Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 64. Cath dan Dimas



Telah satu minggu Keen sadar. Kaki Keen juga telah dioperasi. Saat ini Keen harus menggunakan kursi roda untuk membantunya.


Bie mendorong kursi roda yang Keen duduk ke taman. Bie duduk dibangku taman. Ia mengambil makanan yang dibawanya. Bie membuka dan menyuapi Keen.


"Sayang, apa kamu tak bosan merawatku?"


"Apa aku tampak bosan?"


"Aku takut kamu bosan dan meninggalkanku. Kamu cantik, baik dan juga pintar. Pria mana yang tak mau menjadikan kamu pasangan. Aku takut jika akhirnya kamu meninggalkanku."


"Keen, harus berapa kali aku mengulangi kata-kataku ... jika aku tak akan pernah bosan menjagamu."


Keen duduk sambil memandangi pemandangan sekitar rumah sakit. Bie berlutut dihadapan Keen. Ia memegang kedua tangan Keen.


"Apa yang kamu pikirkan."


"Apakah selamanya aku akan duduk di kursi roda ini."


"Hanya enam bulan, setelah itu kamu bisa berjalan lagi."


"Selama enam bulan aku akan menjadi beban bagimu."


"Kamu bukanlah bebanku, kamu hidupku. Berada dalam satu tempat dan bernafas di tempat yang sama bagiku udah sangat bahagia."


"Aku tak bisa biayai hidup kamu dan Barra selama aku belum bisa berjalan."


"Aku ada penghasilan. Jika untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup kita bertiga aku masih sanggup."


"Bie ... terkadang aku berpikir, terbuat dari apa hatimu. Begitu ikhlasnya menerima semua cobaan hidup yang selama ini kamu jalani."


"Sekarang kamu jangan banyak pikiran. Aku dan Barra akan selalu bersamamu."


Bie tersenyum sambil mengecup tangan Keen. Dari tempat sedikit tersembunyi mami melihat dan mendengar semua yang diucapkan Bie.


Pantas kamu sangat mencintai, Bie. Ternyata ia wanita yang istimewa. Mami percaya, jika kamu tak salah memilih.


...........


Siang harinya saat Dimas akan pamit kembali ke Jakarta, ia kaget melihat Cath yang mengintip ke dalam ruang rawat Keen. Diam memukul bahu Cath pelan.


"Kenapa hanya mengintip. Lo tak ingin masuk," ucap Dimas mengagetkan Cath. Tanpa menjawab ucapan Dimas, Cath berjalan cepat meninggalkan ruangan inap Keen.


Dimas langsung mengejar dan menahan tangan Cath dan membawanya menuju taman. Dimas meminta Cath duduk. Ia pun ikut duidk disamping Cath.


"Kenapa Lo lari. Tak masuk saja tadi."


"Gue bukan ingin membesuk Keen. Gue hanya kebetulan lewat."


"Jangan bohong, Cath. Kenapa harus malu. Bie pasti senang jika Lo datang."


"Gue tak akan membesuknya. Gue tak pernah bisa memaafkan Keen dan Bie."


"Karena mereka telah membohongi gue. Seolah gue ini sangat menyedihkan. Kenapa Bie harus meminta Keen pura-pura mencintai gue. Itu sangat memalukan. Jadi selama ini ia hanya ingin menyenangkan hati Bie. Mereka pikir hati gue terbuat dari apa, sehingga begitu saja mereka permainkan."


"Jadi Lo merasa semua ini salah Bie. Lo disini adalah korbannya."


"Tentu saja ...."


"Pikiran picik sekali itu, Cath. Yang korban di sini adalah Bie. Jika Bie berbohong tentang hubungannya dengan Keen itu karena perjanjian yang Lo buat sendiri."


"Lo pernah mengatakan jika kita sesama sahabat tidak boleh ada saling mencintai. Jadi Bie terpaksa menyimpannya," ucap Dimas.


"Kenapa dia harus meminta Keen pura-pura menerima cinta gue."


"Itu karena Bie sangat menyayangi Lo. Ia menganggap Lo seperti saudara sendiri. Bie tak mau Lo bersedih. Hingga ia korbankan perasaannya sendiri. Lo nggak tau bagaimana ia harus membuang semua rasa cintanya."


"Tapi bagi gue itu sama saja ia mengasihani. Gue seperti orang yang menyedihkan baginya. Mencintai pria yang tak pernah ada perasaan apapun."


"Bagaimana bisa ia mengatakan semuanya jika Lo pernah mengatakan, jika Lo akan sangat sedih dan terluka jika tak bisa memiliki Keen. Bie harus membuang cintanya yang baru saja tumbuh dan ia juga harus menghadapi Keen yang sangat membencinya. Mana yang lebih sakit, Lo apa Bie."


"Jadi maksud Lo semua ini salah gue."


"Susah bicara dengan orang yang hatinya telah dipenuhi kebencian dan dendam. Tidak pernahkah Lo mengingat saat bersama Bie. Kemanapun selalu berdua. Apa Lo lupa jika bie orang pertama yang selalu ada saat Lo menyembunyikan. butuhkan bantuan."


Cath hanya diam mendengarkan Dimas bicara. Dari dalam hatinya, ia mengakui jika apa yang Dimas katakan itu benar. Saat ia bersedih, Bie yang selalu ada disampingnya.


Bie juga yang akan maju jika ada orang berani menyakiti dirinya. Bie menjadi garda terdepan untuk melindunginya.


"Dan Lo harus tau, Bie pernah ingin berkata jujur. Tapi semua diurungkan setelah mendengar Lo akan bertunangan. Ia tak mau merusak kebahagiaan Lo dan keluarga, walau ia harus menanggung malu."


"Kenapa ia harus menanggung malu?"


"Saat itu sebenarnya Bie sedang berbadan dua, dan Lo tau siapa bapak anak yang dikandungnya ...." Dimas menghentikan ucapannya.


"Bie hamil saat itu? Siapa yang menghamilinya?"


"Keen ...." ucap Dimas.


Cath kaget, badannya terasa lemas mendengar ucapan Dimas. Ia memegang erat bangku yang diduduki.


Bersambung.


Apakah Cath akhirnya dapat memaafkan Bie dan Keen setelah mendengar kenyataan itu? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.


Mampir juga ke novel teman-teman mama dibawah ini.