Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 61. Jangan pisahkan aku!



Telah dua hari Keen belum sadarkan diri. Bie setiap hari rela menunggunya walau hanya bisa di luar ruangan.


Bie yang sedang memandangi tubuh Keen dari balik kaca terkejut saat merasakan ada yang memeluknya. Bie membalikkan tubuhnya melihat siapa orang itu. Tangis Bie pecah ketika tahu yang memeluknya, Dimas.


"Dimas ...." ucap Bie memeluknya.


"Maaf, Bie. Gue datangnya telat. Gue kemarin sakit."


"Dim ...."


"Ya, Bie."


"Keen nggak akan pergi,kan? Keen nggak mungkin meninggalkan gue."


"Bie, sabar. Jangan bersedih begini. Keen pasti akan sehat kembali. Ia nggak akan pergi meninggalkan Lo ."


"Dim, Gue lebih baik mati jika Keen nggak juga sadarkan diri. Gue nggak sanggup lagi."


"Jangan bicara begitu, Bie. Lo harus kuat. Kemana Bie yang gue kenal selama ini. Telah banyak cobaan yang selama ini Lo jalani, tapi Lo masih bisa bertahan. Gue harap kali ini Lo juga tabah dan sabar menghadapinya."


Bie masih terus terisak dalam pelukan Dimas. Banyak kata penyemangat Dimas berikan buat wanita yang saat ini masih ada dihatinya.


Hingga saatnya waktu membesuk tiba. Orang tua Keen telah tiba dari setengah jam lalu. Ia mslihat Bie yang nemeluk Dimas.


Dimas yang mengenal kedua orang tua Keen menghampiri dan mengenalkan dirinya. Mendengar nama orang tua Dimas, Papi dan Mami jadi terkejut. Orang tua Dimas adalah sahabat sekaligus rekan kerja Papi Keen.


Bie meminta izin untuk dirinya dan Dimas masuk terlebih dahulu. Sampai dihadapan Keen Bie, mengecup dahi Keen dan mengelus tangannya. Saat ini Keen udah melewati masa kritis walau belum sadar.


"Sayang, aku datang lagi. Aku akan selalu disini menemanimu sayang, karena aku ingin selalu ada untukmu dan ikut merasakan apa yang kamu rasakan, karena kita adalah satu. Kamu adalah aku dan aku adalah kamu. Cepat sembuh ya sayang, ingat hal hal indah yang sudah kita ciptakan…." ucap Bie terbata karena menahan tangis.


"Aku selalu ingin mencium keningmu, Sayang dan berharap semakin sering aku melakukannya akan semakin cepat juga kau sembuh dari sakitmu.Aku butuh pagi setelah gelap hari, aku butuh tempat untuk ku diami. Aku butuh tersenyum setelah bersedih, aku butuh hatimu untuk disayangi. semoga dirimu cepat sembuh sayang…Adakah rasa sedih yang lebih dalam daripada rasa sedih saat kau sakit? Tak ada, sayang, tak ada. Ya, tak ada. Cepatlah sembuh dan akan kujaga kau supaya tidak akan pernah kembali sakit ...." gumam Bie.


Air mata Bie kembali tumpah. Matanya tampak bengkak karena setiap saat hanya menangis. Dimas yang melihat Bie sangat sedih dan rapuh juga ikutan sedih. Dari sudut matanya Bie tampak air yang menganak sungai siap tumpah. Mata Dimas juga tampak berkaca-kaca menahan air mata.


Sepuluh menit di dalam ruangan itu Dimas mengajak Bie keluar. Mereka harus bergantian dengan orang tua Keen.


Kedua orang tua Keen masuk setelah Bie dan Dimas keluar. Lama juga orang tua Keen di dalam ruangan. Dokter yang menangani Keen masuk. Bicara dengan Papi Keen. Entah apa yang mereka katakan.


Dokter dan kedua orang tua Keen keluar dari ruang perawatannya. Papi pergi mengikuti Dokter. Mami duduk di samping Bie.


"Bie, jika Keen belum sadar juga hingga besok, kami sepakat ingin membawanya berobat ke luar negeri," gumam Mami. Bie yang mendengar ucapan mama kaget. Bie berdiri dari duduknya. Tanpa di duga ia bersumpah depan Mami. Dimas dan Mami menjadi heran.


"Bie, kami hanya ingin membawa Keen berobat. Bukan memisahkan."


"Aku tau semua itu demi kebaikan Keen. Tapi pasti Papi juga bermaksud memisahkan aku. Apakah salah jika kami saling mencintai. Jika Papi tidak menyukai, apakah nggak ada perasaan iba melihat anak Keen. Barra cucu kalian. Jangan pisahkan Barra dari Papinya. Aku mohon, aku yakin Keen sembuh." Bie berlutut dan ingin mencium kaki Mami memohon.


Dimas langsung membantu Bie berdiri sebelum wanita itu memohon lagi.


"Kenapa Lo harus menyembah begitu, Bie."


"Gue tak mau pisah dari Keen, Dim. Gue tak mau. Apakah salah jika Gue terlahir miskin. Jika Gue bisa memilih pasti meminta dilahirkan dari keluarga utuh dan kaya. Kenapa orang miskin selalu di pandang hina. Padahal semua itu bukan kemauan mereka, tapi semua itu Takdir dari Tuhan."


"Bie, setelah sembuh nanti Keen akan kami bawa ke sini lagi."


"Nggak, Dim. Gue nggak mau pisah, gue yakin Keen pasti sembuh. Dia janji nggak akan tinggalin Gue."


Bie mengambil ponselnya dan menghubungi Bunda. Bie meminta Barra di bawa ke rumah sakit.


Setengah jam kemudian Bunda datang membawa Barra. Bie menggendongnya, dan meminta izin membawa Barra masuk. Perawat yang berjaga tak mengizinkan karena waktu besuk telah habis. Bie memohon, hanya lima menit aja.


Dimas dan Mami yang melihat itu menjadi kasihan. Mami juga meminta izin pada perawat. Mami yang akan bertanggung jawab jika Dokter marah.


Bie masuk dengan membawa Barra. Bie meletakkan tangan Barra diatas tangan Keen.


"Sayang, aku kembali datang. Kali ini aku membawa Barra. Kamu harus sadar. Aku dan Barra membutuhkan kamu. Sadarlah Sayang. Aku nggak mau pisah ...." Air mata Bie kembali tumpah.


Bie mencium kening Keen dan meminta Barra menciumnya juga. Lalu Bie meletakkan tangan mungil Barra digenggaman Keen. Tanpa di duga semuanya, tangan Keen yang dipegang Barra bergerak. Dimas dan Mami yang melihat dari kaca tersenyum menyaksikan itu.


"Sayang, kamu sadar ...." ucap Bie melihat tangan Keen yang bergerak.


Bersambung


*********************


Apakah Keen benar-benar sadar? Apakah Papi akan tetap membawa Keen pergi berobat ke luar negeri? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.


Jangan lupa mampir ke novel my bestie dibawah ini.