Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 52. Izin Kuliah Di kota ini.



Keen duduk dihadapan papinya dengan sedikit gelisah dan gugup. Ia tak tau harus memulai dari mana percakapan ini. Papi yang melihat kegelisahan Keen memulai bertanya.


"Ada apa kamu ke sini?"


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan papi."


" Apakah di rumah saja tak bisa?"


"Aku ingin bicara berdua Papi."


"Mau bicara, apa?"


"Aku mau pindah kuliah, Pi," gumam Keen.


"Papi udah menduga. Pasti kamu ingin minta pindah kuliah juga. Kenapa nggak bicara di rumah? Kamu malu mama tau?"


"Papi tau aku mau minta pindah kuliah?"


"Tentu saja. Papi dan Om Wijaya kemarin bertemu. Ia mengatakan jika Cath minta pindah kuliah ke sini lagi. Papi kaget mendengarnya, karena kamu mengatakan hubungan kalian baik2 saja. Tapi kenapa Cath minta pindah? Ternyata kalian sudah sepakat mau kuliah di sini aja. Gimana jika pernikahan kalian dimajukan aja?"


"Papi, aku belum mau nikah dengan Cath."


"Kenapa ...?"


"Cath itu egois, Pi."


"Kamu jangan macam-macam. Jangan buat papi malu."


"Pi, aku akan meneruskan usaha papi asalkan papi mengizinkan aku kuliah di sini."


"Papi izinkan. Asal kamu tetap menjalin hubungan dengan Cath."


"Pi, cinta itu tak bisa dipaksakan! Aku tak memiliki perasaan apa-apa dengan Cath. Aku sudah mengatakan dari awal papi minta aku tunangan, kan?"


"Seiring berjalannya waktu dan jika sering bersama pasti rasa cinta itu akan tumbuh."


"Kalau gitu, izinkan aku kuliah di sini."


"Baiklah. Papi dan Om Wijaya akan mengurusnya."


"Terima kasih, Pi."


"Tapi ada syaratnya lagi."


"Apa, Pi?"


"Kamu akan kuliah sambil membantu Papi di perusahaan ini. Agar saat menikah kamu udah bisa mandiri. Papi udah nggak sabar menggendong cucu. Cepat selesaikan kuliahmu."


"Papi udah punya cucu," cicit Keen.


"Apa yang kamu katakan?"


"Nggak ada. Papi udah punya cucu, kan? Anak saudara sepupuku."


"Bawalah Cath ke rumah sesekali. Kamu tak ada pergi jalan berdua Cath?"


"Di luar aku selalu bersama, Pi. Nanti bisa-bisa aku bosan jika tiap hari bertemu."


"Ada aja alasanmu. Ingat Keen, jangan kamu sakiti Cath. Papi tak akan terima jika Cath mengadu."


"Iya, iya. Aku mau nginap rumah teman dua hari ini,Pi. Boleh, kan?"


"Kenapa kamu sering menginap di rumah teman? Baru aja kemarin menginap. Kapan waktu mau jalan bareng Cath?"


"Pi, aku udah katakan tadi. Di luar kami hampir dua puluh empat jam berdua. Aku takut bosan. Selama liburan ini aku mau menghabiskan waktu bersama teman-teman."


Keen mengendarai mobilnya menuju rumah kontrakan Bie. Ia sudah nggak sabar ingin bertemu anak dan istrinya itu.


Bie yang sedang membawa Barra jalan-jalan sekitar perumahan itu dikagetkan dengan mobil yang berhenti mendadak disampingnya.


"Sayang, Papi datang," ucap Keen. Sebelumnya Keen membuka jendela mobil. Bie tersenyum melihat suaminya itu. Keen turun dan menggendong Barra. Ia mengecup seluruh bagian di wajah putranya.


"Sayang, bawa Barra masuk. Aku mau parkirkan mobil dulu. Keen menyerahkan lagi Barra kepelukan Bie. Wanita itu masuk ke rumah. Setelah mobil di parkir depan rumah, Keen menyusul Bie masuk ke rumah.


Keen memeluk tubuh Bie erat dari belakang. Ia mengecup pipi istrinya itu. Bie membalikkan badannya dan menatap Keen dengan wajah keheranan.Bie meletakkan Barra ke dalam kereta dorongnya.


"Napa sih. Sepertinya senang banget."


"Aku diizinkan kuliah di kota ini," teriak Keen.


"Kamu serius?" ucap Bie memeluk Keen.


"Tentu saja, Bie. Aku bahagia banget karena papi mengizinkan.


Keen melepaskan pelukan di tubuh Bie dan berlutut depan gerobak Barra. Dipegangnya pipi gembul putranya.


"Barra, akhirnya kita dapat terus bersama. Papi akan kuliah di sini,"ucap Keen seolah anaknya telah mengerti omongannya.


Keen mengambil Barra dan mengecup dengan gemas pipi gembul putranya itu. Keen juga membawa Bie ke dalam pelukannya.


Bie mengajak Keen ke kamar karena ingin menidurkan Barra. Keen menatap Bie yang menyusui Barra tanpa kedip.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Bie.


"Apa kamu sering menyusui Barra di depan Dimas?"


"Pertanyaan apa ini,Keen? Mana mungkin aku menyusui Barra di depan Dimas. Malulah!"


"Syukurlah, aku pikir sering. Bukankah Dimas selalu ada sejak kamu hamil?"


"Iya, dan saat aku melahirkan. Esok harinya ia langsung menemuiku."


"Aku cemburu!"


"Kenapa?"


"Dimas selalu ada disisimu dan dapat melihat perkembangan Barra dari dalam kandungan. Aku hanya tau setelah ia berusia 5 bulan seperti saat ini. Kamu jahat, Bie," gumam Keen.


Bie menidurkan Barra setelah itu berbalik menghadap Keen. Memeluk tubuh suaminya itu. Bie mengecup pipi Keen.


"Maaf ... aku melakukan itu untuk menjaga perasaan Cath dan kedua orang tuanya. Aku tak mau mereka kecewa dan jadi membenciku jika tau aku hamil anakmu."


"Jika aku tak mendengar dari anak panti pasti kamu masih sembunyikan kebenaran itu."


"Maaf ...." ucap Bie kembali memeluk Keen dan menciumnya. Ia mengecup berulang kali agar Keen tak mengulang ucapannya itu.


"Kamu harus membayar mahal karena menjauhkan aku dari Barra selama ini."


"Aku harus apa?"


"Kamu harus mau melayani aku. Apapun yang aku minta dan kapanpun," bisik Keen. Ia lalu membalas memeluk pinggang Bie, merapatkan tubuh wanita itu. Keen langsung melepaskan kancing baju Bie. Setelah Bie polos, Keen berdiri dan melepaskan juga pakaiannya.


Bersambung.


*******************


Skip ... teruskan aja sendiri adegannya. Mama masih polos. Tak bisa menulis yang anu. 🤭🤭🤭🤣🤣🤣


Jangan bosan untuk tetap menunggu kelanjutan novel ini ya. Terima kasih.