Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 38. Pertemuan ....



Bie meletakkan bayinya ke dalam kereta dorong. Dimas yang mendorong dan Bie berjalan disampingnya.


Jika di lihat mereka seperti satu keluarga yang bahagia. Dimas membawa Bie ke satu toko yang menjual pakaian dan perlengkapan bayi serta anak.


"Kenapa masuk toko ini, Dim."


"Gue mau belikan pakaian dan mainan buat Barra."


"Nggak usah. Barra belum bisa main. Percuma aja dibeli."


"Nggak apa, Bie. Gue udah niat. Kalau dapat untung banyak dari usaha, gue mau belikan Barra pakaian dan mainan."


Mending Lo simpan aja. Bisa untuk mengembangkan usaha Lo nanti."


"Uang yang gue beri untuk Barra tidak mengurangi simpanan gue." Dimas mendorong kereta Barra masuk ke toko itu dan mengambil beberapa pakaian.


Dimas juga membelikan beberapa mainan buat Barra. Setelah melakukan pembayaran, Dimas mengajak Bie ke salah satu restoran.


Dimas memesan semua makanan kesukaan Bie. Ia senang melihat Bie makan dengan lahap.


Walaupun Bie makannya banyak, ia termasuk wanita yang tak mudah gemuk. Badannya akan tetap langsing.


"Gue senang lihat Lo makan lahap gitu."


"Lo mau ngeledek gue rakus ya."


"Siapa yang ngomong gitu? Serius gue senang, biasanya cewek takut makan banyak, takut badannya gemuk."


"Gue jarang makan enak, ngapain gue sia-siakan makanan dengan diet."


"Bie, jangan ngomong gitu. Gue sedih!"


"Emang kenyataan, Dim. Ada nasi dan kecap aja di panti udah syukur. Sebanyak itu yang harus Bunda tanggung. Kami di panti dapat makan dengan lauk ayam dari orang yang lagi hajatan sangat senang banget."


"Lo belum pernah makan apa? Apa yang Lo inginkan? Biar gue beli."


"Sejak gue mengenal Lo dan Cath, gue udah banyak mencoba makanan enak. Begitu juga adik-adik di panti. Setiap pulang dari jalan-jalan Cath selalu belikan makanan." Wajah Bie tampak murung saat menyebut nama Cath.


"Gue kangen banget dengan Cath," ucap Bie dengan air mata yang tumpah.


"Kenapa Lo nangis? Cath belum tentu ingat Lo."


"Cath itu sahabat gue, nggak mungkin gue melupakan. Semua adik-adik di panti juga kangen. Cath mau berbaur dengan kami, walau dia kaya. Apa gue salah merindukan saat-sat seperti dulu lagi?"


"Gue hanya bisa berdoa, suatu saat Cath menyadari kesalahannya dan kembali lagi seperti dulu."


"Apa Cath sehat?"


"Sehat. Tapi kami tidak ada berbincang. Cath sepertinya menghindari gue. Udah jangan nangis. Habiskan makanannya."


"Dim, apa Lo juga akan meninggalkan gue saat Lo kecewa nanti? Apakah Lo akan melupakan gue saat telah menikah nanti?


"Sampai kapanpun gue tak akan pernah melupakan Lo."


"Lo makan lagi. Biar gue tidurkan Barra." Bie mengambil Barra dari pangkuan Dimas.


Ia memberikan susu formula agar Barra terlelap. Setelah tertidur, Barra dimasukkan ke kereta dorongnya.


"Dim, gue titip Barra sebentar."


"Mau kemana?"


"Oh, baiklah. Hati-hati."


Bie berjalan perlahan menuju toilet. Saat berbelok ingin masuk ke toilet, tanpa Bie duga Keenan melihatnya. Ia mengikuti Bie. Keenan menunggu di luar toilet.


Bie yang tak menyadari ada Keenan di luar, berjalan dengan santainya keluar dari ruang kamar mandi itu.


Baru saja kakinya menginjak lantai di luar kamar mandi, tangannya di tarik seseorang.


Bie yang kaget spontan berteriak. Tapi mulutnya dibekap dan ia di tarik menuju tangga darurat.


Bie kaget melihat wajah orang yang menarik tangannya itu. Wajahnya tampak sedikit pucat.


"Apa kabar, Bie," ucap Keen sambil tersenyum.


"Kamu ....?"


"Kenapa, Bie? Kangen?"


"Jika tadi ada orang yang mendengar teriakanku, kamu bisa dihajar."


"Akan aku katakan pada mereka kamu itu kekasihku."


"Mau apa kamu?"


"Aku kangen," ucap Keen dan mendorong tubuh Bie ke dinding. Ia mengukung badan Bie yang mungil. Keen menatap Bie dari jarak yang begitu dekat.


Bie tampak makin ketakutan. Jantungnya berdetak begitu cepat. Ia takut kejadian di Villa saat Keen mengecup bibirnya akan terulang.


Spontan Bie menutup mulutnya saat teringat dengan kejadian itu. Keen tampak tersenyum melihat itu.


"Kamu takut aku menciummu lagi, atau kamu mengharapkan aku akan melakukan itu lagi."


"Jangan macam-macam, Keen."


"Aku hanya ingin satu macam saja. Apa kamu menginginkan itu juga?"


"Lepaskan aku, Keen. Jika Cath melihatnya, bisa salah paham."


"Justru aku ingin ia melihat semua ini."


"Keen, minggirlah!"


"Aku ingin kamu jawab jujur pertanyaanku."


"Apa lagi yang ingin kamu tanyakan?"


"Apa kamu telah memiliki seorang anak. Dimana ia sekarang?"


Mendengar ucapan Keenan, Bie tampak makin gugup. Jantungnya berpacu lebih cepat. Ia belum siap jika hari ini Keenan tau kenyataan tentang semua ini.


Bersambung.


******************


Apakah Bie akan jujur tentang keberadaan Barra? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini setiap harinya.


Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.