Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 14. Apa salahku, Catherine?



Setelah bolos sekolah selama tiga hari, Beverly hari ini datang dengan berjalan kaki. Ia sengaja pergi dari panti pagi setelah solat subuh. Bunda yang heran dengan sikap Beverly bertanya. Tapi gadis itu hanya menjawab, jika ia sedang tak ingin pergi bersama Dimas. Bunda tak ingin bertanya lebih jauh, menganggap itu hanya urusan anak muda.


Ia berjalan dengan langkah pelan. Banyak mata memperhatikannya. Beverly menyadari itu. Pasti karena kasus pertengkaran Dimas dan Keenan. Apa lagi hari itu ia langsung pulang, tidak melanjutkan pelajaran hingga usai.



Sampai di kelas, ia melihat Catherine dan langsung tersenyum. Ia mendekati gadis itu lalu memeluknya seperti biasa.


Catherine melepaskan pelukannya. Beverly menjadi kaget dengan sikap Cath.



"Kenapa, Sayang? Marah karena gue nggak sekolah tiga hari ini, ya," ucap Bie.


"Bie, mulai hari ini sepertinya kita harus menjaga jarak."


"Kenapa ....?" ucap Beverly dengan suara bergetar menahan tangis.


"Nggak perlu gue beri alasan. Hanya saja gue udah merasa kurang nyaman berteman dengan lo saat ini."


"Nggak nyaman? Apa gue melakukan kesalahan?" ucap Bie.


"Semua teman menggosipkan kita. Mereka mengatakan jika Keenan dan Dimas bertengkar karena memperebutkan Lo. Itu membuat gue sangat tak nyaman. Lo tau kan jika Keenan itu pacar gue."


"Cukup, Cath. Gue mengerti. Seperti yang Lo minta, gue akan menjauh dari Lo. Tapi satu yang perlu Lo ingat, sampai kapanpun Lo adalah sahabat terbaik gue. Jika saat ini gue ikut menjauhi Lo, ini semua gue lakuin untuk kenyaman Lo." Bie berjalan ke bangku tempat duduknya. Tangisnya pecah. Ia tak bisa menahannya. Walau ia tahu pasti saat ini teman sekelas sedang memperhatikannya.


Dari tempat duduknya Cath melirik ke Bie yang menangis. "Maafkan gue, Bie. Gue harus mengambil keputusan ini. Gue tak mau pisah dari Keenan. Lo juga tetap sahabat terbaik gue." Batin Cath bicara.


Bel istirahat berbunyi, Bie langsung menuju taman tanpa melihat ke arah Cath, Dimas apa lagi Keenan. Ia duduk di sudut tempat biasanya.


Alex yang juga ada di taman mendekati Bie dan berdiri dihadapan gadis itu.


"Terbukti bukan ucapan gue. Cath itu bukan sahabat yang baik. Selama ini Cath mau bersahabat dengan Lo hanya karena kepintaran Lo. Cath itu bukan sahabat baik seperti selama ini Lo pikir. Dia banyak memberi selama ini hanya agar Lo merasa berutang budi padanya dan mau melakukan apa saja yang ia inginkan."


"Bisa Lo tinggalkan gue sendiri. Gue lagi tak ingin berdebat, Lex," gumam Bie.


"Oke, gue hanya ingin Lo membuka mata. Jangan mau diinjak terus." Alex lalu berjalan meninggalkan Bie sendiri.


Apa yang dikatakan Alex itu pasti salah. Alex sengaja ingin mengompori agar aku membenci Cath. Aku yakin semua ini hanya karena kesalah pahaman. Aku akan menjelaskan semuanya pada Cath suatu hati nanti. Saat ini pasti Cath hanya terhasut dari omongan teman-teman.


Dimas menghampiri Bie yang membaca buku dengan air mata yang terus menetes. Tampak menyedihkan sekali keadaannya Bie saat ini.


"Kenapa Lo menangis," ucap Dimas. Bie menengadahkan kepalanya menatap Dimas.


"Lebih baik Lo jauhi gue." Bie berkata lirih.


"Kenapa ....? Apa salah gue."


"Lo nggak ada salah. Yang salah hanya nasib gue. Kenapa gue nggak terlahir dari orang tua utuh? Kenapa gue bukan dari keluarga mampu? Kenapa gue ...."


