Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 57. Aku Cinta Kamu, Bie.



Jam tiga pagi Keen terbangun dilihatnya Bie dan Barra yang masih tertidur pulas. Keen duduk bersandarkan kepala ranjang. Dielusnya rambut Bie hingga wanita itu terbangun.


Bie menengadahkan kepalanya memandangi Keen. Ia tersenyum memandangi wajah suaminya.


"Jam berapa ini? Kenapa kamu udah bangun?" tanya Bie. Ia melihat jam dinding, kaget setelah tahu jika masih jam tiga pagi.


"Aku ingin melihat wajah kamu dan Barra."


"Kamu seperti mau pergi jauh aja. Kamu masih bisa melihat wajahku dan Barra setiap saat."


"Aku nggak tau, Bie. Perasaanku nggak enak dari kemarin." Bie bangun dan duduk bersandar dada suaminya.


"Kenapa? Kamu mikirin apa?"


"Aku mikirin kamu dan Barra. Aku ingin Barra bisa hidup bahagia. Aku takut tak bisa memenuhi semua kebutuhan Barra nantinya."


"Sayang ... rezeki, maut dan jodoh itu rahasia Tuhan. Aku yakin kamu pasti akan dapat memenuhi semua kebutuhan kami."


"Kamu panggil aku apa tadi, Bie?"


"Sayang ...."


"Aku juga sayang kamu,Bie. Aku sayang kamu melebihi dari yang kamu tau." Bie memeluk erat tubuh Keen. Sesungguhnya dari malam perasaan Bie juga tidak menentu. Seperti hampa.


"Maafkan jika aku pernah membuat kamu jauh dari Barra. Maafkan aku karena pernah melukai kamu. Maafkan aku karena memaksa kamu menerima cinta Cath. Maafkan aku ... maafkan aku," ujar Bie. Bie bergerak naik ke paha Keen. Ia duduk dipangkuan suaminya itu.


"Badanku berat,ya?"


"Nggak, aku senang kamu manja begini." Keen memeluk pinggang istrinya. Ia mengecup bibir Bie lembut. Tapi lama-lama ciuman itu mulai menuntut. Mereka akhirnya saling berpagutan. Melihat Bie yang mulai sesak, Keen melepaskan pagutan mereka.


"Bie, jika aku boleh meminta pada Tuhan, aku akan minta waktu berhenti saat ini juga. Agar aku bisa terus bersama kamu dan Barra. Aku ingin seperti saat ini selamanya."


Bie memeluk tubuh Keen. Perlahan tangan Keen membuka kancing baju istrinya. Ia menjatuhkan tubuh Bie pelan ke atas kasur.


Keen menaiki tubuh Bie dengan perlahan. Ia mengecup dahi istrinya. Mata mereka bertemu. Bie tersenyum manis buat Keen.


"Aku mencintaimu, Bie," ucap Keen. Ia mengecup mata, hidung dan bibir istrinya. Setelah puas dengan wajah, ciuman Keen mulai turun keleher jenjang istrinya. Perlahan tapi pasti ciuman makin lama makin turun. Keen dan Bie melakukan penyatuan dengan sangat lembut. Setelah sama-sama mencapai puncaknya, Keen menjatuhkan tubuhnya kesamping.


Sepuluh menit Keen istirahat. Setelah Bie menyusui Barra dan putranya terlelap kembali, Keen mengajak Bie mandi bareng. Barulah mereka melaksanakan solat subuh.


Bie membuat sarapan, sementara Keen bermain dengan Barra di atas tempat tidur. Pagi ini Keen berencana akan kembali ke rumah. Ia akan berterus terang mengenai pernikahannya.


Setelah membuat sarapan, Bie memandikan Barra dan memberikan susu. Ia memasukan Barra ke dalam kereta dorong. Bie senang melihat Keen makan dengan lahapnya.


Keen pamit kembali ke rumah orang tuanya sekitar putar sepuluh. Ia mengecup pipi Barra gemas. Keen seakan enggan melepaskan putranya itu.


"Sayang, papi pergi dulu ya. Jangan nakal dan rewel. Papi sayang banget padamu. Papi harap kamu dapat melindungi mami dari siapapun jika kelak dewasa." Keen kembali mengecup pipi Barra.


Keen memberi Barra ke Bie, ia mengecup dahi dan bibir Bie.


"I love you more," bisiknya.


"Papi akan segera kembali.Papi sayang kalian berdua." Keen kembali mencium pipi Barra dan Bie.


...........


Keen sampai di rumah pukul satu siang. Ia langsung menuju kamarnya. Keen menyelipkan foto pernikahannya dengan Bie di dalam buku. Ia juga meletakkan foto Barra. Foto mereka bertiga dimasukkan ke bingkai menggantikan fotonya.


Keen tersenyum melihat foto dirinya, Bie dan Barra. Ia tadi sengaja mencetak dari ponselnya. Setelah itu Keen merebahkan dirinya.


Baru setengah jam ia merebahkan dirinya dan mata akan terpejam, terdengar suara papi berteriak memanggil namanya.


Keen keluar kamar dan menemui Papi yang berteriak memanggil namanya.


"Kenapa papi berteriak. Nggak bisa manggilnya pelan. Aku belum budek," ucap Keen.


"Duduk ...." ucap papi tampak emosi.


"Apa yang telah kamu lakukan pada Cath."


"Aku tak melakukan apa-apa," ucap Keen.


"Jangan bohong, Cath dan kedua orang tuanya menemui papi dan mengatakan semua yang kamu lakukan."


"Apa yang papi maksud, aku memutuskan pertunangan dengan Cath."


"Apa kamu sudah gila. Kamu tau semua itu akan memengaruhi perusahaan."


"Rezeki bukan dari orang tua Cath, Pi. Kita bisa melakukan sesuatu untuk memajukan perusahaan."


"Kita ... apa yang bisa kamu lakukan. Kamu hanya bisa menghabiskan uang, bukan menghasilkan!"


"Aku akan berusaha melakukan segala cara untuk kemajuan perusahaan, Papi."


"Omong kosong. Sekarang terus terang saja ... apakah benar kamu telah menikah diam-diam tanpa restu Papi dan Mami."


Keen tersenyum mendengar ucapan Papinya. Ia telah yakin jika papi Cath memutuskan kerjasama karena telah mengetahui pernikahannya dan Bie.


Bersambung.


*******************


Apakah Keen akan jujur dengan papinya? Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.


Sementara menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman-teman mama dibawa ini. Tak kalah seru dengan novel ini