
Saat ini Keen telah dipindahkan ke ruang inap. Kedua orang tua Keen, Bie dan Dimas saat ini berdiri mengelilingi Keen. Keen membuka matanya perlahan dan tersenyum. Mami langsung memeluk Keen.
"Keen, kamu akhirnya sadar. Maafkan Mami,Nak." Keen hanya melihat tanpa suara. Papi mendekati mami dan berdiri dibelakangnya. Keen tetap hanya memandanginya.
Setelah sekian lama memeluk dan Keen hanya diam, mami memandanginya. Mami herqn melihat Keen yang hanya diam tanpa keluar sepatah katapun.
"Bicaralah Keen. Jangan diam aja. Kamu marah dengan Mami dan Papi?" tanya mami.
"Aku capek," jawab Keen. Bie maju dan mendekati tempat tidur Keen. Ia mengelus tangan Keen.
"Sayang, akhirnya kamu sadar," ucap Bie dengan air mata terus membasahi pipinya.
"Siapa kamu?" ujar Keen.
"Aku Bie ... apa kamu nggak ingat?" tanya Bie cemas.
"Aku lupa siapa kamu," ucap Keen lagi.
"Keen, apa benar kamu nggak ingat aku? Apa kamu lupa ingatan?"
"Keen, kamu nggak ingat dengan Bie?" tanya Dimas yang berdiri di belakangnya.
"Siapa kamu?"
"Keen, kamu nggak mengenal mereka?" tanya Mami.
"Sebaiknya kita panggil dokter. Mungkin Keen lupa ingatan," ujar Papi.
"Aku hanya ingin melupakan semuanya, kecuali saat Papi mengusirku sebelum kecelakaan."
"Keen, maafkan papi kamu," ujar mami.
"Aku hanya ingin mengingat saat bersama istri dan anakku. Aku hanya ingin mengingat saat bersama kamu, Sayang." Keen berkata sambil memandangi Bie.
"Sayang ...." Bie memeluk Keen mendengar ucapannya. "Kamu jahat, aku kira kamu lupa denganku." Air mata Bie kembali tumpah di dada suaminya itu.
"Sayang, sakit," gumam Keen. Bie langsung melepaskan pelukannya. Bie ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan mendengar pintu dibuka dan Dokter masuk.
Dokter itu memeriksa keadaan Keen dan memintanya menggerakkan kakinya. Tampak Keen kesulitan melakukannya.
"Kaki saya kenapa,Dok," ucap Keen tampak cemas. Bie menggenggam tangan Keen erat.
"Kemungkinan yang dapat saja terjadi pada tungkai Anda adalah Dislokasi sendi di daerah paha, panggul, atau lutut. Sehingga tungkai kesulitan untuk lurus seperti biasanya
Fraktur atau patah, atau retak, pada tulang di sendi paha, sendi lutut, sendi pergelangan kaki, tulang paha atau tulang di tungkai bawah Anda.
Dokter itu mengatakan pada Papi jika akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi. Dan kemungkinan utama adalah patah tulang.
Papi dan Mami diminta menemui Dokter untuk bicarakan pengobatan lanjutan buat Keen. Bie mengambil kursi dan duduk disamping Keen.
"Aku nggak mau cacat, Bie. Bagaimana aku bisa menghidupi kamu jika aku cacat. Pasti akan menambah beban buatmu."
"Nggak, kamu tak akan pernah jadi beban bagiku. Melihat kamu sadar itu sudah lebih dari segalanya."
"Jika aku nggak bisa jalan pasti akan membuat beban bagimu."
"Keen, kamu nggak boleh pesimis begitu. Ini hanya sementara. Kamu pasti sembuh."
"Seandai selamanya. Pasti Barra malu memiliki Papi cacat sepertiku."
"Nggak, aku yakin nggak. Barra nggak akan pernah malu."
"Bie, seandainya aku cacat ... aku ikhlas kamu jika kamu ingin mencari pria lain."
"Nggak, Sayang. Aku nggak akan pernah mencari pria lain. Jika kamu suatu saat nggak bisa melihat, aku yang akan menjadi matamu. Jika kamu nggak bisa jalan aku akan menjadi kakimu. Aku hanya ingin disampingmu. Menghirup nafas dari tempat yang sama."
"Ini memang waktu yang paling sulit untuk kita berdua. Kita harus kuat. Semoga pengobatan berjalan lancar ya sayang.Aku akan selalu ada di sampingmu karena aku sangat mencintaimu." Keen mengecup tangan Bie.
"Jangan pernah berpaling dariku, aku nggak akan sanggup kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu. Walau aku meminta kau pergi, tapi dalam hatiku ingin kamu tetap disini." Keen menarik nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku sayang sama kamu jadi aku berharap kamu menjadi milikku selamanya. Aku hanya butuh kamu disini bersamaku, aku hanya ingin menyangimu dengan segenap hatiku."
"Aku sayang banget sama kamu, jadi aku mohon jangan pernah tinggalin aku. Jadi jangan pernah pergi dari hidupku, kamu harus janji, apapun yang terjadi padaku jangan pernah berpikir untuk ninggalin aku.Aku cuma butuh kamu, aku hanya ingin menyangi kamu. Maka dari itu, tetaplah bersamaku, tetaplah menjadi milikku. Tetaplah menjadi orang yang paling aku sayang dan tetaplah menajdi satu-satunya orang yang paling aku cinta. Karena aku hanya butuh kamu seorang jadi kamu. Janji ya, jangan pernah ninggalin aku sendirian."
"Aku nggak akan meninggalkan kamu. Tetapi kamu harus janji, akan tetap semangat. Demi aku dan Barra. Jangan pernah berputus asa. Aku akan menemani kamu dalam menjalani pengobatan ini. Melihat kamu tersenyum dan mendengar suaramu lagi itu sudah lebih dari segalanya bagiku. Saat kamu terbaring lemah, tubuhku ikut merasakan sakit. Aku nggak mau kamu begitu lagi. Janjilah Sayang, janji demi aku dan Barra ... kamu akan menjalani semua pengobatan ini dengan semangat," ucap Bie.
"Ya Sayang, aku janji." Bie memeluk Keen. Dimas yang melihatnya ikut tersenyum.
Bersambung
****************
Apakah Keen akan cacat selamanya? Terus nantikan kelanjutan dari novel ini. Terima kasih buat semua yang selalu setia membaca. Terima kasih juga untuk semua dukungannya.
Kembali mama memperkenalkan novel-novel teman mama. Ceritanya tak kalah menarik. Bisa mampir sambil menunggu novel ini update.