
Keen datang ke rumah Cath siang ini. Ia ingin mengatakan tentang keputusannya yang ingin mengakhiri hubungan mereka.
Keen masuk setelah dipersilakan pembantunya. Ia duduk di ruang keluarga. Ke dua orang tua Cath sedang bekerja. Rumah tampak sunyi.
Tak berapa lama tampak Cath yang berjalan turun menuju Keen berada saat ini. Ia duduk pas dihadapan Keen.
Wajah Cath terlihat masam saat memandangi Keen. Tangannya dilipat ke dada.
"Masih ingat kamu datang ke sini!"
"Aku mau bicara."
"Dari tadi kamu juga udah bicara."
"Aku rasa lebih baik hubungan pertunangan ... kita batalkan saja."
"Apa maksudmu?"
"Aku rasa ucapanku sangat jelas."
"Kenapa?"
"Kamu pasti tau alasannya."
"Aku ingin dengar dari mulutmu langsung."
"Aku tak pernah mencintaimu. Aku bertunangan karena papi yang memaksa."
"Apakah kamu diancam akan dibunuh jika tak bertunangan denganku sehingga kamu mau saat pipimu memaksa?"
"Bukan di ancam akan di bunuh, tapi aku terima pertunangan itu karena banyak nyawa yang aku pikirkan. Perusahaan papi yang hampir bangkrut harus mengurangi banyak karyawan. Itu berarti akan terjadi pemutusan hubungan kerja untuk banyak karyawan, itu sama saja membunuh perlahan keluarga karyawan itu jika ia tak dapat kerja pengganti."
"Oke, kamu menerima pertunangan karena terpaksa. Lalu apa maksud kamu menerima cintaku dulu dan menjadikan aku kekasihmu."
"Permintaan Bie."
"Jangan mengada-ngada kamu, Keen."
"Aku tak berbohong. Saat kamu mengatakan pada Bie jika kamu menyukaiku, itu sebenarnya kami telah jadian. Bie tak ingin kamu sedih, ia memutuskan hubungan kami dan meminta kau menerima cintamu. Bie tak mau kamu terluka saat tau kami telah pacaran."
Wajah Cath tampak memerah menahan marah mendengar ucapan Keen. Ia tak bis menerima saat Keen mengatakan jika menerima cintanya atas permintaan Bie. Cath berdiri dari duduknya dan memandangi Keen dengan raut muka amarah.
"Aku tak pernah tau jika kamu dan Bie telah pacaran. Aku juga tak pernah meminta ia mengalah. Apakah itu salahku juga? Kamu dan Bie telah mempermainkan aku. Kalian pikir semenyedihkan apa aku sehingga perlu kalian kasihani dengan berpura-pura menerima cintaku?"
Cath berteriak makin kencang. Ia tampak sangat marah mengetahui semua itu. Walau dalam hatinya telah berpikir tentang itu, tapi mendengar kenyataan langsung dari mulut Keen membuat ia merasa terhina.
"Bie bukannya kasihan saat meminta aku menerima kamu. Tapi semua yang ia lakukan atas dasar persahabatan. Ia menghargai persahabatan kalian sehingga memutuskan hubungan kami. Ia menyayangi kamu, tak ingin melihat kamu sedih. Membiarkan dirinya terluka. Seharusnya kamu berterima kasih karena memiliki sahabat seperti Bie. Yang rela mengorbankan kebahagiaannya untuk kamu."
"Omong kosong. Yang korban disini bukan Bie, tapi aku. Apakah kamu dan Bie tak pernah berpikir jika apa yang telah kalian lakukan itu menginjak harga diriku. Kalian pikir hatiku ini mainan. Pura-pura menerimaku setelah itu diputuskan begitu saja."
"Cath, cinta itu tak bisa dipaksakan. Aku udah berusaha untuk menerima kamu, tapi hatiku tak bisa dibohong jika cintaku hanya untuk Bie."
"Aku tak mau mendengarnya! Aku akan katakan pada papi jika kamu ingin memutuskan pertunangan kita. Kamu pasti tau risiko apa yang akan diterima."
"Aku juga pasti akan mengatakan ini pada kedua orang tuamu. Aku minta maaf jika menyakiti hatimu. Atas nama Bie aku juga minta maaf jika yang telah ia lakukan ternyata tak bisa kamu terima."
Cath mengambil vas bunga yang ada diatas meja dan melemparnya ke lantai hingga hancur berkeping. Tampak raut wajahnya yang emosi. Ia kembali memandangi Keen dengan mata menyala.
"Kau pikir akan semudah itu lepas dariku. Aku tak mau pertunangan kita putus. Kau dan aku akan tetap menikah."
"Aku tak mencintaimu."
"Aku tak peduli," teriak Cath.
"Kau gila Cath! Terima ataupun tidak, telah kukatakan sejujurnya perasaan ini. Aku pamit. Semoga kamu pikirkan semua ini dengan kepala dingin. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah berakhir baik." Keen berdiri dan berjalan menuju pintu utama.
Cath hanya melihat kepergian Keen dengan perasaan yang bergejolak. Ia tak terima jika akhirnya harus berpisah. Cath tak ingin malu dan menjadi bahan pembicaraan bagi teman-teman nantinya.
Setelah kepergian Keen, Cath berlari naik ke lantai atas menuju kamarnya. Di kamar Cath terduduk dilantai. Ia tampak frustrasi dengan menarik rambutnya. Air matanya tumpah tak terbendung lagi.
Apakah salahku, dan apa kurangku dari Bie?. Kenapa kamu tak bisa mencintai aku.Padahal aku bisa memberikan cinta yang jauh lebih besar dari Bie.
Bersambung.
***************
Apa yang akan dilakukan Cath? Apakah pada akhirnya ia bisa menerima keputusan Keen untuk mengakhiri pertunangan mereka? Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini.
Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.