Yang lima juta Bunda gunakan buat kebutuhan adik-adik. Yang dua puluh juta ini akan tetap aku simpan. Dimas mengatakan uang ini buat kuliahku. Akan aku gunakan nanti. Setelah aku sukses, aku akan menggantikan semua uang yang pernah ia berikan untukku."
"Dimas baik banget."
"Iya, Bunda. Aku akan selalu berdoa semoga ia diberikan kebahagiaan."
"Bunda pamit dulu." Bie memeluk Bunda erat.
Mobil yang membawa Bunda mulai hilang dari pandangan Bie. Ia kembali masuk ke rumah yang akan ia tempati sampai nanti melahirkan.
............
Dua hari telah berlalu, Bie udah mulai membuak warung di kantin sekolah dasar itu. Bie menjual nasi goreng, mie goreng dan jajanan anak-anak lainnya.
Di panti siang ini Bunda kedatangan tamu. Keenan ternyata mencari Bie.
"Selamat siang, Bunda. Bie ada ...." ucap Keenan.
"Iya,Bunda."
"Kenapa mencari Bie."
"Aku ingin bicara, Bunda."
"Bunda rasa tak ada yang perlu kamu bicarakan lagi dengan Bie. Bukankah kamu telah bertunangan dengan Cath. Apa nanti kata Cath jika melihat kamu mencari Bie."
"Tapi aku harus bicara dengan Bie, Bunda."
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan. Apakah belum cukup kamu menghancurkan hidupnya?" ucap Bunda mulai terbawa emosi.
"Aku minta maaf, Bunda. Apa Bie mengatakan semua yang terjadi pada Bunda?"
"Tentu saja. Bie itu anakku. Apapun yang terjadi pasti ia akan mengatakan. Apa kamu pikir dengan kata maafmu itu semua akan dapat kembali. Gara-gara kamu Bie kehilangan masa depannya. Sahabatnya. Masa mudanya. Ia harus menanggung malu."
"Bunda, sekali lagi aku minta maaf. Tak pernah aku berniat menghancurkan hidup Bie. Aku mencintainya. Mana mungkin aku tega menyakitinya. Semua terjadi karena kekhilafan."
"Jika kamu memang mencintainya. Lupakan Bie. Jangan pernah temui dirinya lagi. Sejak Bie berkenalan denganmu hanya kesedihan yang ia dapat. Ia selalu menangis. Beban hidupnya selama ini telah banyak, kamu tambah lagi dengan memberikan satu beban yang akan ia bawa seumur hidup."
"Apa maksud, Bunda?"
"Sudahlah. Bunda harap kamu tidak akan pernah menyesali perbuatanmu."
"Bunda, katakan apa sebenarnya yang terjadi? Izinkan aku bertemu Bie sebentar saja."
"Bie tidak ada lagi di sini. Ia telah pergi."
"Bunda pasti bohong."
"Buat apa Bunda bohong, jadi Bunda minta pergilah kamu. Jangan buat Bunda makin kesal."
"Kemana perginya, Bunda. Aku bisa temui."
"Jangan ganggu Bie lagi. Biarkan ia menenangkan dirinya."
"Baiklah Bunda ... katakan pada Bie. Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan padanya. Kapanpun Bie ingin aku bertanggung jawab, aku akan selalu siap."
"Bagaimana dengan Cath?"
"Aku tak pernah mencintai Cath. Aku akan memutuskan hubungan dengannya."
"Begitu mudahnya kamu mengatakan itu, Keen. Mana tanggung jawabmu? Jika memang kamu tak mencintai Cath, kenapa menerimanya. Pemikiranmu belum dewasa. Bagaimana bisa kamu menjadi seorang ayah jika masih begini?"
"Ayah ...Apa maksud bunda?"
"Bukankah tadi kamu mengatakan akan bertanggung jawab pada Bie. Jika kalian menikah, pasti kamu akan jadi ayah."
"Bunda, aku tak tau harus berkata apa lagi. Katakan pada Bie, aku pamit. Aku akan kuliah ke luar negeri. Seperti maunya Bie, aku akan pergi menjauh. Aku tak akan pernah mengganggunya lagi. Maafkan jika kehadiran aku selama ini hanya memberikan luka. Aku akan selalu mencintainya. Bunda, permisi. Aku akan berangkat besok, jika Bie berubah pikiran dan ingin bertemu, hubungi aja."
Keenan menyalami Bunda. Setelah itu masuk ke mobil dan menjalankannya perlahan.
Bersambung
*************
Terima kasih buat semua pembaca setia novel ini. 😘😘😘😘