
Telah hampir tiga minggu Keen di rawat. Hari ini dokter mengizinkan Keen pulang. ia hanya butuh rawat jalan. Mami dan Papi telah melakukan pembayaran perawatan. Bie menyusun pakaian Keen ke dalam tas. Bunda telah menunggu dikontrakan.
"Mari Keen, kita pulang lagi. Pembayaran telah Papi kamu lakukan," ucap Mami. Papi yang berdiri di belakang mami hanya diam.
"Terima kasih karena udah mau membayar tagihanku. Aku akan bayar jika udah kerja."
"Keen, itu memang kewajiban kami sebagai orang tuamu. Kamu nggak perlu menggantinya."
"Bagi Mami mungkin nggak perlu, tapi belum tentu Papi berpikir yang sama," ucap Keen.
"Kamu jangan ngomong gitu. Mami tak suka"
"Jangan mulai lagi, Keen," ujar Papi.
"Memulai apa? aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Bukankah Papi nggak mengizinkan aku untuk pulang jika aku nggak menikah dengan Cath."
"Udahlah Keen, saat ini Papi lagi nggak mau bertengkar."
"Aku nggak akan pulang kerumah Papi. Aku hanya akan pulang ke rumah kontrakan Bie. Akan kubuktikan jika aku bisa hidup tanpa bantuan Papi dan aku nggak salah memilih Bie sebagai pendamping hidup."
"Terserah kamu! kalau itu memang mau kamu. Mami, sebaiknya kita pulang. Percuma bicara dengan anak keras kepala ini," ucap Papi.
Papi berjalan melangkah meninggalkan ruangan inap tempat Keen di rawat selama ini. Baru beberapa langkah terdengar suara Keen.
"Aku akan membayar semua tagihan yang telah Papi lunaskan. Anggap aja itu hutangku."
Bie hanya diam tak ingin ikut campur dengan urusan keluarga mereka. Mami berjalan mendekati Keen.
"Jangan berkata begitu, Keen. Papi kamu pasti ikhlas membayar semua tagihan itu. Pulanglah ... Papi kamu kemarin hanya terbawa emosi. Mami yakin Papi tidak benar-benar marah padamu. Kita pulang ... bawa Bie dan Barra sekalian ke rumah."
"Papi nggak pernah ngomongin Bie. Jika Papi belum bisa menerima Bie dan Barra, aku tak akan pernah kembali ke rumah."
"Keen, Mami bisa pastikan jika Papi sebenarnya telah bisa menerima Bie dan Barra. Hanya saja Papi nggak pandai mengungkapkan perasaannya. Mami yakin Papi sangat senang saat mengetahui jika ia telah memiliki cucu." Mami masih terus membujuk Keen. Papi menunggu di balik pintu.
"Udahlah, Mi. Jangan membela Papi terus. Buktinya papi langsung pergi dan setuju saat aku mengatakan nggak akan pulang. Mami aja pulang."
Mami mendekati Bie yang berdiri di dekat tempat tidur. "Bie, kamu mau ikut Mami pulang, kan?"
"Mi, sebagai istri ... aku akan ikut kemana suamiku pergi. Jika Keen lebih memilih kekontrakan,aku juga gitu. Tapi aku harap mami jangan bersedih, suatu saat pasti Keen akan pulang," ucap Bie dengan tersenyum.
"Saat ini baik Keen atau Papi masih terbawa emosi. Ada baiknya Keen di rumah kontrakan dulu. Biar sama-sama merenungi semua yang terjadi pada dirinya belakangan ini."
"Bie, boleh Mami minta tolong."
"Tentu, Mi."
"Tolong nanti kamu bujuk Keen untuk mau kembali ke rumah."
"Baik, Mi."
"Boleh Mami minta alamat rumah kontrakan kamu."
"Baiklah, Bie. Mami akan pulang bersama Papi. Kami harap kamu bisa membujuk Keen untuk kembali ke rumah lagi."
Mami menghampiri Keen. "Mami pulang,Keen. Mami harap kamu berubah pikiran dan kembali ke rumah bersama Bie dan Barra. Pintu rumah selalu terbuka untukmu, Bie dan Barra."
Mami mengecup kepala Keen. Mami bwrusah menahan air matanya agar tak tumpah. Mau memeluk Bie, dan memberikan amplop.
"Kamu bisa gunakan ini buat kebutuhan kalian. Jika habis segera hubungi Mami. Nanti mami pasti akan sering berkunjung. Kamu nggak keberatan, kan?"
"Aku pasti akan sangat senang jika mami mau datang."
Mami melangkah meninggalkan ruang rawat dengan berat hati. Sebelum membuka pintu kembali mami memandangi Keen, berharap anaknya itu berubah pikiran.
............
Bie memanggil taksi untuk mengantarnya pulang kekontrakan. Sampai di rumah Bunda dan Barra menyambutnya. Keen saat ini tidak lagi menggunakan kursi roda. Ia telah mampu berjalan menggunakan bantuan tongkat.
Bie membantu Keen berjalan. Ia meminta Keen langsung ke kamar biar bisa berbaring untuk istirahat. Setelah membantu Keen naik ke tempat tidur, Bie mengambil Barra dari tangan Bunda.
Bunda kembali ke panti dengan taksi yang tau mengantar Bie. Bunda tak mungkin menginap karena kontrakan Bie hanya ada satu kamar.
"Makasih, Bunda. Aku masih aja terus merepotkan."
"Kamu tak pernah merepotkan, Bunda. Apa kamu yakin bisa menjaga Keen dan Barra. Atau Bunda bawa Barra lagi."
"Nggak usah, Bunda. Aku yakin bisa menjaga Keen dan Barra. Bunda hati-hati."
Bunda masuk ke taksi yang akan membawanya menuju ke panti. Setelah taksi menghilang, barulah Bie masuk.
Bie meletakkan Barra di dekat Keen. Ia langsung naik ke tubuh Keen. Sepertinya Barra sangat merindukan papinya.
"Barra pasti kangen banget ya ama papi. Langsung minta peluk," ucap Bie. Keen memeluk erat tubuh putranya itu. Tampak matanya berkaca menahan tangis.
"Kamu adalah hadiah terindah yang Papi syukuri setiap hari. Melihatmu tersenyum, bagaikan melihat berlian terbesar di dunia. Kamu adalah harta yang tak ternilai harganya dalam hidup kami. Maafkan papi karena tidak bisa seperti papi teman-temanmu, tapi papi berjanji untuk memberimu segala yang terbaik yang bisa aku berikan."
Bersambung
****************
Terima kasih banyak buat semua pencinta novel Love is Rain, atas dukungannya selama ini. Cinta kalian semua. 😘😘😘😘
Seperti biasa mama ingin perkenalkan novel teman-teman mama. Bisa mampir nanti.