Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 36. Bie memiliki Anak?



Dimas menarik kerah baju Keen. "Lo akan menyesal setelah tau keadaan Bie saat ini. Lo udah menyiakan Bie dan anak ...."


Ucapan Dimas terhenti karena teman-teman mereka pada berdatangan untuk melerai perkelahian Dimas dan Keenan. Cath berdiri di antara mereka dengan wajah yang tampak sangat kesal.


"Apa mau kalian berdua? Setiap bertemu selalu adu jotos. Apa yang kalian rebut,kan?" ucap Cath.


"Maaf, aku pamit." Dimas berjalan meninggalkan kerumunan.


Cath mendekati Keenan yang memegang rahangnya yang membiru.


"Apa yang kalian pertengkar,kan? Jangan bilang kalau ini gara-gara Bie," ucap Cath emosi.


"Aku mau pulang. Kamu nanti pakai taksi aja," gumam Keen.


"Keen ... kamu sudah mempermalukan aku dengan berkelahi, dan sekarang kamu masih ingin membuat aku malu dengan meninggalkan aku sendirian di pesta ini. Semua tau jika kamu itu tunanganku."


"Lalu aku harus bagaimana? Mengatakan pada semua orang jika aku ini tunanganmu yang selalu setia ada disampingmu dan aku ini tunangan yang selalu siap kapanpun kamu butuhkan."


"Jangan macam-macam, Keen. Selama ini aku diam saja. Tak ada aku mengatakan apapun pada kedua orang tuaku tentang kamu, dan sikapmu selama ini padaku."


"Kalau kamu ingin mengatakan semuanya, aku akan berterima kasih. Mungkin pertunangan kita akan batal."


"Harus berapa kali aku katakan, kamu tak akan pernah bisa lepas dariku. Jika kamu aku tak bahagia dengan pertunangan kita, kamu juga tak akan pernah bahagia."


"Terserah ...." ucap Keen. Ia berjalan meninggalkan Cath seorang diri. Tanpa mereka sadari, banyak mata yang mengawasi mereka sejak tadi.


Keen masuk ke dalam mobil dan mengendarai menuju panti asuhan tempat Bie dulu tinggal. Keen menepikan mobilnya di tepi jalan. Dari dalam mobil ia memperhatikan semua aktifitas di panti.


Keen melihat ada seorang anak yang membuang sampah. Keen keluar dari mobil dan menemui anak laki-laki itu.


"Kak Bie ada."


"Kak Bie? Kak Bie udah lama tak tinggal di panti lagi."


"Dimana kak Bie tinggal saat ini."


"Sejak kak Bie memiliki anak ia pindah ke kontrakan. Aku juga nggak tau alamatnya."


"Memiliki anak ...? Bie punya anak?" ulang Keenan.


Anak laki-laki itu menutup mulutnya. Mungkin baru menyadari ucapannya.


"Maaf bang, aku harus masuk," ucapnya. Ketiak anak itu akan melangkah, Keenan menahannya.


"Katakan dengan jujur. Apa Bie udah menikah?"


"Aku tak tau."


"Tadi kamu mengatakan Bie telah memiliki anak."


"Kak Bie menganggap kami anak panti ini seperti anaknya. Kemarin ada anak kecil baru masuk di sini. Itu yang aku maksud anak kak Bie."


"Oh, baiklah. Terima kasih." Keenan melepaskan tangan anak itu. Secepat kilat anak itu berlari masuk ke dalam panti.


Keenan masuk lagi ke mobil. Di dalam mobil ia termenung. Masih mengingat kata-kata anak laki-laki tadi.


Keenan menarik rambutnya frustrasi. Ia membayangkan sesuatu.


"Apa mungkin Bie hamil anakku? Tapi kamu melakukan hanya malam itu. Kenapa Bie tak mengatakannya jika memang benar ia hamil anakku? Tadi kalau tak salah Dimas juga mengatakan anak," gumam Keenan.


Ia menjalankan mobilnya perlahan. Di tepi jalan yang sunyi Keenan berhenti, ia kembali termenung.


Jika memang Bie mengandung anakku dan menyembunyikan ini dariku, aku tak akan bisa memaafkan kamu, Bie. Aku memang salah tapi tidak dengan darah dagingku. Ia berhak tahu siapa ayah kandungnya. Aku harus mencari tau semua ini.


Sementara itu Cath pulang di antar temannya yang bernama Susan. Ia tak banyak bicara.


"Kamu tau nggak apa yang membuat Dimas dan Keen bertengkar."


"Aku nggak tau dan tak ingin tau," jawab Cath.


"Serius kamu nggak ingin tau. Keen itu tunanganmu loh."


"Emang kenapa aku harus tau."


"Mereka bertengkar setelah Keenan bertanya kabar tentang Bie. Aku sempat mendengarnya."


"Itu bukan aneh, kan? Kami berempat dulu bersahabat. Jadi tak salahnya bertanya kabar."


"Bersahabat dulu. Apa itu artinya saat ini kamu udah tak bersahabat lagi dengan Bie."


"Kamu ingin mengantar aku pulang karena kepo dengan itu."


"Jangan salah Cath. Semua sekolah juga tau dulu kamu dan Bie sangat dekat. Tapi kemana ia sekarang aja kamu tak tau. Ia tak jadi melanjutkan kuliah, kamu juga tak tau. Apa kau salah jika menyimpulkan kamu dan Bie ada sedikit masalah."


"Aku tak tahu kabarnya karena aku kuliah di luar."


"Hello, Cath. Ini bukan zaman batu. Komunikasi udah canggih."


Tak terasa mobil yang ditumpangi Cath telah sampai di depan rumahnya. Cath cepat keluar dari mobil.


"Terima kasih," ucap Cath dan berjalan dengan cepat masuk ke pekarangan rumahnya.


"Kamu saja yang pura-pura bodoh, Cath. Semua juga tau jika Keen dan Bie itu ada hubungan," batin Susan.


Cath masuk ke kamar dengan marah. Ia lalu melempar tas dan sepatunya kesembarangan arah.


Kamu masih saja mengingat Bie. Apa kurangnya aku, Keen. Aku telah berusaha menjadi yang terbaik. Aku tak pernah menuntut kamu. Aku menerima kamu apa adanya. Tak bisakah kamu membuka hatimu sedikit saja.


Bersambung


******************


Apakah Keenan akan tahu keberadaan Bie dan Barra putranya. Nantikan terus kelanjutan novel ini.


Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.