
Penghulu menyatakan Keen dan Bie telah sah memjadi suami istri. Mendengar ucapan Penghulu, tanpa bisa ditahan lagi air matanya Bie mengalir dari sudut matanya. Keen membawa Bie ke dalam pelukannya.
Salah satu karyawan kantor urusan agama yang ada di dalam ruangan meminta kedua pengantin baru untuk menanda tangani surat nikah.
"Pelukannya dilanjutkan nanti malam aja. Sekarang tanda tangani surat nikah dulu. Biar bisa bebas kemana aja." Canda petugas itu.
Keen melepaskan pelukannya. Tampak wajah Bie makin memerah karena di ledek. Mereka menanda tangani surat nikah.
Setelah selesai dengan urusan surat menyurat dan lainnya mereka kembali. Dimas mengajak makan ke salah satu restoran untuk merayakan pernikahan mereka.
Tadi di Kantor Urusan Agama seorang pemuka agama yang diundang Dimas telah membacakan doa. Bunda dan Bie telah menyiapkan nasi kotak untuk seluruh karyawan sebagai tanda syukur atas pernikahannya.
Sehabis makan, Dimas mengajak Bunda masuk ke mobilnya kembali. Bunda minta tolong di antar pulang ke Panti. Ia membawa Barra sekalian buat nginap. Bunda ingin memberikan waktu buat Bie dan Keenan satu malam ini.
"Bunda pulang dulu. Kamu hati-hati," ucap Bunda sebelum masuk mobil.
"Bunda, biar aja Barra bersama kami. Nanti Barra merepotkan, Bunda."
"Tidak mungkin seorang nenek merasa direpotkan karena kehadiran seorang cucu. Lagi pula di Panti banyak kakaknya yang membantu Bunda menjaga Barra."
"Baiklah, Bunda. Maaf karena merepotkan Bunda."
"Kamu ini, masih aja ngomong merepotkan."
"Bunda ... Dimas, terima kasih banyak. Gue nggak tau harus ngomong apa. Semua yang Lo lakukan buat gue dan Keen itu sangat berarti. Gue hanya bisa mendoakan semoga Lo bertemu wanita yang baik dan sangat Lo cintai. Gue belum bisa membalas semua kebaikan Lo." Bie berkata dengan terbata karena air matanya udah banjir membasahi pipi.
"Bie, gue ikhlas melakukan semua itu tanpa mengharapkan balasan ataupun imbalan. Jadi jangan pernah ucapkan itu lagi. Gue berharap tak ada lagi air mata. Semoga ini awal kebahagiaan Lo."
Bie langsung memeluk Dimas erat. Kembali air matanya tumpah. Keen hanya melihat semua itu dengan perasaan tak menentu. Ia tau Dimas sangat mencintai Bie. Tapi tak mungkin Keen mencemburui Bie, karena ia juga sadar Bie hanya menganggap Dimas sahabat.
Cukup lama Bie memeluk Dimas. Ia melepaskan pelukannya setelah mendengar suara Keen.
"Aku juga berterima kasih banyak atas semua bantuanmu. Aku tak tau apa jadinya jika kamu tak membantu."
Keen menyalami Dimas dan Bunda. Bunda masuk ke mobil Dimas dengan Barra dalam gendongannya yang sedang tertidur lelap.
Dimas menjalankan mobilnya meninggalkan sepasang pengantin baru itu. Ia akan mengantar Bunda hingga ke panti. Jarak tempat tinggal Bie dan Keen ditempuh dalam dua jam perjalanan.
Keen menjalankan mobil dengan senyum yang terus merekah dari bibirnya. Bie melihatnya dengan heran.
"Kenapa kamu senyum-senyum terus."
"Aku bahagia banget, Bie. Sejak kamu memutuskan hubungan kita, tak pernah terpikir jika kita bersama kembali. Apa lagi jika sampai menikah. Tapi ternyata takdir berpihak padaku, ada Barra yang menyatukan kita."
"Bie, aku saat ini telah menjadi suamimu. Tak boleh nyebut kamu-kamu lagi."
"Lalu aku harus manggil apa?"
"Panggil sayang, my husband ,suamiku atau cintaku."
"Geli perutku kalau panggil kamu itu."
"Nanti aku tambah buat geli lagi, awas ya!"
Setengah jam perjalanan, mereka sampai kekontrakan Bie. Ia langsung masuk kamar dan membuka kebaya yang dipakai. Keen masuk kamar dan melihat Bie yang telah membuka kebayanya.
Bie masih belum menyadari jika ada Keen di kamar itu. Ia membuka rok. Hingga yang tersisa hanya pakaian dalamnya. Bie membalikkan badan bermaksud ingin mengambil baju di lemari kaget melihat Keen yang berdiri terpaku memperhatikan dirinya.
"Keen, kenapa kamu masuk ke kamar," ucap Bie menutup dada dengan kedua tangannya.
"Aku ... aku juga ingin ganti pakaian," ucap Keen sedikit gugup.
"Kenapa kamu ganti pakaian di sini," ucap Bie mengambil selimut dan membalut ke tubuhnya.
"Aku akan menginap di sini,Bie. Apa kamu lupa jika kita sudah menikah." Bie memukul jidatnya. Keen melihat itu menjadi gemas. Keen membuka jas dan kemejanya hingga kini dadanya terbuka. Bie menutup mata melihat itu.
Keen mendekati Bie dan memeluknya. Mendorong tubuh Bie hingga berbaring. Keen mengecup dahi Bie lembut hingga beberapa saat.
"Aku mencintaimu, Bie. Lebih dari yang kamu tau. Bagi dunia, kamu mungkin satu orang, tetapi bagi aku, kamu adalah duniaku. Kamu telah mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan, dan ketakutanku dengan cinta. Aku mungkin tidak selalu bersamamu.Tapi saat kita berjauhan, ingatlah kamu akan bersamaku tepat dalam hatikuβ
Keenan berucap dengan menatap mata Bie dari jarak yang begitu dekat, membuat wanita itu terpaku mendengar ucapan cinta darinya.
Bersambung.
******************
Hati Bie dan Keen saat ini pasti sedang berbunga. Hati mama juga sedang banyak bunganya. Lope - Lope sekebon deh buat semua pembaca setia novel ini. ππππππβ€β€. Terima kasih.
Mama mau kenalkan novel my besties nih. Tak kalah seru dengan novel ini. Bisa mampir sambil menunggu novel ini update.