
Bunda mengetuk pintu kamar Bie. Mendengar pintu kamarnya di ketuk, Bie menghapus air matanya. Ia berjalan perlahan membukakan pintu.
"Bunda ...."
"Apa Bunda boleh masuk?"
"Tentu saja, Bunda. Masuklah!" ujar Bie membuka pintunya lebar agar Bunda bisa masuk.
"Duduklah di sini. Dekat Bunda," ucap Bunda menepuk kasur. Bunda mengajak Bie duduk di tepi ranjangnya.
"Ceritakan pada Bunda, apa yang sedang kamu alami saat ini."
"Aku tidak apa-apa, Bunda." Bie berucap sambil menunduk.
"Bunda, mau kamu katakan dengan jujur. Bunda tau saat ini kamu sedang berbohong. Kamu itu anak, Bunda. Dari umur satu tahun kamu udah Bunda rawat."
Bie turun dari ranjang dan bersimpuh di kaki bunda.
"Maafkan aku, Bunda," ucap Bie dengan air mata bercucuran.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa minta maaf?"
"Bunda, aku telah melakukan kesalahan besar. Aku telah memalukan Bunda. Aku siap menanggung semuanya, Bunda boleh memarahiku, memukulku atau apa saja."
"Katakan dengan jelas. Bunda tak mengerti."
"Bunda, aku ... aku ...."
"Kamu kenapa, nak," ucap Bunda sambil mengusap punggung Bie yang bersimpuh.
"Aku,aku ... hamil, Bunda."
Bunda yang tangannya sedang mengelus punggung Bie sangat kaget. Ia menutup mulutnya agar tak bersuara keras.
"Apa yang kamu katakan ini, kamu bercanda."
"Aku nggak bercanda,Bunda."
"Siapa pria yang menghamilimu? Kenapa kamu bisa hamil? Bunda tak menyangka kamu bisa lakukan ini. Kamu anak kebanggaan Bunda yang diharapkan bisa memberi contoh untuk adik-adikmu. Kamu sangat mengecewakan, Bunda," ucap Bunda tak bisa menahan air matanya.
"Bunda, aku mengaku salah. Tapi aku juga tak pernah menginginkan ini terjadi. Semua di luar kendaliku, Bunda."
"Siapa ayah anakmu, Bie?"
"Keenan ...." ucap Bie lirih.
"Apa ...? Keenan. Bagaimana bisa kamu lakukan ini, nak. Kamu tau ini dosa."
"Aku tau, Bunda. Maafkan aku."
"Sekarang kamu hubungi Keenan, Bunda mau bicara. Kalian harus menikah secepatnya sebelum perutmu makin membesar."
"Aku tak bisa, Bunda."
"Kenapa?"
"Keenan akan bertunangan dengan Cath."
"Apa maksudmu, Nak?"
Bie menjelaskan semua kejadiannya dengan. terbata pada Bunda. Ia mengatakan tentang malam perpisahan itu. Bie juga tak lupa minta maaf karena telah membohongi Bunda.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan. Keenan seharusnya bertanggung jawab dengan kehamilanmu ini."
"Tapi aku tak mau merusak kebahagiaan Cath, Bunda. Mami Cath begitu bahagia saat mengatakan Cath yang akan bertunangan dengan Keenan."
"Tapi ini bukan persoalan kecil. Jika kamu menyembunyikan ini dari Keen, apakah kamu siap menanggung aib dan beban ini seorang diri."
"Aku siap Bunda."
"Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu bisa membesarkan anak seorang diri dengan usia kamu yang sangat muda ini?"
"Aku pasti bisa, Bunda."
"Kenapa kamu hanya memikirkan kebahagiaan orang lain. Dirimu sendiri tidak kamu pikirkan."
"Bunda, jika aku mengatakan semua kebenaran tentang kehamilanku pada Keenan, apakah orang tuanya bisa terima? Bagaimana jika nanti orang tuanya Keenan tak menginginkan anak ini? Hubunganku dengan keluarga Cath sudah pasti memburuk karena aku telah menggagalkan bertunangan Keen dengan Cath. Aku juga belum pasti bisa menikah dengan Keen. Semuanya batal, dan berantakan. Lebih baik aku membiarkan pertunangan Keen dan Cath. Aku pasti bisa membesarkan bayi ini. Aku hanya butuh dukungan dari, Bunda."
"Lalu apa rencana kamu selanjutnya. Kamu pasti tidak bisa melanjutkan pendidikan karena kehamilanmu."
"Aku ingin memulai hidup di tempat lain. Aku akan mencoba membuka usaha kecil-kecilan dari uang simpanan. Nanti setelah anak ini lahir, aku akan melanjutkan kuliah."
