
"Keen ...!" ucap Cath kaget. Ia tampaknya tak percaya dengan Pendengarannya.
Apakah benar Bie hamil anak Cath? Apakah anak yang di gendong Bie itu anaknya dengan Keen. Sudah sejauh mana hubungan Keen dan Bie. Kenapa aku tak pernah melihat mereka berduaan ataupun bermesraan?.
"Keen yang telah menghamili Bie? Emang telah sejauh mana hubungan mereka selama ini?"
"Kenapa emangnya, Cath?"
"Kenapa Bie bisa melakukan hubungan terlarang hingga hamil? atau ia sengaja menjebak Keen?"
"Menjebak Keen? Apa maksud Lo?" tanya Dimas dengan suara yang sedikit meninggi.
"Mungkin Bie sengaja menjebak Keen saat melakukan hubungan terlarang agar Keen mau menikahinya."
"Ternyata gue salah menilai Lo selama ini. Gue kira Lo baik, dan hanya karena salah paham yang membuat Lo jadi membenci Bie. Nggak taunya hati Lo emang busuk. Apa Lo tak bisa mengenali sifat sahabat sendiri." Dimas tampak mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Apa salah gue berpikir begitu? Mungkin aja Bie ingin merubah nasibnya hingga melakukan segala cara untuk mendapatkan Keen."
Dimas meninju bangku tempat Cath duduk hingga ia kaget. Cath takut melihat wajah Dimas yang memerah karena menahan amarahnya. Ia menepi hingga ke ujung bangku.
"Ternyata otak Lo isinya kotor dan hati Lo busuk. Apa Lo pikir Bie mau melakukan itu hanya untuk merubah nasib. Lo lupa jika selama kita bersahabat tak pernah sekalipun Bie mau manfaatkan Lo atau gue. Jika tak dipaksa, tak mau ia menerima pemberian dari kita." Dimas berkata dengan suara yang gemetar. Ia berusaha menahan emosinya.
"Bie selalu menggunakan sifat lembutnya untuk menjerat pria termasuk Lo. Sejak Bie hadir diantara kita Lo tak pernah lagi ada buat gue. Lo pasti selalu mengutamakan Bie." Cath berkata dengan suara gemetar menahan tangis.
"Dulu Lo selalu ada buat gue. Tapi semenjak ada Bie, gue jadi prioritas kedua. Bie yang utama. Gue cemburu. Tapi tak mungkin mengatakan semua itu, karena itu akan membuat Lo membenci gue nantinya."
"Lo dan Keen sama aja. Lebih mengutamakan Bie. Gue cemburu melihat Lo perhatian ama Bie"
"Kenapa Lo cemburu?"
"Karena gue mencintai Lo! Lo tak pernah menyadari perasaan gue. Gue membuat peraturan untuk tidak jatuh cinta agar Lo dan Bie tidak bisa jadian."
"Apa ...!" ucap Dimas kaget.
"Ya, gue mencintai Lo dari awal kita kenalan. Saat Keen masuk, gue tau jika ia menyukai Bie. Makanya gue minta dekatkan. Gue tak mau hanya Bie aja yang mendapatkan perhatian. Gue cemburu, gue cemburu!" ucap Cath penuh penekanan.
"Jadi selama ini Lo tau Keen menyukai Bie?"
"Ternyata Lo sakit, Cath! Lo terlalu cemburu. Padahal Bie ikhlas bersahabat dengan Lo. Ia percaya dengan Lo."
"Ya, gue sakit. Sakit hati. Dada gue sesak setiap melihat perhatian Lo yang berlebihan dengan Bie."
Dimas tersenyum miring menanggapi ucapan Cath. Tak pernah ia berpikir jika Cath mencintai dirinya selama ini. Ternyata Cath menyimpan perasaan sama seperti dirinya yang menyimpan rasa cinta pada Bie.
Dimas pikir selama ini Cath benar-benar tulus dalam persahabatan mereka tapi ternyata ia menyimpan banyak rahasia. Dimas tak tau harus berkata apa dengan Cath. Ia tak mau kehilangan kendali.
"Lo sakit hati melihat Bie bersama gue ataupun bersama Keen. Tetapi Lo tak tau gimana ia lebih sakit lagi selama ini. Keen membemcinya karena memutuskan hubungan hanya demi sahabat. Yang lebih sakit lagi, ia harus membesarkan anaknya seorang diri dan menghadapi omongan orang-orang karena hamil di usia muda."
Dimas berdiri dengan gelisah. Sesekali ia menarik nafas. Terkadang Dimas juga menarik rambutnya frustrasi karena menahan emosi. Ia tak ingin menyakiti wanita apa lagi itu sahabatnya sendiri.
Dimas memandangi Cath yang duduk dengan menunduk. Sesekali tampak Cath meremas tangannya. Cath tampak ketakutan.
"Seharusnya kamu mengerti apa yang Bie dan Keen lakukan saat ini hanya demi anak mereka. Cinta mereka itu terlalu kuat untuk dipisahkan apalagi ada Barra di antara mereka. Cobalah berkompromi dengan hatimu, Cath. Cinta itu tak harus memiliki."
Cath memandangi Dimas, tampak air mata mulai membasahi pipinya.
"Gue rasa tak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Gue minta maaf jika selama ini membuat Lo sakit hati karena tak tau perasaan Lo pada gue. Gue ucapkan terima kasih karena telah mencintai gue. Maaf, gue belum bisa membalasnya." Cath tampak makin terisak.
"Renungkanlah apa yang gue katakan. Buang rasa cemburu Lo, buang semua marah dan dendam, itu akan membuat hidup Lo lebih bahagia. Pulanglah! gue juga akan masuk."
Dimas berjalan perlahan meninggalkan Cath yang masih duduk di bangku taman itu. Tangisnya pecah begitu Dimas pergi dari hadapannya.
Bersambung.
Bagaimana bab kali ini? Akhirnya Cath mengeluarkan semua isi hatinya. Apakah Dimas akan membalas cinta Cath? Apakah Dimas akan berterus terang pada Bie tantang perasaan Cath? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih. ❤❤❤❤
Mampir juga ke novel teman mama dibawah ini,tak kalah menarik.