Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 43. Keenan dan Dimas.



Malam harinya Dimas menepati janjinya datang ke rumah Bie untuk bermain dengan Barra.


Dimas mengetuk pintu rumah, dan tak lama terdengar langkah kaki. Bie membuka pintu rumah sambil tersenyum.


"Masuklah, Dim."


"Barra mana, Bie," ucap Dimas sambil berjalan masuk.


"Lagi bermain dengan Keen di kamar."


"Keen ada di sini."


"Iya . Dim, gue mau bicara."


"Bicara aja, Bie. Kenapa Lo serius banget."


"Dim ... Keen mengajak aku menikah," ucap Bie dengan lirih. Dimas tampak sedikit kaget mendengarnya.


"Gue rasa itu memang yang terbaik buat Barra. Kapan ...?"


"Besok! Keen ada kenalan yang bisa menikahkan kami secara siri."


"Nikah siri?"


"Ya, sementara Keen meyakinkan orang tuanya dan memutuskan hubungan dengan Cath, kami menikah siri aja."


"Kenapa harus siri,Bie?"


"Gue tak mengerti maksud Lo."


"Bie ... nikah siri itu sangat merugikan bagi perempuan. Pihak perempuan yang dinikahi secara siri biasanya tak memiliki akta perkawinan, sehingga dia dan anaknya akan sulit untuk menuntut apa-apa. Sebab, di mata negara, pernikahan itu tidak diakui. Lebih banyak ruginya untuk perempuan. Pihak wanita bisa ditinggal begitu saja tanpa adanya pembagian harta ketika berpisah."


"Aku tak mengharapkan harta, Dim. Ini semua hanya demi Barra, biar nanti setelah besar tak ada yang menghinanya karena tak memiliki bapak."


"Tapi status Barra juga tidak ada di mata hukum. Karena nikah siri hanya sah secara agama tidak dengan hukum negara kita. Tidak ada surat yang bisa digunakan untuk pencatatan sipil. Mana Keen, biar aku yang bicara dengannya."


"Tapi pada dasarnya Lo setuju jika gue menikah dengan Keen."


Dimas merapatkan duduknya dan menggenggam tangan Bie.


"Bie ... semua yang terbaik untukmu gue pasti akan mendukung. Gue senang jika Lo dan Keen menikah. Lo ada yang melindungi begitu juga Barra. Gue sayang Lo, Bie. Gue hanya ingin melihat Lo tersenyum dan bahagia. Gue tau, hanya Keen yang bisa membuat Lo tersenyum. Jadi tak ada alasan bagi gue untuk melarangnya. Tapi gue ingin yang terbaik buat Lo. Biar gue bicara berdua dengan Keen."


"Gue juga menyayangi Lo. Gue udah anggap Lo seperti saudara sendiri. Makanya gue minta izin. Jika Lo keberatan, gue juga tak akan melangkah."


"Jangan begitu. Tak perlu minta izin gue."


"Gue panggil Keen dulu."


"Boleh gue bicara empat mata saja dengan Keen."


"Tentu saja."


"Semoga ini awal kebahagiaan buat Lo. Gue berharap tak ada lagi air mata yang jatuh membasahi pipi Lo."


"Dimas ...."


"Kok malah nangis."


"Lo baik banget. Di setiap hela nafas, aku selalu berdoa Lo nanti mendapatkan wanita yang baik."


"Aamiin. Terima kasih doanya, Bie."


"Gue panggil Keen dulu."


Bie masuk ke kamar. Tampak Keen yang sedang bercanda dengan Barra. Bocah itu tertawa dengan riang bersama Keen.


"Keen ...." panggil Bie.


"Ya, Bie."


"Ada Dimas di luar, ia ingin bicara berdua denganmu."


"Denganku?"


"Iya. Dimas menunggu di luar."


"Barra memanggil Dimas, Daddy."


"Oh, aku lupa. Aku temui Dimas dulu ya."


Keen keluar dari kamar dan menemui Dimas yang duduk di ruang tamu.


