
Bie mengajak Keen pulang. Ia tak mau lama-lama berada di mal. Takut ada yang melihat kebersamaan mereka.
Sejak Barra lahir baru hari ini Bie keluar ke pusat perbelanjaan membawa Barra. Ia takut kehadiran Barra diketahui dan dicurigai.
Keen berhenti di sebuah rumah kontrakan yang sangat sederhana. Rumah mungil yang hanya terdiri dari satu kamar tidur.
"Silakan masuk. Maaf rumahku hanya gubuk," ucap Bie. Ia melihat Keen yang matanya memandangi setiap sudut rumahnya.
"Semenjak tamat sekolah kamu tinggal di rumah ini."
"Bukan. Aku baru dua bulan tinggal di sini. Aku sengaja memilih rumah ini karena letaknya jauh dari rumah penduduk agar tak ada yang menggosipkan aku lagi."
"Kamu sering diomongin?"
"Tentu saja. Seorang wanita muda hamil tanpa seorang suami. Itu jadi bahan empuk buat digosipkan."
"Kamu yang menginginkan itu," gumam Keen.
"Apa maksud kamu."
"Bie, dari awal aku sudah mau bertanggung jawab. Tapi kamu yang tak menginginkan. Kamu terlalu egois. Kenapa kamu mau mengorbankan diri untuk kebahagiaan sahabatmu yang tak pernah memikirkan kamu."
"Semua udah terjadi, jangan disesali. Aku mau masak. Apa kamu bisa menjaga Barra sebentar?"
"Jangan masak, Bie. Pesan aja. Masih banyak yang ingin aku bicarakan."
Bie kembali duduk dihadapan Keen. Barra menangis saat Bie dan Keen akan memulai obrolan.
Bie menggendong dan tanpa sadar membuka kancing bajunya dan menyusui Barra.
Barra jika di rumah memang masih diberi ASI. Saat ini produksi ASI Bie udah tak lancar, itulah sebabnya jika keluar rumah diberi susu formula.
Keen membuang mukanya saat melihat Bie menyusui Barra. Setelah beberapa saat Bie baru tersadar ada Keen di situ. Ia memiringkan duduknya.
"Keen, tutup matamu. Jangan lihat ke sini."
"Maaf ... kamu yang main keluarkan aja."
"Jadi kamu tadi melihatnya?" ucap Bie.
"Sedikit ...."
"Keen ... kamu!" Bie tak tau harus berkata apa.
Setelah Barra tampak puas Bie cepat menutupi dadanya. Ia meletakkan Barra di kereta.
Keenan turun dari duduknya dan berlutut didepan kereta Barra.
"Seharusnya kamu bersyukur aku tak menggugurkan dulu," gumam Bie.
"Bie, seandainya aku tak mendengar dari adik di panti apakah kamu akan selamanya menutupi kebenaran tentang Barra?"
"Aku pasti akan mengatakan kebenarannya suatu saat."
"Bie, aku ingin kamu jujur. Apakah kamu tidak memiliki perasaan apa-apa lagi denganku?"
"Buat apa kamu pertanyaan itu? Apakah ada pengaruhnya jika aku masih memiliki perasaan atau tidak denganmu? Keen, kita jalani saja seperti hari kemarin saat kamu tak tau kebenaran tentang Barra. Kamu tetaplah menjadi tunangan Cath dan aku tetap di sini bersama Barra."
"Kamu ingin memisahkan aku dan Barra?"
"Bukan begitu Keen, kamu tetap boleh menemui Barra kapanpun kamu mau. Tapi kebenaran tentang siapa ayah kandung Barra biar menjadi rahasia. Jangan sampai keluarga kamu ataupun Cath tau. Aku takut semua itu akan memengaruhi kehidupan Barra. Aku tak mau ada yang mengganggunya. Jika mereka menghina diriku, aku akan bisa terima. Tapi ku tak akan terima jika ada yang menghina anakku. Bagiku Barra segalanya."
"Kamu pikir aku akan terima jika ada yang mengusik anakku. Aku akan menjaga Barra dari siapapun, termasuk kedua orang tuaku." Keen menarik nafasnya.
"Bie, aku mencintaimu dulu, saat ini dan akan datang. Aku tak bisa melupakan kamu. Aku ingin kita memulai semua dari awal. Beri aku waktu untuk mengakhiri hubungan dengan. Cath. Aku tak mau lagi berpisah denganmu, Bie. Apakah kamu juga masih memiliki perasaan yang sama denganku, Bie?"
"Aku takut, Keen."
"Apa yang kamu takutkan? Kamu takut Cath marah. Jika ia memang sahabat kamu seharusnya bisa menerima ini. Karena ada Barra di antara kita. Tak ada yang lebih kuat dari ikatan darah, Bie. Mengenai kedua orang tuaku, akan aku yakinkan mereka untuk dapat menerima kamu dan Barra. Tapi aku mohon, berilah kesempatan padaku untuk dapat bertanggung jawab. Bie, apakah kamu masih mencintaiku?"
Keen berpindah dari depan Barra ke hadapan Bie. Saat ini ia berlutut di depan Bie.
"Bie, pikirkan Barra. Ia berhak mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya. Jika kamu menyayangi Barra, pikirkan perkataan aku ini,Bie."
"Setelah ini kamu akan ke luar negeri lagi."
"Aku akan minta pindah ke sini. Aku akan melakukan apa saja yang papa inginkan. Dulu aku di kirim kuliah ke luar negeri karena aku tak mau melanjutkan usaha papa. Aku tak mau karena di sana banyak tertanam saham orang tua Cath. Tapi akan aku jalani semua demi kamu dan Barra. Kita akan menikah siri dulu. Demi status Barra," ucap Keen.
Keenan menggenggam tangan Bie dan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Bie, menikahlah denganku."
Bie terdiam mendengar perkataan Keenan. Ia belum terpikirkan hingga ke sana.
Bersambung.
Apakah Bie akan menerima ajakan Keen untuk menikah? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih. Lope-lope sekebon untuk semuanya. ❤❤😍😍💜💜
Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.