
Setelah dilakukan pemeriksaan akhirnya Dokter mengizinkan Bie melakukan donor darah asalkan Bie tidak lupa konsumsi vitamin setelah ini karena ia sedang menyusui bayinya.
Ibu menyusui tidak dilarang mendonorkan darahnya, asalkan usia bayinya sudah lebih dari 6 minggu dan asalkan memenuhi syarat donor darah yang lain (berusia 17-70 tahun, berat badan lebih dari 45 kg, tekanan darah normal, kadar Hb antara 12,5 hingga 17 gram/dL, jarak waktu donor darah terakhir minimal 12 minggu, tidak sedang dalam kondisi sakit, tidak kecanduan NAPZA dan alkohol, tidak sedang menjalani pengobatan tertentu, serta tidak juga mengalami sakit-sakit tertentu). Hanya saja, orang yang mendonorkan darah akan jauh lebih rentan mengalami anemia. (sumber :google)
Sebelum pengambilan darahnya Bie meminta tolong mami Keen untuk menjaga Barra. Bie memberikan susu formula yang bisa mami buat saat Barra kehausan.
Mami Cath tampak sangat gembira mengetahui jika Bie diizinkan mendonorkan darahnya. Ia memeluk Bie erat.
"Bie, dari awal Tante mengenal kamu, Tante udah langsung suka denganmu. Entah apa yang membuat Tante merasa begitu dekat denganmu. Apa karena wajahmu yang mirip dengan adik Tante yang meninggal?"
"Tante, aku juga menyayangi Tante seperti ibuku. Boleh,kan?"
"Tentu saja boleh. Maafkan,Om."
"Maafkan untuk apa? Om tak ada salah."
"Om menarik investasi di perusahaan papi Keen. Tante tak bisa melarang. Kamu tau sendiri jika om orangnya keras. Jika ia mau tak ada yang bisa melarang."
"Tante, aku yang seharusnya minta maaf, karena telah membuat pertunangan Cath dan Keen berakhir."
"Udahlah. Tante udah tau alasannya dari Mami Keen. Kemarin kami bertemu."
"Terima kasih, Tante."
"Bie ...."
"Kenapa, Tante?"
"Kenapa darahmu bisa sama dengan Om. Padahal darah A- itu termasuk darah yang sangat langka di Indonesia. Boleh Tante tau siapa orang tuamu."
"Aku nggak tau. Yang tau semua tentang aku adalah Bunda."
"Oh ... baiklah, saatnya darahmu di ambil. Tante mau belikan kamu jus dulu ya. Nanti setelah kamu donorkan darah kamu bisa minum."
"Terima kasih, Nte"
"Tante yang harus berterima kasih."
Mami Cath meninggalkan Bie sendiri di ruangan itu. Saatnya Bie mendonorkan darahnya.
Mami Cath meminta supir mencarikan sate hati dan jus jeruk buat Bie makan setelah mendonorkan darah.
"Cath, kamu harus minta maaf dengan Bie," ucap Mami pelan.
"Kenapa? karena ia telah mendonorkan darah buat Papi. Anggap aja itu sebagai balas budi Cath pada Papi yang sering membantunya dan anak-anak panti lainnya."
"Cath, kenapa kamu berkata begitu? Kita tak boleh membantu karena ingin mendapatkan balasan. Harus ikhlas."
"Mami ... kenapa mami selalu saja membela Bie. Saat aku katakan Keen dekat dengan Bie, mami juga curiga jika aku yang merebut Keen."
"Tapi memang mereka pacaran jauh sebelum kalian bertunangan."
"Siapa yang mengatakan itu dengan Mami."
"Mami Keen," ucap Mami lirih. Mendengar itu Cath tampak marah. Ia memandangi Keen dan orang tuanya yang duduk tak jauh darinya.
"Itu hanya pembelaan maminya, agar Keen tak disalahkan."
"Tapi Keen emang seharusnya menikahi Bie. Ada Barra anaknya di antara mereka."
"Siapa suruh jadi wanita murahan, maunya ditiduri sebelum nikah."
"Cath ... sadar, Nak. Jangan bicara kasar begitu. Selama ini kamu dan Bie bersahabat. Kamu pasti lebih mengenalnya. Bukankah itu semua terjadi karena kesalahan. Keen dan Bie juga tak menginginkan itu pasti."
"Siapa yang tau kebenarannya, Mi? Hanya mereka berdua. Apakah benar mereka di jebak atau itu hanya karangan mereka untuk menutupi kebejatan."
"Oh, jadi mami kecewa memiliki anak seperti aku. Mami maunya anak seperti Bie. Hanya karena ia mau mendonorkan darahnya Mami jadi membelanya dan kecewa padaku." Suara Cath yang cukup besar membuat Keen dan kedua orang tuanya memandangi Cath.
Merasa diperhatikan, Cath juga memandangi Keen dengan mata melotot. Mami Cath yang merasa tidak enak hati.
"Cath, kenapa matamu melotot begitu memandang Keen."
"Aku benci, benci banget sama Keen." Suara Cath lirih.
Bie yang telah di ambil darahnya berjalan pelan menuju Keen. Pria itu mendorong kursi dengan tangannya menuju Bie. Ia takut Catherine menyakiti Bie.
"Sayang, kenapa?" ucap Bie melihat Keen yang menyusuinya.
"Kita duduk dekat mamiku aja."
"Iya, tapi aku temui Tante dulu."
"Jangan, biar aja tante yang menemui kamu."
Bie yang tak mau membantah mengikuti maunya Keen. Ia mendorong kursi roda suaminya.
"Gimana, Bie. Kepalanya pusing?" tanya Mami Keen kuatir.
"Nggak, Mi."
"Nanti kamu, Keen dan Barra pulang ke rumah aja. Biar kamu bisa istirahat."
"Aku terserah Keen aja, Mi," ucap Bie.
"Keen tadi udah setuju. Mami udah katakan, kalau kamu dirumah mami, kamu bisa istirahat aja."
"Barra mana, Keen."
"Barra dengan Papi. Di bawa main," ucap Mami.
"Dengan Papi?" tanya Bie.
"Iya, tadi Barra sedikit rewel. Mungkin bosan. Papi ajak ke luar bermain."
"Oh ...." Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Bie.
Mami Cath mendatangi Bie, ia memberikan sate hati dan jus jeruk yang dibelinya. Mami Cath meminta Bie segera memakannya. Mami juga minta maaf atas sikap Cath.
Bersambung.
*******************
Siapakah Bie sebenarnya? Apakah benar Bie adik Cath yang hilang? Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih. ❤❤❤❤❤
Mampir juga ke novel teman mama dibawa ini ya.
Judul. BEGITULAH TAKDIR
Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntunmu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.
Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa , seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.
Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.
Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?