"Bunda tidak bisa melakukan apa-apa. Hang doa yang bisa Bunda berikan. Apapun itu yang akan kamu lakukan, semoga semuanya berjalan sesuai rencana."
Bunda meminta Bie kembali duduk di sampingnya. Bunda meminta Bie untuk memulai hidup di kota tempat kelahiran Bunda. Di sana Bunda masih ada kenalan. Bunda akan mengantar Bie ke kota itu.
Setelah itu Bunda keluar dari kamar. Ia meminta Bie istirahat dan menjaga kesehatan dirinya dan bayi dalam kandungan.
Keesokan harinya, Bie mulai menyusun semua barang-barang yang akan ia bawa pergi. Saat ia sedang mengemas barang ke dalam kardus, salah seorang adiknya di panti mengatakan jika Dimas ingin bertemu.
Bie meninggalkan dulu kesibukannya. Ia menemui Dimas yang menunggu di bawah pohon depan panti.
"Selamat sore, Dim."
"Selamat sore. Tumben ucapin salam."
"Emang tak boleh," ujar Bie.
"Lo sibuk."
"Kenapa?"
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga."
"Jadi gue harus ngomong apa?"
"Kita ke kafe sebentar."
"Gue ganti baju sebenar ya."
"Oke, gue selalu siap menunggu Lo sampai kapanpun. Tak akan pernah gue pergi."
"Gombal. Gue bukan pacar Lo. Tak perlu digombalin. Gue sebentar aja ganti bajunya."
Bie masuk ke panti dan pamit dengan Bunda. Bie memang ingin ketemu Dimas juga sebelum ia pergi dari kota ini.
Setelah Bie mengganti pakaiannya, ia menemui Dimas. Dimas membawa Bie ke salah satu kafe favoritnya.
"Apa yang ingin Lo katakan?"
"Gue tak tau harus memulai dari mana?"
"Apaan sih, Dim. Katanya mau ngomong."
"Hhhmmm, Bie ... sebelum gue memulai bicara, gue mau Lo tetap jadi Bie yang gue kenal. Bie yang ceria."
"Aduh, Dim. Lo mau ngomong apa sih?"
"Keen dan Cath akan bertunangan," gumam Dimas.
"Oh ...." ucap Bie datar.
"Lo nggak kaget. Lo udah tau?"
"Aku sudah tau dari maminya Cath."
"Kapan Lo tau? Kenapa Lo nggak ngomong?"
"Kemarin. Gue lupa ngomong sama Lo."
"Lo nggak apa-apa,Bie."
"Jadi gue harus bagaimana menurut Lo. Gue harus menangis dan berteriak. Gue harus membatalkan pertunangan mereka. Gue harus katakan pada semua jika gue ini terluka." Tangis Bie akhirnya pecah.
Dimas merapatkan tubuhnya dan membawa Bie ke dalam pelukannya.
"Bie, Lo harus sabar dan kuat." Bie melepaskan pelukan Dimas.
"Dim, ini semua bukan kesalahan Keen atau Cath. Bukankah gue yang meminta Keen menerima Cath. Jadi gue tak boleh menyesalinya. Gue.harus bisa menerimanya. Gue ini kuat. Lo sering katakan itu, bukan?"
"Bie, gue tak tau harus berkata apa. Gue tau saat ini hati Lo terluka. Walaupun Lo katakan telah ikhlas melepaskan Keen, tapi dari dalam hati Lo pasti tetap ada luka. Karena Lo melepaskan Keen bukan karena sudah tak cinta lagi, tapi semua itu terpaksa hanya demi persahabatan. Lo berharap dengan melepaskan cinta, tali persahabatan akan tetap terjalin. Tapi kenyataan yang terjadi, cinta Lo hilang dan persahabatan usai. Semua di luar dugaan Lo."
"Dim, gue akuin hati ini sakit dan terluka saat melepaskan Keen. Tapi luka yang gue rasakan lebih perih lagi saat Cath memutuskan untuk mengakhiri persahabatan kami."
"Suatu saat Cath pasti akan menyesal karena melepaskan sahabat seperti Lo."
Bie hanya tersenyum getir mendengar ucapan Dimas.
Kehilangan sosok sahabat, bagai kehilangan separuh kaki untuk berjalan. Rasa sesal kehilangan sahabat tidak akan bisa digambarkan dengan apapun.
Bersambung.
Apakah Bie akan jujur pada Dimas tentang kehamilannya? Nantikan terus ya kelanjutan novel ini. Terima kasih.