"Selamat malam, Dim. Kata Bie ada yang ingin kamu omongkan."


"Ya, duduklah dulu Keen," ucap Dimas. Keen memilih duduk di samping Dimas.


"Aku dengar kamu mengajak Bie untuk menikah siri."


"Ya ..."


"Kenapa harus menikah siri, Keen."


"Apa maksud kamu?"


"Kenapa nggak nikah secara resmi. Nikah siri itu tidak ada kekuatan. Kamu bukan menyelesaikan masalah jika menikahi Bie secara siri. Karena tidak dapat juga melindungi Bie. Nikah siri tidak memiliki kekuatan hukum."


"Aku tak mungkin menikah resmi. Aku menikahi Bie secara siri hanya menjelang dapat restu dari kedua orang tuaku. Sementara itu aku juga harus memutuskan pertunangan dengan Cath."


"Pria tidak perlu restu dari orang tua untuk menikah. Jika wanita baru penting, sebagai wali nikahnya."


"Nikah secara hukum tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat."


"Dalam waktu seminggu kamu bisa menikah secara resmi jika memiliki berkas yang lengkap. Akan aku bantu kamu."


"Kamu sangat perhatian dengan Bie. Apakah kamu mencintai Bie."


"Untuk apa kamu tanyakan itu?"


"Aku hanya ingin tau. Karena tak ada persahabatan yang murni antara pria dan wanita. Pasti salah satunya akan memiliki perasaan. Terutama sang pria. Karena pria bertindak hanya berdasarkan logika bukan perasaan."


"Aku mencintai Bie tidak dengan egois. Karena aku percaya jika ia memang jodohku, kemanapun aku pergi dan berlari pasti akan bertemu. Jika ia memang bukan jodohku, walaupun aku ikat kuat ia akan lepas juga. Bukankah cinta itu tak harus memiliki."


"Cinta tak harus memiliki,Itu "BOHONG"! Semua orang ingin memiliki bahkan terkadang merasa harus memiliki."


"Cinta itu tak harus memiliki. Cinta itu akan hadir disetiap hati seseorang, sekecil apapun itu. Dan cinta itu sebuah keikhlasan agar orang yang kita cintai merasa bahagia & nyaman walau dia tak memilih kita," ucap Dimas. Ia menarik nafasnya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Jika cinta itu harus memiliki, apa dengan memiliki kamu bisa menerima dia apa adanya? semakin dalam kamu mencari, semakin sakit yang kau torehkan, karena cinta tak bisa dipaksakan."


"Apa kamu tak akan berubah setelah Bie menikah denganku."


"Tentu saja aku akan berubah. Apakah kamu mengizinkan aku tetap dekat seperti dulu? Kamu tak akan cemburuan?" ucap Dimas. Keenan terdiam mendengar ucapan Dimas.


"Persiapkan saja berkas-berkas buat pernikahanmu dan Bie. Akan aku bantu untuk mendaftarkan pada kenalan papaku."


"Terima kasih, Dim."


"Aku ada satu permintaan padamu."


"Apa Dim?"


"Jangan pernah kamu menyakiti hati Bie. Jangan membuat Bie menangis, karena akan sangat lebih menyakitkan ketika ada orang lain yang membantu menghapus air matanya."


"Aku janji tak akan ada satu tetespun air mata yang keluar dari pipinya kecuali air mata bahagia."


"Akan aku pegang janjimu. Orang pertama yang akan menuntut saat kamu membuat Bie menangis adalah aku."


Dimas dan Keen bicara cukup lama. Setelah dirasakan cukup Dimas meminta Bie membawakan Barra keluar. Ia ingin bermain dengannya. Setelah jam sepuluh malam, Keen dan Dimas pamit.


Bersambung.


****************


Terima kasih untuk semua pembaca novel ini. Nantikan terus kelanjutannya. Terima kasih. Lope-lope buat semuanya. ❤💜😍😍😍💜❤


Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.