
Dimas datang sekitar pukul dua siang. Bie mengajak Dimas makan sebelum pergi mengurus pernikahannya.
Bie menemani Dimas makan. Pria itu tak pernah menolak jika Bie memintanya. Bie memandangi Dimas yang makan dengan lahapnya. Dimas yang menyadari Bie menandinginya, menghentikan suapannya.
"Kenapa memandangi gue seperti itu?"
"Lo kalau di Jakarta harus makan dengan lahap juga. Jaga kesehatan. Lo kalau udah di Jakarta kurus. Di sini seminggu aja badannya kembali berisi."
"Gue lahap kalau makan masakan Lo. Makanya di Jakarta gue kurus. Tak ada Lo," gumam Dimas.
"Kalau gitu Gue akan sering kirim makanan."
"Besok setelah menikah, jika Keen diizinkan kuliah di sini kesibukan kamu Lo bertambah karena harus mengurus suami."
"Keen tak mungkin menginap karena pernikahan kami belum diketahui orang tuanya." Setelah mengucapkan itu Bie menunduk.
"Keen akan meyakinkan kedua orang tuanya dalam waktu dekat."
"Semoga restu itu akan segera gue dapatkan."
"Pasti, Bie. Lo baik, orang tua Keen pasti akan suka."
"Tapi asal usul aku tak ada yang tau. Jadi sulit buat orang tua manapun menerima aku menjadi menantunya."
"Jangan pesimis. Kamu harus yakin dan juga berusaha agar izin itu segera didapatkan."
Dimas melanjutkan makannya. Selesai makan ia dan Keen pamit. Dimas akan mengajak Keen ke salah satu kenalan papanya yang bekerja di KUA.
Sementara itu dirumah Cath kedua orang tuanya menanyakan keberadaan Keen. Kenapa pria itu tidak pernah datang menjemput Cath dan mengajaknya jalan.
"Pi, Keen tak mungkin datang ke sini dan pergi bersama aku terus. Di luar aku udah setiap hari bertemu, tentu Keen ingin menghabiskan waktu selama di sini untuk keluarga dan sahabatnya."
"Kalian tidak bertengkar, kan?" tanya mami Cath.
"Kalau bertengkar aku nggak mungkin kemarin ke sini bersama Keen."
"Apa Keen selama ini baik denganmu?"
" Bagaimana menurut Mami?"
"Kenapa kamu tanyakan pada Mami? Yang menjalani hubungan kamu. Kalian juga tinggal di luar. Tapi selama ini yang mami lihat anaknya baik."
"Kalau menurut mami Keen baik berarti baik dong. Aku mau pergi jalan, bosan di rumah aja."
"Kenapa Bie tidak pernah main ke sini lagi."
"Ia udah tak tinggal di panti. Mungkin kuliah ke luar kota."
"Mungkin ..? Berarti itu tak pasti. Kamu tak pernah berhubungan dengan anak itu lagi. Papi pernah ke sana, juga tak tampak Bie." Kali ini papi yang bersuara.
"Nggak tau."
"Apaan sih, Mi. Lebih dari wartawan, semua ditanya. Udah kayak artis diwawancarai aja ku dari tadi."
"Mami udah lama ingin menanyakan ini, tapi kamu selalu saja menghindari. Mami lihat, sejak kamu pacaran dengan Keen, anak itu tak pernah bermain ke sini lagi. Pertunangan kamu ia juga cuma datang untuk mengucapkan selamat dan setelah itu pergi. Yang lebih mami herankan, saat mami mengobrol dengan Keen tentang Bie, ia tampaknya jauh lebih mengenal dan akrab dengan Bie dari pada kamu kekasih dan sekaligus tunangannya."
"Tentu saja Keen lebih mengenal Bie karena mereka itu bersahabat," ucap Cath pelan.
"Bersahabat bukan berpacaran?" gumam Mami.
"Mami ngomong apa? Kalau Bie pacaran dengan Keen mana mau Cath merebutnya, bukan begitu Cath?" ucap Papi.
"Mami dan papi nggak ada omongan lain. Aku mau pergi." Cath berdiri dan masuk ke kamar. Ia mencoba menghubungi Keen tapi ponselnya tidak aktif. Cath melempar ponselnya ketempat tidur.
Mau kamu apa Keen? Papi dan Mami sudah mulai mencurigai hubungan kita. Kamu akan membayar mahal karena telah mempermainkan aku. Kita lihat saja nanti.
Sementara itu Keen dan Dimas baru saja selesai mengurus izin menikah di KUA. Kenalan Dimas yang membantu. Keen dan Bie bisa menikah secara resmi dua hari lagi.
Dari kantor KUA mereka kembali ke rumah kontrakan Bie. Bunda sedang bermain dengan Barra saat mereka datang. Bie mencuci pakaian.
Dimas langsung menggendong Barra. Bocah itu tampak senang dalam pelukan Dimas. Keen hanya memandangi saat Dimas dan Barra bercanda. Hingga malam Dimas masih berada dikontrakan Bie bersama Keen.
"Waktunya makan malam, Daddy. Papi juga. Barra biar mami gendong dulu." Bie mengambil Barra dari pelukan Dimas.
"Daddy makan dulu Barra sayang," ucap Dimas dan mengecup pipi Barra. Keen yang tak mau ketinggalan juga mengecup pipi Barra.
"Mami mau di cium juga," bisik Keen. Bie mencubit lengan Keen mendengar ucapan pria itu.
"Makan sana. Bercanda aja."
"Mami sebenarnya mau tapi malu dengan Barra ya."
"Keen, sana makan. Dimas dan Bunda udah menunggu. Jangan macam-macam."
Keen tertawa melihat wajah Bie yang memerah menahan malu. Dimas melihat semua itu dengan tersenyum.
Aku tau Bie, kebahagiaan kamu adalah Keen. Semoga setelah pernikahan ini, wajah kamu selalu dihiasi dengan senyuman. Tidak ada air mata dipipimu.
Bersambung
********************
Nggak sabar ya menunggu hari pernikahannya Bie dan Keenan. Udah siapin amplop. Jangan bosan ya menunggu kelanjutan dari novel ini.
Terima kasih.
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.