Dimas menutup mulut Bie sebelum ia melanjutkan kata-katanya lagi.


"Jangan pernah menyesali takdir, Bie. Semua yang diberikan Tuhan itu pasti yang terbaik. Banyak di luar sana yang bernasib lebih kurang beruntung. Lo diberikan kepintaran, kecantikan dan hati yang tulus. Tidak semua orang memiliki itu."


"Tapi setiap yang dilakukan orang tak mampu pasti salah di mata orang-orang. Jika kita kaya walaupun kita melakukan kesalahan, tetaplah dianggap benar."


"Itu hanya pemikiran orang picik."


"Lo marah karena gue memukul Keenan. Atau karena Lo percaya omongan Keenan."


"Gue hanya ingin sendiri."


"Kalau itu memang mau Lo, baiklah. Demi persahabatan kita, akan gue lakukan apa mau Lo. Tapi gue harap Lo masih mau menghubungi gue jika Lo butuh bantuan dari gue."


"Terima kasih, Dim."


Dimas berjalan dengan langkah pelan meninggalkan Beverly seorang diri. Kembali tangis Bie pecah saat tubuh Dimas telah menghilang dari pandangannya.


Maafkan aku, Dim. Ini yang terbaik buat kita. Aku tak mau salah paham ini makin berlarut.


..............


Ketika pulang sekolah, Bie melangkah cepat keluar dari kelas. Keenan melihat semua dari tempat ia duduk. Cath menghampiri Keenan dan mengajaknya pulang.


Saat dalam perjalanan, Keenan melihat Bie yang berjalan kaki di bawah terik matahari. Tampak sesekali ia menyeka keringat. Keenan memperlambat laju mobilnya. Matanya terus memandang ke arah Bie.


Cath yang heran melihat Keenan memperlambat jalannya mobil melihat ke arah mata Keenan memandang. Tampak Bie yang berjalan dengan langkah santai.


"Jangan heran, Bie gadis yang kuat. Ia terbiasa jalan kaki. Awal masuk sekolah ia juga begitu," ucap Cath.


Mendengar suara Cath, Keenan tersadar dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Pelan-pelan, Keen," ucap Cath.


"Kamu bisa naik taksi. Aku ada perlu. Sekali ini saja."


"Kamu mau kemana, Keen."


"Aku baru ingat ada janji. Nanti sore aku jemput kamu. Kita pergi minum ke kafe."


"Baiklah, jangan bohong lagi. Aku tunggu kamu sore ini."


Cath keluar dari mobil dan menghentikan taksi yang lewat. Setelah taksi yang ditumpangi Cath menjauh, Keenan memutar mobilnya kembali ke arah Bie berjalan.


Dari kejauhan ia memperhatikan semua gerak Bie. Gadis itu duduk di kursi taman. Ia mengambil botol minum dan meneguknya.


Setelah dahaganya hilang, Bie melanjutkan jalannya. Tanpa ia sadari Keenan mengikuti langkahnya.


Bie berhenti saat melihat ada dua anak kecil yang mengamen. Bie lalu ikutan anak itu bernyanyi diperempatan lampu merah itu. Tanpa rasa malu dan risih.


Setelah mendapat uang dari pengguna jalan, Bie dan dua orang bocah itu duduk di tepi jalan.


Setelah berbincang sebentar dengan dua bocah pengamen itu, Bie melanjutkan jalannya.


Ini hidupku, mulai hari ini aku tak akan pernah bergantung pada siapapun. Jangan percaya terlalu banyak, jangan mencintai terlalu banyak, jangan berharap terlalu banyak, sebab terlalu banyak akan melukai begitu banyak pula.Semakin kita terlalu berharap selain kepada Allah, maka bersiap-siaplah untuk semakin kecewa.Jangan terlalu berharap pada orang lain. Terkadang mereka tidak ada ketika kamu butuh, dan kamu harus menjadi pahlawan bagi dirimu sendiri.


Bersambung


***********************


Bagaimana perasaan Bie saat ini? Pasti sedih sahabat yang ia sayang menjauh darinya. Nantikan terus ya kelanjutan novel ini.