Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 60. Cucuku Barra.



Bie dan Maminya Keen di minta perawat untuk keluar agar pasien bisa istirahat. Air mata masih terus mengalir dari wajah cantiknya. Ia duduk di kursi tunggu dengan menunduk. Mami Keen mencoba mendekati Bie. Ia duduk disamping Bie dan menyentuh tangannya, membuat Bie kaget.


"Bie ...." ucap Mami pelan. Bie menoleh dan memandangi maminya Keen.


"Iya, Mi. Ada apa?"


"Apakah Mami boleh tau kapan kalian menikah."


"Baru tiga minggu yang lalu,Mi," gumam Bie.


"Maaf, kalau pertanyaan Mami mungkin akan menyinggung kamu. Apakah kamu janda," ucap Mami pelan. Ia takut akan menyinggung Bie.


"Aku baru pertama kali menikah dengan Keen."


"Mami melihat ada foto di kamar Keen, ada anak kecil diantara kalian berdua. Wajahnya mirip Keen kecil. Tadinya mami kira itu anaknya Keen. Ternyata kalian baru menikah tiga minggu. Berarti itu anak siapa."


"Anak aku dan Keen," ucap Bie.


"Kalian baru menikah tiga minggu. Bagaimana bisa itu anak Keen dan kamu."


"Aku hamil anak Keen saat ia bertunangan dengan Cath. Aku tak mengatakannya takut nanti orang tua Cath dan tentu saja kedua orang tua Keen tak bisa menerima."


"Kamu hamil anak Keen sebelum menikah."


"Panjang ceritanya,Mi."


"Mami akan mendengar, ceritalah Bie."


Bie menceritakan secara singkat dari awal perkenalannya dengan Keen, hingga akhirnya ia memutuskan hubungan mereka. Bie tak lupa menceritakan kejadian malam pesta perpisahan saat itu.


"Jadi anak kecil itu memang benar cucu Mami."


"Ya, Mi."


"Kami perlu bukti tes DNA," ucap Papi yang baru muncul diantara Mami dan Bie.


Bie memandangi Papi Keen dengan tatapan tak senang. Papi Keen seolah curiga pada dirinya.


"Bapak bisa melakukan tes DNA pada Barra anakku. Tapi dengan satu syarat ...." ucap Bie dengan menahan emosinya. Ia menghormati Papi suaminya.


"Syarat ... emang kamu inginkan apa?"


"Jika terbukti Barra darah daging Keen, Bapak harus bisa mengabulkan semua yang Keen inginkan. Jika memang Barra bukan cucu Bapak, aku akan pergi dari kehidupan Keen. Tapi jangan memalsukan semuanya!"


"Kamu menuduh sekaligus menantangku?"


Air mata Bie kembali tumpah membasahi pipinya. Dadanya dari tadi telah sesak menahan semua amarahnya saat mendengar kecurigaan papi Keen.


"Bapak, walau aku orang miskin tapi aku masih punya harga diri. Tak mungkin aku menipu seorang pria dengan mengaku hamil anaknya. Saat ini suamiku, yang juga anak bapak sedang terbaring koma. Aku bersumpah atas nama Keen, jika Barra itu benar putra kandungnya. Tak pernah sekalipun aku di sentuh pria selain Keen."


"Papi, sudahlah. Papi lihat sendiri jika anak dalam foto itu mirip Keen. Kenapa masih meragukan itu?"


Bunda yang datang dengan Barra menghampiri Bie. Bunda menyerahkan Barra kepangkuan Bie.


"Bie, Bunda terpaksa membawa Barra ke sini. Barra dari tadi rewel. Mungkin ia merasakan ada yang sedang kamu pikirkan."


Papi dan Mami kaget melihat wajah Barra yang begitu mirip dengan Keen kecil. Air mata mami tumpah. Ia mengambil Barra dari pangkuan Bie.


"Ini cucuku, pasti ia anak Keen Pi. Wajahnya mirip Keen kecil. Tak perlu diragukan lagi." Mami memeluk Barra erat, seakan takut dipisahkan. Bie mengusap air matanya yang tak bisa ditahan. Papi hanya melihat Barra dengan seksama.


Barra menangis dipelukan Mami Keen, Bie mengambilnya dan duduk sedikit menjauh. Ia memberikan Barra air susunya. Setelah Barra tenang. Bie berdiri dan membawa Barra mendekat ke ruang Keen. Bie meminta anaknya melihat Papinya.


"Sayang, lihat sini. Ada Barra. Kami menunggu kamu. Jangan lama-lama tidurnya. Barra ingin dipeluk Papi. Barra ingin bermain dengan Papi," gumam Bie. Bunda memeluk Bie dan Barra.


"Bunda, apa dosa aku terlalu besar. Kenapa Tuhan menghukumku begini. Baru aku merasakan kebahagiaan bersama Keen, kembali di beri cobaan lagi. Bunda, aku lelah. Aku ingin menyerah jika Keen tidak sadar juga. Aku capek, Bunda," ucap Bie.


Bunda memeluk Bie dan Barra. Ia menarik nafas sejenak sebelum mengatakan sesuatu lagi.


Bie, jangan berkata begitu Nak. Tuhan tidak pernah menghukum umat- Nya. Kamu tidak boleh menyerah. Ingat ada Barra dan Keen yang saat ini sangat membutuhkan kekuatan darimu."


"Ketika kamu menerima ujian, percaya saja bahwa Tuhan telah mempercayakan kamu bahwa kamu bisa melewati setiap ujian yang diberikanNya. Tuhan, tak akan pernah menguji setiap hambaNya dengan ujian yang tak bisa diselesaikan oleh hambaNya tersebut. Adanya ujian, rasa kecewa yang mendalam dan kesedihan yang menyiksa jiwa serta raga sebenarnya adalah sebuah ketetapan yang diambil Tuhan agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih kuat. Menjadi pribadi yang tak pernah menyerah dan pribadi yang gampang putus asa." Bunda mengusap punggung Bie.


"Jangan pernah berlarut-larut dalam kesedihan karena kamu sedang diuji atau mengalami kesusahan. Semakin kamu larut dalam kesusahan, semakin stres dan menyedihkan hidup yang akan kamu rasakan. Semakin kamu sedih dan susah karena ujian yang kamu hadapi, akan semakin mudah bagi psikis dan fisikmu untuk tumbang. Ini juga sangat memungkinkan bahwa kamu akan dipandang sebelah mata oleh orang lain, dipandang menyedihkan dan dipandang tak berguna."


Papi Keen duduk di bangku sambil memperhatikan wajah Barra tanpa kedip. Mami berdiri dan ikut memeluk Bie, melihat kerapuhan wanita itu.


Bersambung.


******************


Apakah Keen akan segera sadar? Apakah Papi Keen akan tetap melakukan tes DNA? Nantikan terus ya kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.


Di bawah ini ada novel-novel teman mama. Bisa mampir sambil menunggu novel ini update.