
Bie, Keen dan kedua orang tuanya sedang berkumpul di ruang keluarga. Papi ingin bicara dengan keduanya.
"Keen, Bie ... maafkan papi jika kemarin sempat menentang hubungan kalian. Terus terang Papi malu. Kenapa Papi dulu sempat melarang hubungan kalian, padahal sudah menikah." ujar Papi pelan.
"Pi, aku sudah memaafkan semuanya. Aku mengerti dengan sikap Papi. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya."
"Papi kemarin memang salah, yang ada dipikiran Papi hanya harta dan tahta. Tapi sejak Papi melihat senyum tulus dari Barra, papi mulai menyadari jika keluarga itu lebih dari segalanya. Harta yang paling berharga adalah keluarga."
"Mami dan Papi ingin kamu tinggal bersama di sini selamanya," ucap Mami.
"Mi, aku hanya ikut kemana suaminya pergi. Jika memang Keen ingin tinggal di sini, aku akan ikut."
"Keen, apa kamu masih marah dengan Papi."
"Papi, apa papi mau menerima aku dan Bie hanya karena Barra. Jika tak ada Barra, Papi tak akan merestui kami."
"Keen ..." ucap Bie pelan.
"Keen, jika papi bisa terima Barra sebagai cucu Papi, itu berarti Papi juga harus menerima ibunya. Papi bukanlah sekejam yang kamu kira, yang hanya mau menerima Barra karena ia darah darah dagingmu tapi tidak dengan ibunya. Bukankah jika tak ada Bie, pasti Barra tak akan ada di dunia ini."
"Keen, cobalah mengerti akan posisi Papi. Besok kamu juga akan merasakan setelah Barra besar."
"Aku mengerti," ucap Keen akhirnya.
"Apa itu artinya kamu telah memaafkan semua kesalahan, Papi," ucap Mami senang. Keen hanya mengangguk.
"Keen, Papi dan Mami berencana akan mengadakan pesta pernikahan kamu, sekalian untuk mengenalkan Bie dan Barra," ujar Papi.
"Nggak perlu, Pi. Itu hanya buang-buang uang aja," ucap Bie.
"Nggak apa Bie, Papi dan Mami udah niat begitu."
"Semua terserah Papi aja. Cuma apa mungkin aku dengan kursi roda saat pesta nanti?"
"Pesta kita adakan saat kamu sudah sembuh."
"Berarti sekitar lima bulan lagi. Itu saat usia Barra telah menginjak satu tahun."
"Kalau begitu sekalian pesta untuk merayakan ulang tahun Barra."
Keen dan Bie setuju setelah Mami membujuk. Mami mengatakan pesta itu diadakan juga agar saudara yang lain mengenal Bie dan Barra.
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya diputuskan pesta diadakan tepat saat Barra berusia satu tahun.
Saat ini perusahaan Papi telah mendapat investasi dari pengusaha lain. Papi ingin Bie dan Keen melanjutkan kuliah di tempat yang sama.
Papi dan Mami akan mendaftarkan Bie ke fakultas yang cukup ternama di kota ini. Sambil kuliah Papi meminta Keen mulai belajar bisnis untuk menggantikan dirinya setelah Keen lulus kuliah.
...........
Pagi ini Bie diminta Mami Cath datang ke rumah sakit. Bie heran kenapa mami dan papi Cath tiba-tiba ingin bertemu dirinya.
Ketika Bie meminta Mami Cath mengatakan keinginan mereka di ponsel saja, mami nggak mau mengatakan. Ia ingin bertemu Bie langsung.
Akhirnya Bie datang ke rumah sakit berdua Keen. Barra di tinggal bersama Mami. Keen tak mengizinkan Bie datang sendiri.
Sampai di rumah sakit Bie langsung menuju ke ruang inap Papi Cath. Ia dan Keen masuk setelah sahutan dari dalam mempersilakan.
Mami Cath langsung memeluk Bie begitu melihatnya. Mami menangis. Bie dan Keen heran melihat Mami Cath.
"Maafkan Mami, Bie. Maafkan Mami," ujar Mami membuat Bie tambah heran.
Kenapa mami Cath menyebut dirinya mami denganku. Biasanya Tante.
"Bie, boleh Papi memeluknya," ucap Papi Cath dari tempat tidur.
Keen dan Bie saling berpandangan keheranan melihat tingkah laku kedua orang tua Cath. Bie berjalan perlahan mendekati ranjang diikuti Keen.
"Maafkan, Pepi," ucap Papi merentangkan tangannya minta dipeluk. Bie dengan rasa penasaran akan sikap mereka tetap memeluk Papi.
"Maafakan Papi, Nak."
"Nak ...?" ucap Bie mendengar ucapan Papi.
"Iya, Bie. Kamu anak Papi."
"Anak Om? Aku tak ngerti. Om sadar. Aku ini Bie, sahabat Cath. Bukan anak, Om."
"Kamu itu anak Papi dan Mami yang hilang."
"Tante, tolong jelaskan ini! Apa maksud perkataan,Om ini?"
Keen merapatkan tubuhnya ke Bie. Ia juga heran dan kaget atas perkataan Papi Cath.
"Papi benar,Nak.Kamu adalah anak kami yang hilang. Adiknya Cath."
"Tante, aku tambah tak mengerti. Coba Tante katakan ada apa ini."
"Mami akan menjelaskan semuanya. Sebaiknya kamu dan Keen duduk dulu di sofa. Mami akan menjelaskan dari semua perkataan Papi."
Bie membantu Keen untuk duduk di sofa yang ada di ruang itu. Mami menolong mendudukkan Papi dan menyandarkan ke ranjang. Setelah itu Mami bergabung dengan Bie dan Keen.
Bersambung
Apakah Bie bisa terima kenyataan jika dirinya ternyata saudara kandung dari Cath yang selama ini hanya dianggap sahabat?
Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.
Area Dewasa, 21++, usahakan membaca dengan pemikiran yang luas.
.
.
Buat kamu, laki laki pemuja kesempurnaan wanita. Aku cuman mau bilang "F*ck You!! And get lost!!" ~Dewi Ayuningtyas
Kamu salah paham! Aku kehilangan canda garingmu bahkan saat kamu masih belum sesempurna ini! Aku adalah penganut "Dont judge a book by its cover!" ~Langit Azka Jayaprana
Sempurna! Adalah kata kata yang menyedihkan saat kamu tidak sempurna. Bayang - bayang ketidak sempurnaan akan menjadi lebih jelas saat yang mencibir adalah sosok orang yang menjadi pujaan hati, bahkan seseorang yang diimpikan menjadi suami kelak.
Lalu bagaimana saat kata kata menyakitkan dan penuh penghinaan mampir ditelinga seorang Dewi Ayuningtyas, kaum rebahan yang memiliki pemikiran bahwa Big is beautiful?
Apalagi ia berpikir kalau yang mengatakan itu adalah orang yang ia puja bahkan sejak ia masih kecil, yaitu Langit Azka Jayaprana?
The sweet revenge ( Pembalasan dendam termanis ) adalah jawabannya!