Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 50. Jalan ke Mal.



Bie mengambil selimut dan menutupi tubuhnya. Ia bangun dan mencoba berdiri. Terasa sedikit perih di bagian inti tubuhnya walau tidak sesakit saat pertama mereka melakukannya.


"Kenapa, Bie. Sakit ...."


"Dikit ...."


"Kita mandi bareng aja, ya?"


"Nggak, aku malu Keen," gumam Bie.


"Astaga, Bie. Apa yang kamu malukan. Aku udah melihat semua bagian ditubuhmu hingga yang tersembunyi."


"Keen ... ngomongnya kenapa vulgar begitu?"


"Bie, kita ini udah dewasa. Sebentar lagi usiaku 21 tahun dan kamu 20 tahun. Lagi pula kamu itu istriku. Nggak ada salahnya ngomong gitu sama istri."


"Baru juga siang tadi kita nikah," ucap Bie dengan cemberut.


"Aku pernah baca kalau suami istri mandi berdua itu sunah,Bie."


"Sok tau. Pokoknya aku mandi duluan. Kamu nanti. Aku mau masak."


"Bie masak yang enak dan banyak. Perutku lapar."


"Makanya jangan ganggu aku lagi. Aku mau segera mandi." Bie berjalan menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri. Saat ia memakai baju dilihatnya Keen tertidur. Bie membangunkan Keen memintanya mandi baru lanjutakan tidurnya.


Bie memasak bahan yang ada di kulkas saja. Ia melihat ada telur, mie, dan bakso. Bie membuat mie goreng dengan bakso dan telur ceplok.


Setelah masakannya matang. Bie menghidangkan di meja. Barulah ia masuk ke kamar membangunkan Keen yang tidur setelah mandi tadi.


"Keen, bangun. Aku udah masak." Bie mengguncang tubuh Keen pelan, membangunkan pria yang saat ini telah menjadi suaminya.


Keen membuka mata perlahan dan melihat wajah Bie. Ia menarik tangan Bie hingga jatuh ke atas tubuhnya. Keen mengecup leher Bie, dan menghisapnya. Bie sempat melenguh.


"Jangan main-main, Keen. Tadi katanya lapar. Aku udah masak, makan lagi."


"Aku mau makan kamu aja." Keen memadukan tangannya ke baju Bie dan memainkan dada istrinya itu.


"Keen ...." Bie berusaha melepaskan diri dari pelukan Keen. Tapi tenaganya kurang kuat. Keen makin mempererat pelukannya.


"Keen, aku lapar," ucap Bie manja. Keen akhirnya melepaskan pelukannya, Bie langsung berdiri sebelum Keen berubah pikiran lagi.


Keen bangun dan memakai bajunya. Ia berjalan ke luar kamar menuju meja makan. Dilihatnya hidangan yang telah Bie siapkan.


"Maaf, Keen.Aku hanya bisa masak ini karena di kulkas cuma ada bahan itu aja."


"Ini juga udah enak. Besok sebelum aku pulang, kita belanja buat isi kulkas. Kita jemput dulu Barra."


"Terserah kamu aja."


Keen duduk sambil memeluk bahu Bie dan mengecup pipi wanita yang sangat ia cintai itu. Ia mengecup terus hingga Bie protes.


"Kamu kok kecup pipiku terus."


"Biar besok nggak kangen saat pulang ke rumah. Bie ... maaf, aku tak bisa setiap malam menemani kamu. Jika boleh memilih aku ingin tinggal bersamamu dan Barra. Tapi aku sedang berusaha mendekati papi agar diizinkan kuliah di sini. Jika aku kuliah di sini, aku akan lebih sering bersamamu."


"Aku doakan kamu bisa meyakinkan papi."


"Aku takut papi tak mengizinkan. Mungkin aku akan berhenti kuliah aja jika papi tak setuju aku pindah ke sini."


"Jangan gitu. Kuliah untuk masa depanmu juga."


"Aku tak mau jauh dari kamu dan Barra, Bie. Jika sehari atau dua hari tak bertemu masih bisa aku tahan. Tapi jika aku kuliah di luar negeri itu artinya aku akan jarang bertemu kamu. Lagi pula aku tak mau lagi dekat Cath. Aku di sana satu gedung apartemen dan setiap hari bertemu. Bosan, Bie. Kalau denganmu aku mau."


"Gombal. Kamu harus bisa meyakinkan papi. Juga dapatkan restu papi secepatnya."


Satu jam lebih mereka mengobrol sambil menonton televisi. Setelah itu Keen mengajak Bie tidur. Keen memeluk tubuh Bie erat seakan takut kehilangan.


Pagi harinya Bie dan Keen ke panti menjemput Barra. Keen mengajak Bie ke supermarket membeli banyak bahan makanan untuk di simpan dalam kulkas.


Keen juga mengajak Bie dan Barra jalan-jalan ke salah satu mal ternama. Ia membelikan Bie dan Barra pakaian.


Setelah puas berkeliling Keen mengajak Bie makan siang di restoran yang terdapat di dalam mal.


Sampai sore mereka masih ada di mal. Keen membelikan beberapa peralatan rumah tangga. Ia menggunakan uang renungannya.


Keen dan Bie akhirnya memutuskan pulang saat magrib hampir menjelang, karena Keen juga harus pulang ke rumah orang tuanya.


Saat sampai di parkiran, Keen memasukan semua barang belanjaan ke bagasi. Keen yang perutnya merasa mulas minta izin ke toilet.


"Sayang, aku ke toilet dulu. Kamu mau menunggu dimana."


"Di sini aja, Keen."


"Jangan kemana-mana. Sayang, tunggu papi sebentar ya. Perut papi mules."


Keen berlari kecil menuju toilet. Saat bayangan Keen menghilang, Bie berjalan membawa Barra yang berada dalam gendongannya. Tanpa Bie sadari ada sepasang mata memperhatikan dirinya dari kejauhan.


"Bukankah itu,Bie. Siapa yang digendong Bie itu. Apakah anaknya?" gumam Cath. Cath berjalan perlahan ingin mendekati Bie.


Bersambung


******************


**Apakah Cath akan menemui Bie? Apakah ia akan mengetahui jika Bie memiliki anak dari Keen?


Nantikan terus ya kelanjutan novel ini. Terima kasih untuk semua pembaca. Lope-lope sekebon. 💜💜 😘😘❤❤**