
Mendengar omongan Cath yang menghina Bie, Keen jadi naik darah. Ia berdiri dan mengangkat tangannya ingin menampar Cath. Tapi tangannya Keen ditahan Bie.
"Keen, aku mohon jangan kasar."
"Cath keterlaluan. Aku tak suka. Asal kamu tau, Bie ini lebih berhak atas diirku dari kamu. Bie ini ...." Bie menggelengkan kepala agar Keen tak meneruskan ucapannya.
"Cath, apa kamu tak malu berkata begitu. Sebagai sesama wanita, apa lagi kita pernah begitu sangat dekat, aku tak menyangka kamu tega mengatakan itu padaku. Emang aku salah karena berdua dengan tunanganmu. Tapi apa dengan cara begini kamu selesaikan masalah. Kenapa tak kamu tanyakan alasannya?"
"Kenapa aku harus tanyakan alasannya, jika aku telah tau alasan sebenarnya. Kamu ... kamu sengaja mendekati Keen untuk merubah nasibmu. Kamu ingin jalan pintas menjadi orang kaya. Aku sudah hafal cara orang miskin yang ingin cepat kaya, dengan merayu dan menyerahkan diri pada pria."
"Cath, kamu berhasil menguji kesabaranku. Jika selama ini aku masih bisa bertahan karena mengingat persahabatan kita dan juga kebaikanmu, tapi aku tak akan terima jika kamu menginjak harga diriku." Wajah Bie tampak merah menahan amarah. Tanpa Keen dan Cath duga, Bie menarik tangannya Cath menyeretnya keluar dari kafe. Hingga sampai di luar kafe baru Bie melepaskan tangan Cath.
"Apa-apaan ini?" ucap Cath. Pergelangan tangannya tampak memerah, mungkin Bie mencengkeram kuat. Keen mengikuti Bie dan Cath.
"Dengar Cath ...." ucap Bie dengan gemetar. "Aku tak pernah merebut Keen darimu. Aku pacaran dengan Keen sebelum kamu. Saat kamu meminta aku untuk mendekati kamu dan Keen, akhirnya kuputuskan hubungan kami karena menghargai persahabatan kita. Aku merelakan hatiku terluka demi kamu. Tapi aku kecewa dan marah saat tadi kamu mengatakan aku j*l*ng dan hanya ingin merubah hidup dengan mendekati Keen. Jika aku hanya mencari harta kenapa aku tak menerima Alex yang jelas-jelas jauh lebih kaya dari orang tua Keen."
Keen mendekati Bie yang tampak gemetar, ia memeluk tubuh Bie.
"Udah sayang, biar aku yang jelaskan," bisik Keen.
"Biar aku saja,Keen. Aku harus jelaskan semua," ucap Bie.
"Wah ... wah ... mesranya." Cath berucap dengan suara mengejek.
"Kenapa? Kamu tak terima. Sekarang aku lanjutkan. Kamu dengar baik-baik. Aku dan Keen saat ini telah menikah. Aku memang salah menikahi tunanganmu, tapi ku tak bisa lagi terus menerus berpura-pura kuat. Selama kami berpisah, hati kami tetap tak bisa berubah. Kami masih saling mencintai. Kamu mau terima atau tidak, terserah! Aku dan Keen saling mencintai. Maaf jika kami harus melukai hatimu. Cinta tak bisa dipaksakan."
Tubuh Cath melemah mendengar ucapan Bie. Ia bersandar dengan dinding dibelakangnya. Cath memegang dinding sebagai penopang tubuhnya.
Bie menarik nafasnya kuat. Tampak air mata mulai tumpah dari pipinya. Keen membawa Bie ke dalam pelukannya.
"Cath, dengarkan kali ini omonganku. Untuk apa mengejar cinta? Jika Cinta Itu sendiri akan selalu menemukan jalan tanpa pernah salah orang.Yakin saja bahwa yang memang ditakdirkan untuk mencintai kamu tidak akan pernah salah alamat apalagi salah orang. Jika sampai saat ini kau belum menemukannya mungkin belum saatnya kau dipertemukan olehnya. Tak perlu berusaha keras untuk mendapatkan cinta karena percuma berusaha jika ia tidak memiliki perasaan yang sama. Cinta yang baik itu saling memiliki perasaan bukan hanya salah satunya saja yang berusaha dan berjuang tidak akan pernah bahagia jika kau berjuang untuk mendapatkan cinta. Percuma berjuang jika dia tidak memiliki perasaan yang sama, ujung-ujungnya kau akan terluka dan kecewa. Lebih baik tak perlu berharap apalagi mengejar cukup tingkatkan kualitas diri agar kelak pantas mendapatkan cinta yang sebenarnya." Keen menjeda ucapannya.
"Kenapa kalian lakukan ini padaku. Bie, aku telah menganggap kamu seperti adikku sendiri. Jika memang kamu mencintai Keen dan telah pacaran, kenapa tak jujur dari awal? Setelah aku berharap dan mencintai Keen sedalam ini baru kamu jujur. Kamu jahat, Bie. Kamu jahat," ucap Cath. Ia akhirnya terduduk di lantai.
Bie yang melihat itu jadi iba. Ia melepaskan pelukan Keen dan mendekati Cath.
"Cath ... maafkan aku!" Bie berlutut dihadapan Cath, ingin memeluk wanita yang pernah menjadi sahabat terbaiknya itu.
"Jangan sentuh aku. Tak sudi aku dipeluk pengkhianat seperti kamu!" ucap Cath.
"Cath, ini memang salahku. Tak seharusnya aku meminta Keen menerima cintamu."
Cath kembali menepis tangan Bie yang ingin memeluk dirinya. Ia berdiri. Bie ikut berdiri.
"Dengar Bie, kamu akan membayar mahal atas apa yang telah kamu lakukan padaku. Aku tak pernah meminta kamu mengalah, tapi kamu sendiri yang melakukan semua itu. Aku di sini yang menjadi korban keegoisan kalian berdua. Aku benci kamu. Sungguh benci kamu. Sampai kapanpun aku tak akan pernah memaafkan kamu, Bie. Akan kamu rasakan sakit yang aku rasakan saat ini."
Cath berjalan perlahan. Saat Bie akan mengejar, Keen menahannya.
"Tak ada gunanya bicara saat ini. Hati Cath sedang panas."
"Tapi Cath benar, semua ini salahku."
"Kita pulang aja. Barra nanti nangis kelamaan ditinggalkan." Keen memeluk bahu Bie berjalan meninggalkan tempat itu.
Bersambung.
******************
Apakah yang akan dilakukan Cath? Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.