
Keen dan Bie mampir ke supermarket sebelum mengunjungi panti. Keen juga mengantar barang pesanan pelangan dari penjualan online bersama Bie. Keen membelikan banyak makanan buat adik-adik di panti. Bie tampak bahagia berjalan di samping Keen.
Sampai di panti Bie membawa semua makanan dan menyusunnya. Barra tampak terlelap dalam pangkuan Keen.
Setelah semua Bie susun ia kembali ke ruang tamu ikutan nimbrung. Bie memilih duduk di samping Keen. Adik- adik di panti tampak bahagia karena dibawakan makanan.
"Mau kemana kamu setelah dari sini, Nak?" tanya Bunda.
"Tadi rencana Keen mengajak jalan sekalian nonton di mal. Tapi besok-besok aja karena Barra udah tertidur, mungkin kecapean. Lagi pula masih kecil banget di bawa masuk ke bioskop. Entah boleh atau nggak, anak kecil bawa ke bioskop?"
"Tinggalkan aja Barra dengan Bunda. Pergilah kamu dan Keen menonton."
"Nggak usah, Bun. Jadi merepotkan."
"Udah, jangan sungkan gitu. Bunda masih sanggup menjaga anak kecil. Jangan takut."
Setelah meyakinkan Barra tertidur nyenyak, Bie meletakkan tubuh mungil putranya di atas tempat tidur di kamar yang dulu ia tempati.
Keen meminta maaf karena harus merepotoan Bunda lagi. Keen dan Bie menyalami Bunda sebelum pamit. Suami Bie itu menyetir dengan tangan kiri yang terus saja menggenggam tangan Bie. Sesekali ia mengecup tangan istrinya.
"Konsentrasi Keen, menyetirnya. Lepas dulu tanganku."
"Aku rasanya bahagia banget. Akhirnya aku bukan saja menjadi kekasihmu, tapi suamimu ... kekasih halal. Bukan saja dapat memiliki hatimu, tapi seluruhnya. Dengan ragamu juga."
Keen sesekali melepas genggaman tangannya. tapi disaat jalanan sedikit sepi, kembalinya menggenggam tangan Bie. Wanita itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya.
Keen memarkirkan mobilnya dan memeluk pinggang Bie saat berjalan. Jika orang melihat pasti mengira mereka hanyalah pasangan kekasih bukan suami istri karena usia yang masih muda.
Keen membawa Bie menuju gedung bioskop. Ia ingin mengulang saat pertama kencan dengan Bie di gedung ini. Mereka masuk saat film akan diputar. Sama seperti dulu, Keen memilih duduk di sudut paling atas.
Saat film di putar, Keen memeluk Bie dan mengecup pipinya membuat Bie membesarkan matanya. Keen hanya tersenyum.
Keen mendekatkan wajahnya dan mengecup Bie sambil berbisik,"Bie, aku takut kebersamaan kita ini akan berakhir. Aku tak mau berpisah darimu lagi. Nyawapun akan aku pertaruhkan untuk dapat bersama kamu dan Barra."
"Kamu ngomong apa? Tak boleh berkata begitu, Keen. Perkataan itu adalah sebagian dari doa Kita berucap yang baik-baik aja."
"Kamu sekarang sering gombal,ya,"ucap Bie.
"Aku bukan gombal, Bie. Itu isi hatiku. Cinta sejati bukanlah bagaimana kamu memaafkan, tetapi bagaimana kamu melupakan, bukan apa yang kamu lihat tetapi apa yang kamu rasakan, bukan bagaimana kamu mendengarkan tetapi bagaimana kamu mengerti, dan bukan bagaimana kamu melepaskan tetapi bagaimana kamu bertahan. Aku selalu berdoa untukmu dan aku sangat berharap untuk dapat berdoa bersamamu denganmu di sisa hidup kita bersama. Jika harus memilih, antara napas dan cinta. Maka aku memilih napas terakhir untuk mengatakan, 'Aku cinta padamu'. Aku ingin cinta yang akan berkata: Bahkan kematian pun tidak akan memisahkan kita karena kelak kita akan dipertemukan kembali di surga, Insyaallah."
"Keen, jangan ngomong gitu. Aku tak suka." Tanpa bisa dibendung air mata Bie tumpah. Keen membawa Bie ke dalam pelukannya. Hingga film berakhir Bie masih dalam pelukan Keen. Sesekali masih terdengar isaknya.
Satu persatu penonton keluar, Bie dan Keen juga. Keen kembali menghapus sisa air mata dipipi istrinya itu dan mengecup pucuk kepalanya.
Keen mengajak Bie ke kafe, ia ingin makan malam sebelum pulang. Keen menyempatkan diri menghubungi Bunda, bertanya kabar Barra.
Keen dan Bie masuk ke kafe, mereka memilih duduk di sudut. Keen memesan makanan yang disukai Bie. Setelah makanan mereka dihidangkan, Keen dan Bie menyantapnya dengan lahap.
Saat sedang asyik makan, mereka dikagetan dengan kedatangan Cath. Bie tampak gugup dan ketakutan. Keen yang menyadari itu menggenggam tangan Bie.
"Dasar pembohong, kau bilang tak tau dimana Bie. Tapi kenyataannya kau bermesraan bersua di sini."
"Aku emang bohong. Aku tau dimana Bie. Kamu mau apa?"
"Apa ini alasanmu mau memutuskan pertunangan," teriak Cath, membuat mereka jadi pusat perhatian para pengunjung kafe.
"Jangan berteriak Cath, kamu memalukan," ucap Keen.
"Lebih memalukan mana aku atau j*l*ng ini. Sudah tau kamu itu tunanganku masih saja mau bermesraan denganmu."
Mendengar omongan Cath yang menghina Bie, Keen jadi naik darah. Ia berdiri dan mengangkat tangannya ingin menampar Cath. Tapi tangannya Keen ditahan Bie.
Bersambung
*************
Apa yang akan terjadi selanjutnya ya? Apakah Cath akan membuat keonaran? Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.