
Pagi harinya Dimas mendatangi kontrakan Bie dengan membawa susu buat Barra beberapa kaleng, diaper, dan makanan serta buahan.
Dimas mengetuk pintu rumah Bie. Tak berapa lama terdengar langkah kaki mendekat dan pintu di buka. Barra ada dalam gendongan Bie.
"Barra, sayang. Daddy kangen banget," ucap Dimas. Ia meletakkan begitu saja barang-barang bawaannya dan mengambil Barra dari gendongan Bie. Tanpa dipersilakan, Dimas langsung duduk di sofa.
Bie mempersilakan Dimas masuk dan ia langsung menuju dapur membuatkan teh. Ia meletakkan teh di atas meja. Bie membawa masuk barang yang tadi dibawa Dimas.
"Banyak banget Lo beli susu buat Barra. Nanti Lo bankrut."
"Gue tak akan bankrut hanya karena membelikan susu buat Barra."
"Lo seharusnya jangan membelikan semua ini. Uang aku sudah cukup banyak sekarang. Berkat bantuan promosi dari Lo, pelanggan gue banyak. Online shop gue banyak pemesanan."
"Alhamdulilah kalau banyak peminatnya saat ini. Semoga makin bertambah pesat aja perkembangan usaha Lo."
Bie duduk dihadapan Dimas yang sedang bercanda dengan Barra. Tiba-tiba Bie berdiri dan duduk disamping Dimas.
"Ini kenapa?" Tunjuk Bie ke arah luka memar di wajah Dimas.
"Kebentur dinding."
"Kok bisa. Emang Lo mabuk. Tak melihat tembok di depan mata."
"Bukan mabuk, Bie. Tapi ngantuk."
"Kok rahang dan wajah Lo yang memar. Tembok pengin juga ya ngerasain pipi Lo."
"Barra sayang, Mami Barra sekarang bawel. Tak percaya ucapan Daddy lagi."
"Lo kelahi?"
"Kelahi ama siapa?"
"Lo jadi datang reuni kemarin?"
"Jadi, emang kenapa?"
"Lo kelahi dengan Keen?"
"Kenapa gue harus berkelahi dengan Keen?" Dimas membuang mukanya. Ia tak berani menatap Bie.
"Lo pernah ngomong, kalau kita bicara harus menatap lawan bicara, itu baru sopan."
"Bie, Lo sejak jadi guru makin bawel ya," gumam Dimas.
"Lo tak ada bakat berbohong. Kenapa Lo bertengkar lagi dengan Keen? Gara-gara gue?"
"Lo kegeeran banget sih, Bie. Gue dan Keen bersahabat tak mungkin gue bertengkar."
"Oke, kalau Lo tak jujur. Kita batal pergi jalannya. Sini Barra, biar gue tidurkan aja."
"Bie, jangan buat gue jadi serba salah gini."
"Gue udah katakan dari awal, hindari Keen. Gue udah menduga jika ini akan terjadi. Makanya gue mengingatkan Lo dari awal."
"Gue tak bisa menahan diri melihatnya. Apa lagi saat Keen mengatakan jika semua ini salah Lo. Keen mundur juga karena Lo yang minta. Padahal dari awal ia tak mau berpura-pura, tapi Lo masih terus meminta ia untuk menerima Cath."
"Tapi apa yang dikatakan Keen benar. Gue yang meminta ia untuk memutuskan hubungan kami. Gue juga yang meminta ia menerima Cath," ucap Bie dengan lirih.
"Gue bukan membelanya, Dim. Apa gue membenarkan ucapannya."
"Jika Keen emang mencintai Lo, Keen tak akan dengan mudahnya melepaskan dan pergi dari Lo. Seharusnya ia tetap berusaha mempertahankan semua itu dan mencari cara agar bisa tetap bersama."
Bie memiringkan badannya menghadap Dimas dan memeluk Barra yang sedang dalam pelukan Dimas.
"Gue baik-baik aja selama ada sahabat seperti Lo. Apa lagi sekarang sudah ada Barra. Bersama Lo dan Barra hidup gue udah bahagia." Bie tersenyum sambil menatap Dimas begitu dekat. Jika dilihat dari belakang Bie bukan memeluk Barra, tapi tampak sedang memeluk Dimas.
"Jangan menatap gue seperti itu," gumam Dimas.
"Kenapa ...?"
"Gue takut akan jatuh cinta dengan Lo," ucap Dimas.
Bie membalikkan badan. Ia melepaskan pelukannya.
"Lo bisa aja," gumam Bie.
"Kita pergi sekarang." Dimas mengalihkan pembicaraan.
"Gue ambil obat dulu. Luka memar Lo harus diobati."
Bie mengambil kotak obat. Dimas kembali bermain dengan Barra. Tampak bocah itu sangat senang bermain dengan Dimas.
Bie mengoleskan salep untuk mengobati luka memar di wajah Dimas. Pria itu menatap Bie dari jarak yang begitu dekat.
Seandainya Lo menjadi milik gue seutuhnya, pasti gue akan sangat bahagia. Dan tak akan pernah gue biarkan air mata jatuh dipipi Lo walau setetespun.
"Selesai, sekarang kita bisa pergi."
Bie mengambil tas yang berisi semua perlengkapan Barra. Bocah itu sangat nyaman dipelukan Dimas. Setelah Bie duduk di mobil barulah Barra diserahkan kepangkuan maminya itu.
Dimas menyetir dengan sangat hati-hati. Mereka menuju salah satu restoran sebelum ke pusat perbelanjaan.
Dimas ingin membelikan Barra pakaian dan perlengkapan lainnya.
Di tempat lain tampak Keen sedang menemui seseorang. Ia meminta orang tersebut untuk menyelidiki tentang Bie. Keen mulai curiga setelah mendengar ucapan Dimas dan anak laki-laki di panti kemarin malam.
Jika kamu memang menyembunyikan tentang keberadaan darah dagingku, kamu kejam Bie. Memisahkan antara seorang bapak dan anaknya. Bukankah dari awal aku ingin bertanggung jawab.
Keen memberikan foto Bie dan meminta orang itu mencari tau keberadaan Bie secepatnya.
Bersambung
*******************
Apakah yang akan Keen lakukan jika ia mengetahui keberadaan Bie dan Barra? Nantikan terus ya kelanjutan dari novel ini.
Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.